Ulasan Film: The Nutcracker and the Four Realms (2018)

Disney kembali merilis film fantasi. Yang menjadi spesialisasi mereka selama ini. Yaitu, The Nutcracker and the Four Realms. Yang diadaptasi dari sebuah cerita pendek klasik. Berjudul The Nutcracker and the Mouse King. Karya pengarang Jerman, E. T. A. Hoffmann. Terbitan tahun 1816.

Cerpen The Nutcracker tersebut menjadi terkenal. Setelah diadaptasi menjadi sebuah pertunjukan ballet. Oleh koreografer Marius Petipa. Pada 1892. Yang hingga kini masih sering dipentaskan. Di seluruh dunia. Terutama, di Rusia. Pada musim perayaan Natal.

Sementara itu, kisah film The Nutcracker produksi Disney ini bakal berfokus pada petualangan Clara Stahlbaum (Mackenzie Foy). Seorang gadis berusia 14 tahun. Yang hidup di Inggris. Pada zaman pemerintahan Ratu Victoria (1837-1901).

Kala itu, Clara sedang sibuk mencari sebuah kunci. Untuk membuka hadiah Natal. Dari mendiang ibunya, Marie (Anna Madeley). Berupa kotak musik. Berbentuk telur. Yang berisi rahasia. Yang tak ternilai harganya.

Berkat bantuan ayah babtisnya, Drosselmeyer (Morgan Freeman), seorang pria tua eksentrik yang kaya raya, pencarian kunci tersebut, ternyata, membawa Clara ke sebuah dunia paralel. Yang aneh. Dan misterius. Yang disebut sebagai the Four Realms.

Sesuai dengan namanya, the Four Realms terdiri dari empat alam. Yakni, Land of Flowers, Land of Snowflakes, Land of Sweets, dan The Fourth Realm. Selain itu, ada sebuah istana. Yang disebut The Palace. Sebagai pusatnya.

Desainer Produksi Guy Hendrix Dyas berhasil menampilkan lokasi-lokasi ajaib yang menakjubkan. Dalam film The Nutcracker ini. Konsep istananya sendiri terinspirasi dari gaya arsitektur Rusia. Letaknya di tepi air terjun yang sangat besar. Dengan sebuah danau di belakangnya. Yang sebenarnya berasal dari lelehan salju Land of Snowflakes.

Sementara itu, Land of Snowflakes sendiri merupakan negeri musim dingin yang indah. Dengan istana-istana es dan desa-desa berlatar belakang pengunungan putih. Cahaya yang memantul dari es menampakkan suasana yang magical.

Penduduk yang tinggal di Negeri Kepingan Salju ini sebagian besar merupakan bangsawan. Pada waktu luang, mereka melakukan berbagai macam permainan dan kegiatan. Termasuk, polo es dan kompetisi patung es buatan.

Pemimpin Land of Snowflakes bernama Shiver (Richard E. Grant). Yang memiliki rambut es dan berkepribadian dingin. Sesuai dengan kondisi negeri yang dipimpinnya.

Wonderland yang kedua adalah Land of Flowers. Negeri ini sangat harum. Penuh warna. Dengan bunga-bunga indah yang bermekaran. Dedaunan dan padang rumputnya berwarna hijau zamrud. Serta, tak ketinggalan, kincir anginnya.

Para penduduk di Negeri Kembang ini sangat cinta terhadap alam. Khususnya, yang berhubungan dengan bunga-bungaan. Sehari-hari, mereka memproduksi parfum dan madu. Setiap musim semi, diadakan sebuah festival. Untuk memilih desa yang paling indah.

Yang menjadi pemimpin di Negeri Bunga ini adalah Hawthrone (Eugenio Derbez). Sosoknya sangat emosional dan flamboyan.

Setelah itu, ada Land of Sweets. Yang tampaknya bakal menjadi favorit semua orang. Karena tempatnya memang enak sekali. Penuh dengan dekorasi permen. Tanahnya, bahkan, terbuat dari coklat!

Negeri ini penuh dengan rumah besar bergaya Victoria. Yang terbuat dari kue jahe. Dengan atapnya yang dari gula. Selain itu, juga ada pabrik yang digerakkan oleh uap manis. Yang berputar-putar. Yang memproduksi berbagai macam makanan lezat.

Pemimpin dari Negeri Manisan ini adalah Sugar Plum Fairy (Keira Knightley). Sosoknya sangat elegan, lembut, dan baik hati. Dengan gaunnya yang berkilau. Seperti gula yang dikristalkan.

Yang terakhir adalah Fourt Realm. Alias Alam Keempat. Negeri yang semula bernama Land of Amusements ini merupakan sebuah pulau yang kelam. Dan menakutkan. Yang dipenuhi luka karena pertempuran.

Di sana juga terdapat sebuah hutan yang seram. Yang bernama Pinewood. Di dalamnya ada semacam pohon willow. Yang tampak seperti pohon keriput. Dengan cabang-cabang yang panjang. Tipis. Kurus. Hampir menyerupai rambut.

