Ulasan Film: Crazy Rich Asians (2018)

Rombongan Crazy Rich Asians akhirnya sampai juga di Indonesia. Film yang diadaptasi dari novel karya Kevin Kwan itu sebenarnya sudah dirilis di Amerika Utara. Bulan Agustus yang lalu. Dan mendapat banyak pujian. Para kritikus menilai film ini lebih dari sekadar bagus.

Crazy Rich Asians memang berhasil menggebrak Amerika. Film ini mencetak rekor: Sebagai film pertama produksi studio besar Hollywood, sejak The Joy Luck Club (1993), yang semua kru dan pemainnya keturunan Asia! Sudah menjadi rahasia umum. Bagi para aktor keturunan Asia, mendapatkan peran utama di Hollywood itu sulit. Hal tersebut berhasil dipatahkan oleh Crazy Rich Asians.

Sesuai dengan novelnya, yang terbit pada 2013, Crazy Rich Asians mengisahkan hubungan asmara. Antara Nicholas “Nick” Young (Henry Golding) dan Rachel Chu (Constance Wu). Mereka berdua adalah profesor. Di bidang ekonomi. Yang mengajar di kampus yang sama: New York University.

Nick sendiri merupakan anak salah satu keluarga terkaya. Dari Singapura. Dan, so pasti, menjadi pewaris kekayaan keluarganya. Sementara itu, Rachel berasal dari Cupertino, California. Dia dibesarkan oleh ibunya. Yang berasal dari keluarga biasa-biasa saja.

Rachel baru mengetahui fakta, bahwa keluarga Young adalah konglomerat nomor satu di Singapura, saat Nick mengajaknya ke pesta pernikahan sahabatnya: Colin Khoo (Chris Pang). Saat liburan musim panas. Di kampung halamannya tersebut, Nick juga mengenalkan Rachel kepada seluruh keluarganya.

Yang menjadi masalah, nyokap Nick, Eleanor Young (Michelle Yeoh), ternyata, tidak menyetujui hubungan anaknya dengan Rachel. Dia ingin Nick kawin dengan cewek yang berasal dari keluarga kaya raya. Karena Eleanor sangat terobsesi dengan harta dan takhta. Bisa dibilang, dia menjadi musuh utama Rachel di film ini. Dengan sikapnya yang dingin, tatapan matanya yang sinis, dan kata-katanya yang menusuk hati.

Rachel sendiri bukanlah sosok Cinderella. Yang hanya bisa pasrah ketika disiksa. Secara intelektual, dia adalah perempuan hebat. Seorang profesor ekonomi. Dari New York University. Meski demikian, tetap saja, dia dipandang sebelah mata. Oleh sebagian besar keluarga Nick. Yang old money oriented itu.

Bagi orang biasa, menjalin cinta mungkin bukan perkara yang sulit. Tapi, tidak demikian bagi Rachel. Karena pacarnya adalah Nick Young. Putra mahkota dari keluarga superkaya di Singapura. Masuk ke kehidupan jetset mereka memang bukan hal yang mudah.

Alur cerita dari Crazy Rich Asians memang terdengar cukup klasik. Mudah ditebak. Dan sudah umum. Fans telenovela dan drama Korea mungkin sudah terbiasa. Dengan cerita semacam ini. Ketika cowok tajir jatuh cinta pada cewek biasa. Namun, sutradara Jon M. Chu berhasil menyajikannya dengan sangat menarik. Melalui detail cerita yang lebih kompleks.

Hubungan antara orang tua dan anak menjadi fokus di film drama komedi ini. Jalinan kasih antara Nick dan Rachel, dikisahkan, nyaris berantakan di tengah jalan (seperti hubungan aku dan kamu *kraiii*). Bukan gara-gara orang ketiga. Tapi karena nyokap Nick, alias Nyonya Young, yang terlalu kaku. Dan perfeksionis tadi.

Selain itu, film ini juga menawarkan pengalaman baru: Kita bisa melihat serba-serbi kehidupan orang-orang kaya di Asia. Siapa yang tidak penasaran dengan kehidupan mereka? Crazy Rich Asians menjawab rasa penasaran tersebut.

Side story itulah yang ikut memperkaya film ini. Mulai dari pesta pertunangan di puncak Marina Bay Sands Hotel, pesta bujang di sebuah kapal pesiar mewah, hingga pesta pernikahan megah senilai puluhan juta dollar Amerika. Visualisasinya sangat indah. Berwarna. Dan memanjakan mata. Film ini terasa seperti dongeng pada abad ke-21.

Oleh karena itu, Crazy Rich Asians berhasil mendapat banyak pujian. Melalui film rilisan Warner Bros. Pictures ini, para penonton awam diajak untuk mempelajari budaya dan kehidupan orang-orang di Asia. Bahkan, di Amerika, film ini menjadi penyegar. Di tengah isu imigran yang sedang panas. Gara-gara kebijakan kontroversial Presiden Donald Trump.

Para kritikus yakin, Crazy Rich Asians bakal menjadi pionir. Bagi kemunculan film-film serupa di Amerika. Setiap detailnya dianggap menarik. Karena berhasil menyajikan karakter asal Asia, yang tidak hanya memorable, tetapi juga multidimensional.

Penampilan apik para pemainnya, yang full Asia, ikut mendukung kesuksesan Crazy Rich Asians. Mulai dari Henry Golding, Constance Wu, Michelle Yeoh, Gemma Chan, hingga Awkwafina. Yang memerankan Goh Peik Lin. Sahabat Rachel semasa kuliah. Yang juga superkaya itu.

Meski tingginya hanya 1,54 meter, dan bukan pemeran utama, Awkwafina memang dinilai sukses mencuri perhatian. Pemilik nama asli Nora Lum itu berhasil menampilkan sosok yang menyenangkan. Ramah. Dan ceplas-ceplos.

Kalaupun tidak tertawa, para penonton pasti akan dibuat tersenyum. Oleh tingkah kocak Awkwafina. Yang akhirnya membuat film ini terasa makin fresh. Dan berhasil memenuhi harapan penonton. Untuk sebuah film komedi romantis yang berkualitas.

Menurut sutradara Jon M. Chu, aktris yang juga rapper itu memang sangat pas memerankan Goh Peik Lin. Dalam sebuah film komedi romantis, dibutuhkan sosok yang percaya diri dan beda. Untuk membangun mood ceria. Awkwafina sukses menjalankan tugas tersebut. Dan menjadi scene stealer di Crazy Rich Asians.

Awkwafina sendiri mengakui, Goh Peik Lin adalah tokoh favoritnya di novel. Saat menjalani casting, peran itulah yang paling dia incar. Oleh karena itu, dia sangat terkejut. Ketika akhirnya terpilih untuk memerankan karakter tersebut.

Sementara itu, bagi Henry Golding, Crazy Rich Asians adalah film Hollywood pertamanya. Selama ini, pemeran Nick Young itu dikenal sebagai pembawa acara jalan-jalan di BBC dan Discovery Channel. Meski statusnya kini adalah “new kid on the block”, Golding sudah layak menjadi idola. Bahkan, USA Today langsung menobatkannya sebagai Hollywood’s Heartthrob-to-be. Alias Calon Pencuri Hati Baru.

Golding mengakui, menjadi aktor keturunan Asia di Hollywood bukan hal yang mudah. Sulit untuk mendapatkan peran utama. Bahkan, dia mengaku kerap di-bully karena asal-usulnya. Meski demikian, mantan penata rambut tersebut menegaskan tetap bangga menjadi dirinya sendiri. Apa pun kata orang.

Meski namanya bule banget, Golding memang masih keturunan suku Dayak Iban. Dari Serawak, Malaysia. Bahkan, dia dibesarkan di Terengganu. Hingga berusia tujuh tahun. Sebelum akhirnya pindah ke Inggris.

Penampilan Golding, bisa dibilang, sangat menawan. Hampir di sepanjang film Crazy Rich Asians, kita disuguhi sikap Nick, karakter yang dia perankan, yang sangat romantis terhadap Rachel. Hal ini berpotensi membuat penonton, terutama wanita, ikut baper. Dan jatuh cinta. Meski karakter pria sesempurna Nick, sepertinya, sulit kita temui di dunia nyata. Hanya ada di film-film saja. Hehe..

Bagi yang sudah terlanjur jatuh cinta, maaf. Golding sudah menikah. Pada Agustus 2016. Dengan Liv Lo. Seorang presenter televisi. Dan instruktur yoga. Keturunan Italia-Taiwan. Tahun ini, selain membintangi Crazy Rich Asians, Golding juga bermain di A Simple Favor. Dia berperan sebagai suami Blake Lively. Di film yang bakal dirilis pada akhir pekan ini tersebut.

Sementara itu, lawan main Golding di Crazy Rich Asians adalah Constance Wu. Seorang aktris keturunan Taiwan. Namun, sejak kecil sudah tinggal di Amerika. Dan merupakan generasi ketiga dari keluarganya yang tinggal di sana.

Constance Wu mengawali karir di dunia hiburan pada 2006. Tahun 2017 yang lalu, namanya melejit. Setelah masuk daftar seratus orang paling berpengaruh di dunia. Versi majalah Time. Yang tersohor itu.

Di lain pihak, Michelle Yeoh, tentu saja, sudah sangat dikenal oleh para moviemania. Nama aktris berusia 56 tahun asal Malaysia itu memang sudah mendunia. Lewat aktingnya di film-film Hollywood. Seperti Tomorrow Never Dies (1997), Crouching Tiger, Hidden Dragon (2000), The Lady (2011), dll.

Dengan sederet bintang Asia di atas, penggarapan film Crazy Rich Asians pun menjadi lebih mulus. Apalagi, ceritanya diakui oleh sutradara Jon M. Chu mirip dengan kisah pribadinya. Yang merupakan keturunan imigran asal Asia di Amerika.

Namun, di balik itu semua, ada satu kesulitan yang dihadapi oleh Chu. Novel Crazy Rich Asians karya Kevin Kwan ini cukup kompleks. Banyak karakter yang cukup kuat. Yang menjadi favorit para pembaca. Tentu saja, semua harus mendapat porsi yang seimbang di dalam film.

Tantangan lainnya, budaya Asia harus diperkenalkan. Agar film ini lebih mudah dicerna oleh para penonton non-Asia. Akibatnya, ada beberapa adegan yang harus dihapus. Karena Chu harus memasukkan beberapa detail. Tentang budaya Asia tersebut.

Salah satu yang menjadi korban penghapusan adalah adegan yang melibatkan Astrid (Gemma Chan). Karakter sepupu Nick. Yang superglamour. Dan dicintai oleh para pembaca itu. Tentu saja, hal ini bakal mengecewakan beberapa fans novel Crazy Rich Asians.

Namun, berbagai tantangan tadi, akhirnya, bisa dilewati. Semua upaya Chu berbuah manis. Pada pekan perdana penayangannya di Amerika, Crazy Rich Asians berhasil mencetak sejarah. Sebagai film komedi-romantis pertama. Dengan pendapatan tertinggi (USD 26,5 juta). Sejak Trainwreck (2015).

Hingga kini, Crazy Rich Asians sudah meraup pemasukan USD 145 juta. Secara global. Dan menjadi film komedi berpendapatan tertinggi tahun ini. Mengalahkan Game Night. Yang hanya mampu mengumpulkan USD 117 juta di box office.

Demografi penontonnya juga sangat lebar. Bukan hanya dari kalangan Asia-Amerika. Tetapi juga dari Kaukasia, Hispanik, dan Afrika-Amerika. Menurut Henry Golding, ini adalah perubahan nyata di Hollywood. Meski seluruh pemainnya keturunan Asia, film ini mampu merangkul semua kalangan penonton. Semua lapisan masyarakat ikut menikmati pengalaman sinematik ini.

Crazy Rich Asians akhirnya juga diakui oleh para kritikus. Sebagai produk film yang sangat bergaung di semua golongan pemirsa. Karena bukan hanya orang Asia yang datang menonton. Tapi, dari berbagai latar belakang. Dan mereka semua menyukainya. Film ini telah menjadi fenomena. Dengan menyajikan tema budaya yang fresh dan nyata.

Sutradara Jon M. Chu menegaskan, kehadiran Crazy Rich Asians berdampak baik buat masa depan film Hollywood. Terbukti, para penonton bisa menerima film dengan pemain non-kulit putih. Mereka bisa menerima perspektif baru.

Menyusul kesuksesan tersebut, Warner Bros. Pictures pun berencana untuk membuat sekuelnya. Sesuai dengan novelnya. Yang merupakan sebuah trilogi. Setelah Crazy Rich Asians (2013), ada China Rich Girlfriend (2015) dan Rich People Problems (2017). Siap-siap saja menunggu dua film lanjutannya, Bossku..

***

Crazy Rich Asians

Sutradara: Jon M. Chu
Produser: Nina Jacobson, Brad Simpson, John Penotti
Penulis Skenario: Peter Chiarelli, Adele Lim
Berdasarkan: Crazy Rich Asians by Kevin Kwan
Pemain: Constance Wu, Henry Golding, Gemma Chan, Awkwafina, Nico Santos, Lisa Lu, Ken Jeong, Michelle Yeoh
Musik: Brian Tyler
Sinematografi: Vanja Cernjul
Penyunting: Myron Kerstein
Produksi: SK Global Entertainment, Starlight Culture Entertainment, Color Force, Ivanhoe Pictures, Electric Somewhere
Distributor: Warner Bros. Pictures
Durasi: 121 menit
Genre: Comedy
Kategori Usia: PG-13 (13+)
Budget: USD 30 juta
Rilis: 7 Agustus 2018 (TCL Chinese Theatre), 15 Agustus 2018 (Amerika Serikat), 11 September 2018 (Indonesia)

Rating (hingga 8 September 2018)
IMDb: 7,6/10
Rotten Tomatoes: 93%
Metacritic: 74/100
CinemaScore: A

***

Edwin Dianto
Pekerja Teks Komersial, Baper Blogger & Writer
E-mail: edwindianto@gmail.com
Blog: edwindianto.wordpress.com
Follow Twitter & Instagram @edwindianto untuk info film-film terbaru.

Advertisements
Ulasan Film: Crazy Rich Asians (2018)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s