Ulasan Film: Venom (2018)

Venom, awalnya, adalah musuh Spider-Man. Muncul pertama kali di komik Marvel. The Amazing Spider-Man No. 252. Terbitan tahun 1984. Sejatinya, Venom merupakan simbiotik dari luar angkasa. Yang mampu memanipulasi dan menyerap informasi genetis inangnya.

Semula, Venom nyasar ke sini setelah “menumpang” meteor yang jatuh ke Bumi. Lalu, dia menempel pada tubuh Spider-Man. Oleh karena itu, Venom akhirnya memiliki kemampuan yang semula hanya dimiliki oleh si Manusia Laba-Laba tersebut. Seperti menempel dan merayap di dinding, mengeluarkan jaring, serta memiliki kekuatan dan kelincahan melebihi manusia biasa.

Setelah lepas dari Peter Parker, alias Spider-Man, Venom menjadi “terkenal” sejak menguasai tubuh Eddie Brock. Rekan sekantor Peter. Yang juga berprofesi sebagai jurnalis foto. Selain itu, symbiote tersebut juga pernah merasuki tubuh Mac Gargan, alias The Scorpion, dan teman sekolah Peter: Flash Thompson.

Di layar lebar, Venom pertama kali muncul di film Spider-Man 3 (2007)-nya Tobey Maguire. Kala itu, setelah lepas dari Peter Parker, dia juga mengakuisisi tubuh Eddie Brock. Fotografer nyebelin. Yang diperankan oleh Topher Grace.

Semenjak kemunculannya yang pertama di film live-action tersebut, rumor mengenai proyek film solo Venom terus bergulir. Yang akhirnya terealisasi tahun ini. Dengan bintang utamanya aktor pujaan emak-emak: Tom Hardy.

Dari final trailer yang dirilis pada akhir bulan Juli yang lalu, tampak Eddie Brock (Tom Hardy), jurnalis dari Daily Bugle, sedang melakukan investigasi terhadap Life Foundation. Sebuah yayasan yang dicurigai sedang melakukan eksperimen ilegal. Yang melibatkan symbiote dari luar angkasa.

Adalah Dr. Carlton Drake (Riz Ahmed), ilmuwan yang menguji interaksi symbiote misterius tersebut dengan manusia. Misinya adalah menciptakan makhluk dengan kekuatan super.

Dalam komik Marvel, Venom: Lethal Protector, Life Foundation dikisahkan berhasil membuat lima prajurit super. Sementara itu, trailer tadi hanya menampilkan dua makhluk symbiote di dalam tabung. Hingga kini, belum diketahui apakah lima symbiote tersebut bakal muncul atau tidak.

Oke. Kembali ke Eddie Brock. Saat sedang melakukan investigasi di Life Foundation itulah, dia diserang oleh makhluk yang menjadi subjek eksperimen. Beberapa sumber meyakini, makhluk yang menyerang Brock adalah Scream. Satu di antara lima symbiote. Yang diciptakan oleh Dr. Carlton Drake.

Setelah terinfeksi oleh symbiote alien tersebut, fisik Brock perlahan-lahan mengalami perubahan. Mulai dari mendengar suara-suara aneh di kepala, mata menjadi gelap, hingga akhirnya, seluruh tubuhnya berubah menjadi Venom. Si Monster Hitam Legam.

Meski awalnya menolak, Brock dan symbiote tersebut akhirnya bisa bersatu. Kalimat “We are Venom” menjadi pembuka trailer yang dirilis beberapa waktu yang lalu. Tampak juga adegan ketika Venom menangkap seorang perampok di minimarket. Lalu, dia melahapnya sebagai kudapan!

Adegan brutal tadi menunjukkan bahwa Venom bukanlah superhero. Sesuai dengan tagline film ini: “The world has enough superheroes.” Meski demikian, Venom juga bukan villain seperti di film Spider-Man 3. Di sini, Venom adalah the real antihero. Semacam Deadpool di X-Men Universe.

