Ulasan Film: The Darkest Minds (2018)

The Darkest Minds merupakan serial novel young adult karya pengarang bestselling Amerika: Alexandra Bracken. Yang terdiri dari empat jilid buku, tiga novella, dan tiga cerita pendek. Seri pertamanya terbit pada 2012.

Seperti halnya novel-novel young adult lainnya yang lebih dulu melejit (semacam The Hunger Games, Divergent, dan The Maze Runner), The Darkest Minds juga bertema dystopia. Mengisahkan kondisi dunia di masa depan. Pasca bencana atau perang besar.

Ceritanya, anak-anak manusia terancam punah. Penyebabnya adalah wabah penyakit Idiopathic Adolescent Acute Neurodegeneration (IAAN). Lebih dari 90 persen anak-anak di seluruh dunia meninggal karenanya.

Tapi, sisanya, yang survive, yang sekitar 10 persen itu, malah mendapat kekuatan super. Gara-gara penyakit tersebut. Mereka kemudian dikarantina. Di suatu camp khusus. Oleh pemerintah. Dan dikelompokkan berdasarkan superpower yang mereka miliki.

Pengelompokan tersebut ditandai dengan klasifikasi warna. Yaitu: Hijau untuk kecerdasan super, emas untuk pengendali listrik, biru untuk telekinesis, merah untuk pengendali api, dan, yang teratas, oranye untuk pengendali pikiran.

Anak-anak yang termasuk dalam kelompok hijau, emas dan biru dibiarkan hidup. