Ulasan Film: Peppermint (2018)

Nama Jennifer Garner mulai terkenal setelah memerankan Elektra Natchios. Dalam film superhero Marvel: Daredevil (2003). Karakternya sebagai jagoan cewek cukup menyita perhatian. Bahkan, lebih memukau dari karakter superhero utamanya. Yang dibintangi oleh Ben Affleck.

Tak heran, Elektra akhirnya dibuatkan film sendiri. Spin-off dari Daredevil. Yang dirilis pada 2005. Yang tercatat sebagai film solo superhero cewek pertama. Setelah Supergirl (1984) dan Catwoman (2004). Jauh sebelum Wonder Woman (2017) dan Captain Marvel (2019). Ataupun Black Widow. Yang hingga kini belum diproduksi.

Lewat perannya sebagai Elektra itu pula, Jennifer Garner terjerat cinlok, alias cinta lokasi. Dengan sang Daredevil: Ben Affleck. Padahal, saat itu, statusnya adalah istri sah dari Scott Foley. Suami yang dia nikahi sejak tahun 2000.

Setelah bercerai dari Foley pada 2004, Garner kemudian langsung kawin lagi. Dengan Affleck. Pada 2005. Sayangnya, setelah 13 tahun berjalan, biduk rumah tangganya yang kedua juga kandas. Mereka resmi berpisah tahun ini.

Puncak karir Jennifer Garner, sejatinya, bukan di layar lebar. Melainkan, di televisi. Tepatnya, lewat serial Alias. Yang mengudara sejak 2001 hingga 2006. Perannya sebagai Sydney Bristow, dalam serial laga yang diproduseri oleh J.J. Abrams itu, sangat disukai oleh para penonton.

Sejak pensiun dari Alias, Garner seakan menghilang dari film action. Yang dulu membesarkan namanya. Emak-emak sexy, beranak tiga, yang kini berusia 46 tahun itu lebih banyak membintangi genre drama dan komedi.

Tahun ini, Garner mengobati kerinduan para fans. Dengan membintangi film laga. Yang menampilkan jagoan cewek. Yang kuat dan badass. Berjudul Peppermint. Yang saat ini sedang tayang di bioskop-bioskop Cinema 21 Indonesia.

Kisahnya berfokus pada aksi balas dendam Riley North (Jennifer Garner). Seorang emak-emak muda biasa. Dari keluarga kelas menengah. Yang awalnya bekerja sebagai banker. Di Los Angeles.

Riley tinggal bersama suaminya: Chris (Jeff Hephner). Dan putri semata wayangnya: Carly (Cailey Fleming). Kehidupan keluarga kecil tersebut sangat bahagia. Hingga akhirnya, mereka menjadi korban penembakan boss narkoba. Di sebuah taman bermain.

Untungnya, meski terluka parah, nyawa Riley berhasil diselamatkan. Tapi, setelah sadar dari koma yang cukup panjang, dia harus mendapati kenyataan pahit. Sangat pahit. Suami dan putri kesayangannya tewas. Akibat insiden penembakan tersebut.

Yang membuat Riley geram, para pelaku penembakan ternyata dibebaskan. Karena ketidakadilan sistem hukum. Tidak lama setelah itu, Riley tiba-tiba menghilang. Dan baru muncul kembali lima tahun kemudian.

Tapi, kali ini, sosoknya sudah berubah. Bukan lagi emak-emak yang lemah. Riley sudah menjadi vigilante yang tangguh. Seorang mesin pembunuh. Yang diam-diam memburu, dan menghabisi, seluruh jaringan boss narkoba. Yang dulu terlibat dalam kematian suami dan anaknya.

Jika dilihat dari plotnya, film Peppermint ini memang mirip dengan The Punisher. Sosok superhero Marvel. Yang awalnya adalah polisi. Tapi berubah menjadi vigilante. Yang superbrutal. Setelah boss mafia membantai seluruh keluarganya.

Secara visual, ada juga yang menganggap Peppermint mirip dengan John Wick-nya Keanu Reeves. Tapi, ini versi cewek. Selama 102 menit, para penonton bakal disuguhi aksi heroik Jennifer Garner. Yang menghabisi lawan-lawannya. Tanpa ampun. Dengan taktik gerilya.

Bagi yang kangen dengan aksi Garner, film besutan Pierre Morel ini mungkin cukup memuaskan. Dan cukup menarik bagi para penggemar film laga. Apalagi, penampilan Garner di sini juga dipuji cukup apik. Baik secara fisik maupun emosional.

Namun, sayangnya, dari segi cerita, plot yang skenarionya ditulis oleh Chad St. John ini dinilai cukup membosankan. Banyak aspek menarik yang tidak ditampilkan. Misalnya, transformasi Riley dari emak-emak biasa menjadi pembunuh berbahaya. Akibatnya, ada bagian penting yang terasa hilang.

Ada yang menilai, garingnya kisah Peppermint disebabkan oleh sutradara dan penulis skenarionya yang diduduki oleh cowok. Ini adalah film tentang cewek. Yang berusaha menunjukkan kesetaraan gender. Mungkin, akan lebih mengena jika yang menggarap, atau yang menulis kisahnya, juga seorang wanita.

***

Peppermint

Sutradara: Pierre Morel
Produser: Gary Lucchesi, Tom Rosenberg, Richard S. Wright
Penulis Skenario: Chad St. John
Pemain: Jennifer Garner, John Ortiz, John Gallagher Jr., Juan Pablo Raba, Tyson Ritter
Musik: Simon Franglen
Sinematografi: David Lanzenberg
Penyunting: Frédéric Thoraval
Produksi: Lakeshore Entertainment
Distributor: STXfilms
Durasi: 102 menit
Genre: Action & Adventure, Mystery & Suspense
Kategori Usia: R (17+)
Budget: USD 25 juta
Rilis: 7 September 2018 (Amerika Serikat), 18 September 2018 (Indonesia)

Rating (hingga 30 September 2018)
IMDb: 6,6/10
Rotten Tomatoes: 10%
Metacritic: 29/100
CinemaScore: B+

***

Edwin Dianto
Pekerja Teks Komersial, Baper Blogger & Writer
E-mail: edwindianto@gmail.com
Blog: edwindianto.wordpress.com
Follow Twitter & Instagram @edwindianto untuk info film-film terbaru.

Advertisements
Ulasan Film: Peppermint (2018)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s