Setelah melihat trailer-nya, banyak fans yang mengira bahwa Venom bakal diberi rating R (17+). Seperti Logan (2017) dan Deadpool (2016). Namun, akhirnya, film ini diberi rating PG-13 (13+). Yang artinya lebih ramah anak. Bisa ditonton oleh para ababil berusia 13 tahun ke atas.

Menurut sutradara Ruben Fleischer, film garapannya ini memang tidak seperti film Marvel yang lain. Tidak ada sosok pahlawan super di sini. Karakter Venom dia tampilkan lebih berani, lebih membumi, tapi sekaligus rumit dan kejam.

Tom Hardy, selaku aktor utama, mengaku excited dengan perannya sebagai musuh Spider-Man tersebut. Dia sangat menikmati berperan sebagai antihero.

Awalnya, Tom Hardy mau menerima peran sebagai Venom karena putranya: Louis Thomas Hardy. Dia ingin main di film yang bisa ditonton oleh anaknya. Bahkan, Louis sempat membantu dan mengarahkan Hardy cara memerankan Venom dengan benar. Karena Hardy tidak begitu mengenal karakter itu sebelumnya.

Selain putranya, Hardy mengaku ada tiga orang yang menjadi inspirasinya dalam memerankan Venom. Yaitu: Woody Allen yang menurutnya sangat humoris, petarung MMA Conor McGregor, dan rapper Redman.

Sebagai pendamping Tom Hardy, sutradara Ruben Fleischer memasang aktris cantik Michelle Williams. Yang berperan sebagai Anne Weying. Pacar Eddie Brock.

Venom pun tercatat sebagai film adaptasi komik pertama yang dibintangi Michelle Williams. Dia mengakui, keterlibatan Tom Hardy menjadi faktor penentu keputusannya bermain di sini. Williams juga memuji lawan mainnya tersebut sangat berbakat dan berkomitmen.

Yang menarik, selain Eddie Brock dan Anne Weying, di trailer juga muncul sosok Riot. Musuh utama Venom. Menurut Fleischer, Riot merupakan satu di antara lima symbiote ciptaan Dr. Drake di Life Foundation.

Seperti halnya Venom dan symbiote lainnya, Riot juga bersifat parasit. Mampu berpindah dari satu inang ke inang yang lain. Dengan cepat. Kita tidak akan pernah tahu dari mana dia bakal muncul.

Meski demikian, Riot juga memiliki kelemahan. Dia tidak mampu bertahan hidup dalam jangka waktu yang lama. Jika terpisah dari inangnya. Oleh karena itu, Riot sangat bergantung pada manusia sebagai inangnya. Selain itu, dia juga rentan terhadap senjata api dan sonik.

Karakter Riot sendiri pertama kali muncul di komik Marvel. Venom: Lethal Protector No. 4. Terbitan tahun 1993. Dikisahkan, sebagian besar hidupnya terikat dengan inang bernama Trevor Cole. Seorang petugas keamanan di Life Foundation.

Bentuk Riot digambarkan lebih besar daripada Venom. Bahkan, dia merupakan symbiote yang ukuran anunya, eh fisiknya, paling besar. Warnanya abu-abu.

Seperti halnya Venom, Riot juga mempunyai ketahanan, stamina, dan kekuatan superhuman. Kecepatannya jauh melebihi kecepatan manusia biasa. Riot juga bisa berkamuflase, merayap di dinding, serta memiliki imunitas terhadap spider-sense milik Spider-Man.

Yang paling menarik, Riot mampu menyembuhkan dirinya sendiri, alias memulihkan tubuhnya dari luka, dan membentuknya kembali. Menjadi berbagai macam senjata. Misalnya, sulur berbentuk sebilah pedang panjang yang mematikan!

Dari trailer, tampak satu adegan ketika Riot merasuki tubuh salah seorang staff Life Foundation. Dia kemudian berubah menjadi monster. Mirip Venom. Tapi, warnanya abu-abu. Dengan dua lengan berbentuk kapak. Jika berdasarkan versi komik, symbiote dengan penampakan seperti itu seharusnya adalah Phage. Bukan Riot.

Lantas, siapa yang sebenarnya dirasuki oleh Riot di versi film rilisan Sony Pictures ini? Dari bagian akhir trailer, tampak Venom head-to-head dengan Riot. Mereka kemudian saling membuka topeng. Dan, tampaklah wajah masing-masing: Eddie Brock dan Dr. Carlton Drake!

Sebelum tayang secara secara global pada hari Jumat (5/10), Venom sudah lebih dahulu diputar secara terbatas. Saat gala premiere. Di Los Angeles. Pada hari Senin (1/10) kemarin. Sejauh ini, belum diketahui bagaimana respon dari para kritikus. Karena review Venom memang tidak boleh dipublikasikan. Hingga hari Selasa (2/10) malam waktu setempat.

Namun, ada bocoran dari beberapa kritikus yang menghadiri premiere tersebut. Ada yang memuji. Tapi, ada juga yang blak-blakan menyebutnya jelek. Menurut mereka, Venom telah gagal menyaingi kualitas film-film superhero Marvel lainnya.

Sebaliknya, beberapa kritikus yang memuji rata-rata menyukai performa Tom Hardy sebagai Venom. Menurut mereka, penampilan bintang Mad Max: Fury Road (2015) tersebut cukup menarik. Tidak membosankan. Levelnya setara dengan Johnny Depp. Saat pertama kali main di franchise Pirates of the Caribbean.

So, meski nanti respon dari para kritikus kurang memuaskan, tampaknya, bakal tetap banyak yang menonton Venom. Demi melihat akting Tom Hardy. Jika film berbujet USD 100 juta ini sukses, kabarnya, Sony Pictures sudah menyiapkan dua sekuelnya. Bahkan, Tom Hardy mengaku sudah dikontrak untuk bermain di tiga film Venom. Ini baru film yang pertama.

Yang menarik, Sony juga menyiapkan crossover. Antara Venom dan Spider-Man. Karena mereka memang berada dalam satu universe yang sama. Hanya saja, Spider-Man yang bakal tampil di sini tidak ada hubungannya dengan Avengers-nya Marvel Cinematic Universe. Meskipun, pemerannya, mungkin, sama-sama Tom Holland. Kita tunggu saja realisasinya.

***

Venom

Sutradara: Ruben Fleischer
Produser: Avi Arad, Matt Tolmach, Amy Pascal
Penulis Skenario: Jeff Pinkner, Scott Rosenberg, Kelly Marcel
Pengarang Cerita: Jeff Pinkner, Scott Rosenberg
Berdasarkan: Venom by David Michelinie, Todd McFarlane
Pemain: Tom Hardy, Michelle Williams, Riz Ahmed, Scott Haze, Reid Scott
Musik: Ludwig Göransson
Sinematografi: Matthew Libatique
Penyunting: Maryann Brandon, Alan Baumgarten
Produksi: Columbia Pictures, Marvel Entertainment, Tencent Pictures, Arad Productions, Matt Tolmach Productions, Pascal Pictures
Distributor: Sony Pictures Releasing
Durasi: 112 menit
Genre: Action & Adventure, Drama, Science Fiction & Fantasy
Kategori Usia: PG-13 (13+)
Budget: USD 100 juta
Rilis: 1 Oktober 2018 (Regency Village Theatre), 3 Oktober 2018 (Indonesia), 5 Oktober 2018 (Amerika Serikat)

Rating (hingga 2 Oktober 2018)
IMDb: –
Rotten Tomatoes: –
Metacritic: –
CinemaScore: –

***

Edwin Dianto
Pekerja Teks Komersial, Baper Blogger & Writer
E-mail: edwindianto@gmail.com
Blog: edwindianto.wordpress.com
Follow Twitter & Instagram @edwindianto untuk info film-film terbaru.

Advertisements
Ulasan Film: Venom (2018)

2 thoughts on “Ulasan Film: Venom (2018)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s