Lantai hutan tersebut berlapis karpet. Yang berwarna merah beludru. Yang terinspirasi dari jamur payung tradisional. Membuat penampakan Pinewood tidak hanya seram, namun juga unik.

Alam Keempat ini pun menjadi tempat yang terlupakan. Dan ditinggalkan. Yang dipimpin oleh Mother Ginger (Helen Mirren). Dengan rambut merahnya. Yang mirip jahe. Dan kulit wajahnya yang terkelupas. Retak. Seperti sebuah boneka rusak. Perangainya juga sangat kasar. Bajunya compang-camping. Robek-robek.

Mother Ginger ini memiliki pasukan berupa prajurit tikus. Awalnya, dia adalah pemimpin Land of Amusements. Sebelum akhirnya diusir. Karena ingin menguasai keempat alam di Four Realms.

Sosok villain di The Nutcracker ini, tampaknya, digambarkan sedikit berbeda. Dengan versi originalnya. Yang dikarang oleh E. T. A. Hoffmann itu. Di kisah aslinya, terdapat anak-anak kue jahe. Yang keluar dari rumah Mother Ginger.

Namun, versi filmnya ini menawarkan sensasi horror yang berbeda. Dengan memunculkan sosok Polichinelle. Alias karakter mirip badut. Yang ditinggalkan di Land of Amusements.

Menurut produser Mark Gordon, cerita pendek dan pertunjukan ballet The Nutcracker sudah sangat ikonik. Maka, mereka harus menggali kisahnya lebih dalam. Untuk membawa penonton ke level yang baru.

Oleh karena itu, versi filmnya ini bakal menawarkan kisah yang baru. Dan karakter yang juga baru. Serta membuat ulang beberapa hal imajinatif lainnya.

Kembali lagi ke Clara. Di Four Realms yang indah, namun penuh masalah itu, cewek tersebut bertemu dengan Captain Philip Hoffman (Jayden Fowora-Knight). Keduanya kemudian menjalani petualangan berbahaya. Untuk mencari kunci pembuka kado Natal. Dari mendiang ibu Clara.

Philip sendiri merupakan seorang prajurit Nutcracker. Yang luhur dan setia. Meski berasal dari kalangan elite, dia tetap rendah hati. Philip juga telah mengabdikan hidupnya. Untuk melayani dan melindungi Three Realms (Land of Snowflakes, Flowers, and Sweets).

Selain itu, Clara juga bertemu Sugar Plum Fairy. Yang dulu menjadi sahabat ibunya. Menurut Sugar Plum, Mother Ginger ingin berperang dan menguasai Four Realms. Kehadiran Clara dianggap sebagai sebuah harapan. Dia diminta memimpin pasukan untuk melawan Mother Ginger.

Lewat sosok Clara, Disney kembali mengangkat tokoh cewek yang kuat. Karakternya digambarkan berbeda dengan kisah aslinya. Meski selalu tampil mengenakan gaun, gadis cantik itu ternyata tomboi dan ahli mekanik. Dia juga sangat percaya diri.

Sementara itu, saat diwawancarai, Mackenzie Foy mengaku sangat senang bisa bermain di The Nutcracker. Untuk memerankan Clara, dia harus melakukan perubahan besar-besaran. Mulai dari caranya bergerak, hingga caranya berbicara. Dia harus berpikir dan membayangkan. Seperti apa cewek-cewek di era Victoria berjalan. Bagaimana cara mereka duduk, dsb.

Tapi, untungnya, karakter Clara yang dia perankan sama-sama orang Inggris. Jadi, aktris remaja yang mulai dikenal sejak memerankan Renesmee, anak Bella Swan dan Edward Cullen dalam The Twilight Saga, itu bisa berbicara dengan dialeknya sendiri.

Selain Mackenzie Foy, bintang lain yang menarik perhatian di film The Nutcracker ini adalah Keira Knightley. Yang berperan sebagai Sugar Plum Fairy. Dia harus tampil cantik dan “manis”. Seperti pemandangan Land of Sweets yang dipimpinnya.

Keira pun harus menggunakan baju yang terbuat dari bahan metalic organza. Yang berwarna pink, ungu, perak, dan emas. Penampakannya seperti crystalized sugar. Alias gula yang mengkristal. Yang terinspirasi dari sugar plums.

Sang Desainer Kostum, Jenny Beavan, mengatakan kostum Sugar Plum Fairy tersebut adalah kostum terbesar yang pernah dia buat. Timnya membutuhkan 100 meter kain. Pembuatan versi pertamanya menghabiskan waktu lebih dari 1.000 jam!

Bahkan, rok gaun tersebut terlalu lebar. Untuk melewati pintu berukuran normal. Keira Knightley pun tak bisa duduk dengan mudah. Ketika mengenakan kostum tersebut. Alhasil, dia harus duduk di bangku kecil. Yang ada di dalam rok!

