Ulasan Film: A Man Called Ahok (2018)

Ahok is back! Bukan dalam panggung politik. Tapi, dalam panggung sinematik. Bukan orangnya. Tapi, kisahnya. Lewat sebuah film. Berjudul A Man Called Ahok. Yang tayang mulai hari Kamis (8/11) kemarin. Di bioskop-bioskop. Di seluruh Indonesia.

Kisah film besutan sutradara Putrama Tuta tersebut merupakan adaptasi. Dari buku berjudul sama. Karya Rudi Valinka. Yang sempat menjadi best-seller itu. Yang menceritakan sosok dan kehidupan Ahok. Sebelum menjadi penguasa Jakarta.

Yang ketiban sampur sebagai pemeran Ahok dalam versi film adalah Daniel Mananta. Mantan VJ MTV tersebut dihubungi oleh rumah produksi The United Team of Art pada bulan Februari 2017. Mereka merasa Daniel adalah sosok yang cocok. Untuk memerankan Ahok.

Namun, sebelum benar-benar terpilih sebagai aktor utama, Daniel harus terlebih dahulu menjalani casting. Hingga dua kali. Sampai akhirnya mantan pacar Marissa Nasution itu ditetapkan sebagai pemeran Ahok.

Saat menjalani casting pertama, Daniel mengakui aktingnya masih kagok. Cara bicaranya juga masih seperti presenter. Maklum, sudah lebih dari tujuh tahun dia nggak main film.

Untuk itu, sebelum menjalani casting kedua, Daniel memutuskan untuk belajar dulu. Kepada acting coach: Yayu Unru. Alhasil, dia mampu tampil lebih baik. Dan akhirnya terpilih sebagai pemeran Ahok.

Ini merupakan film kedua sepanjang karir Daniel. Saat konferensi pers pada bulan September yang lalu, dia mengaku sangat terhormat. Karena bisa memerankan seorang tokoh ikonik. Yang bernama asli Basuki Tjahaja Purnama tersebut.

Untuk mendalami perannya, sebelum syuting, Daniel juga melakukan riset. Antara lain, dengan menonton berbagai video YouTube tentang Ahok. Dia mengamati gestur mantan bupati Belitung Timur tersebut. Mulai dari gaya bicaranya, gaya marah-marahnya, hingga gayanya saat berjalan. Selain itu, Daniel juga membaca berbagai berita yang membahas Ahok.

Namun, dari berbagai persiapan tadi, yang paling sulit adalah melakukan transformasi fisik. Daniel terpaksa harus menaikkan berat badan. Hingga 10 kg. Agar penampilan fisiknya mirip Ahok. Yang agak-agak chubby dan gendut itu. Bahkan, dia sampai menggunakan bantalan di bagian perut.

Daniel juga melakukan latihan suara. Alias olah vokal. Agar saat berbicara bisa menirukan suara Ahok. Yang serak-serak becek itu. Untuk lebih menjiwai perannya, Daniel juga sering menggunakan pakaian khas Ahok. Yaitu: kemeja, polo shirt, celana panjang katun, serta berkacamata.

Sebelum syuting, Daniel sejatinya juga ingin bertemu langsung dengan Ahok. Namun, niat itu tidak tercapai. Karena mantan suami Veronica tersebut masih meringkuk di penjara Mako Brimob, Depok. Mengurus perizinannya kala itu sangat sulit.

Daniel baru kesampaian untuk bertemu Ahok saat proses syuting sudah berjalan. Tepatnya, di hari ketiga. Dia mendapat kabar. Bahwa ayah tiga anak tersebut bisa ditemui. Di dalam penjara.

Daniel pun segera menemui tokoh yang dia perankan tersebut. Dengan dandanan lengkap mirip Ahok. Selama tiga jam, mereka membahas banyak hal. Daniel akhirnya bisa mengamati langsung gestur dan gaya bicara mantan gubernur DKI Jakarta tersebut.

Ahok sendiri sudah menyetujui skenario dan pembuatan film A Man Called Ahok. Lewat surat izin tertulis. Pada bulan Februari 2017. Namun, saat konferensi pers pada bulan September yang lalu, Ahok hanya diwakili putra sulungnya: Nicholas Sean. Yang berharap kisah hidup bokapnya tersebut bisa berguna bagi generasi penerus bangsa.

Proses syuting A Man Called Ahok sebenarnya berlangsung pada bulan Maret hingga April 2018. Di Belitung dan Jakarta. Namun, teaser-nya baru dirilis pada bulan September yang lalu. Poster perdananya menampilkan wajah Daniel Mananta. Dengan dandanan mirip Ahok.

Daniel mengakui, memerankan politisi kontroversial semacam Ahok membuatnya cukup terbebani. Namun, dia berusaha menjalaninya dengan santai. Cowok berusia 37 tahun itu juga tidak takut dihujat oleh para haters. Karena film ini memang tidak mengangkat unsur politis.

Selain Daniel, A Man Called Ahok juga diperkuat oleh berbagai bintang ternama. Salah satunya adalah Jill Gladys. Semula, banyak yang menduga cewek supercantik itu bakal memerankan mantan istri Ahok, Veronica. Ternyata, dia menjadi Fifi Lety Tjahaja Purnama. Alias adik Ahok.

Sayangnya, Fifi sendiri, dalam posting-an Instagram-nya pada hari Selasa (6/11) kemarin, mengkritik A Man Called Ahok. Menurut dia, gambaran tentang ayahnya di film tersebut tidak sesuai dengan aslinya. Mulai dari cara berpakaiannya, gayanya, semuanya beda. Meski demikian, dia memuji penampilan Daniel Mananta yang memerankan Ahok.

Sang sutradara, Putrama Tuta, langsung memberikan tanggapan. Menurutnya, A Man Called Ahok ini sebuah film drama keluarga. Bukan film dokumenter. Oleh karena itu, diperlukan pengembangan karakter dan cerita. Yang mungkin tidak sama persis dengan kisah nyatanya.

Film ini memang dibuat dengan mengangkat kisah kehidupan Ahok di Belitung. Sejak masa kecilnya. Sejak masih ada ayahnya. Yang bernama Kim Nam (diperankan oleh Denny Sumargo). Yang seorang pengusaha tambang itu.

Semula, bisnis ayah Ahok berkembang pesat. Namun, setelah beberapa waktu, perlahan mengalami kemunduran. Kehidupan Ahok, yang sebelumnya berkecukupan, mulai menjadi sulit.

Kim Nam, awalnya, menginginkan Ahok untuk menjadi dokter. Namun, anak sulungnya tersebut punya pemikiran lain. Ahok ingin mengikuti jejak sang ayah. Yaitu, membuka bisnis pertambangan. Untuk kelanjutannya, silakan nonton filmnya. πŸ™‚

***

A Man Called Ahok

Sutradara: Putrama Tuta
Produser: Ilya Sigma, Emir Hakim, Reza Hidayat
Penulis Skenario: Putrama Tuta, Ilya Sigma, Danny Jaka Sembada
Pengarang Cerita: Rudi Valinka
Berdasarkan: A Man Called Ahok by Rudi Valinka
Pemain: Daniel Mananta, Eric Febrian, Denny Sumargo, Jill Gladys
Musik: Bembi Gusti, Aghi Narottama
Sinematografi: Yadi Sugandi
Editing: Herman Panca
Produksi: The United Team of Art
Distributor: The United Team of Art
Durasi: 102 menit
Genre: Drama
Kategori Usia: PG-13 (13+)
Budget: –
Rilis: 8 November 2018 (Indonesia)

Rating (hingga 8 November 2018)
IMDb: 8,6/10
Rotten Tomatoes: –
Metacritic: –
CinemaScore: –

***

Edwin Dianto
Pekerja Teks Komersial, Baper Blogger & Writer
E-mail: edwindianto@gmail.com
Blog: edwindianto.wordpress.com
Follow Twitter & Instagram @edwindianto untuk info film-film terbaru.

Advertisements
Ulasan Film: A Man Called Ahok (2018)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s