Bintang franchise Pirates of the Caribbean itu juga harus menggunakan wig. Yang dicelup ke berbagai warna permen manis. Dari baby pink hingga ungu. Sampai bentuknya mirip dengan cotton candy. Bahkan, saking miripnya, Keira sempat ingin “mencicipi” wig cotton candy-nya tersebut!

Disney memang tepat memilih Jenny Beavan sebagai desainer kostum. Dengan dibantu ratusan kru, dia sukses menyajikan berbagai kostum karakter yang indah, kaya warna, dan memanjakan mata.

Tak pelak, proses produksi The Nutcracker yang cukup megah tadi membutuhkan biaya yang tak sedikit. Disney sampai harus menggelontorkan dana hingga USD 133 juta. Untuk merealisasikan film fantasi terbaru mereka ini. Dengan menggaet sutradara Lasse Hallström.

Proses syutingnya sendiri dimulai pada bulan Oktober 2016. Dan selesai pada akhir bulan Januari 2017. Namun, kemudian, Disney memutuskan untuk melakukan syuting ulang. Karena ada beberapa adegan yang dianggap kurang memuaskan.

Hanya saja, saat itu, Lasse Hallström sudah terlanjur terikat dengan proyek lain. Disney akhirnya menunjuk sutradara Joe Johnston. Untuk melakukan reshoot. Pada bulan Desember 2017. Yang akhirnya berlangsung selama 32 hari tersebut.

Meski demikian, di credit title, nama Lasse Hallström tetap tercantum sebagai sutradara. Bersama dengan Joe Johnston. Begitu juga dengan penulis skenarionya. Nama Asleigh Powell dan Simon Beaufoy bersanding dengan Tom McCarthy. Yang menulis naskah untuk proses syuting ulangnya.

Film rilisan Disney ini juga menampilkan secuplik adegan ballet The Nutcracker. Bintang American Ballet Theatre, Misty Copeland, yang berperan sebagai The Ballerina Princess, tampil untuk menyambut Clara. Setelah dia tiba di Land of Sweets.

Selain itu, juga ada penari terkenal asal Los Angeles, Lil Buck. Dia berperan sebagai The Mouse King. Pemimpin para tikus. Yang karakternya dimunculkan lewat bantuan computer graphics. Dengan menggabungkan 60.000 ekor tikus. Yang akan merangkak di sekujur tubuhnya. Setiap kali ia bergerak!

Yang menarik, sosok street dancer bernama asli Charles Riley tersebut juga pernah memerankan The Mouse King. Di pertunjukan sekolah ballet-nya dulu. Di New Ballet Ensemble.

Sayangnya, segala upaya dan dana yang sudah dikeluarkan oleh Disney tadi, tampaknya, tidak berbuah manis. Setelah tayang perdana di Dolby Theatre, Los Angeles, pada hari Senin (29/10) yang lalu, The Nutcracker and the Four Realms mendapat respon negatif. Dari para kritikus.

Mereka menganggap kisah film fantasi berdurasi 99 menit ini kurang berjiwa. Inkoheren. Dan mudah dilupakan. Meski demikian, visual efeknya, yang memanjakan mata itu, banyak mendapat pujian.

Desain kostum dan latar tempat terjadinya cerita kental dengan nuansa dongeng. Yang magis dan menawan. Para penonton mungkin bakal teringat dengan film Alice in Wonderland (2010). Yang bermandikan glitter dan sangat berwarna itu.

***

The Nutcracker and the Four Realms

Sutradara: Lasse Hallström, Joe Johnston
Produser: Mark Gordon, Larry Franco
Penulis Skenario: Ashleigh Powell, Simon Beaufoy
Pengarang Cerita: Ashleigh Powell
Berdasarkan: “The Nutcracker and the Mouse King” by E. T. A. Hoffmann, The Nutcracker Ballet by Marius Petipa
Pemain: Keira Knightley, Mackenzie Foy, Eugenio Derbez, Matthew Macfadyen, Richard E. Grant, Misty Copeland, Helen Mirren, Morgan Freeman
Musik: James Newton Howard
Sinematografi: Linus Sandgren
Editing: Stuart Levy
Produksi: Walt Disney Pictures, The Mark Gordon Company
Distributor: Walt Disney Studios Motion Pictures
Durasi: 99 menit
Genre: Action & Adventure, Kids & Family, Science Fiction & Fantasy
Kategori Usia: PG (SU)
Budget: USD 133 juta
Rilis: 29 Oktober 2018 (Dolby Theatre), 2 November 2018 (Indonesia & Amerika Serikat)

Rating (hingga 1 November 2018)
IMDb: 5,4/10
Rotten Tomatoes: 34%
Metacritic: 37/100
CinemaScore: –

***

Edwin Dianto
Pekerja Teks Komersial, Baper Blogger & Writer
E-mail: edwindianto@gmail.com
Blog: edwindianto.wordpress.com
Follow Twitter & Instagram @edwindianto untuk info film-film terbaru.

Advertisements
Ulasan Film: The Nutcracker and the Four Realms (2018)

One thought on “Ulasan Film: The Nutcracker and the Four Realms (2018)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s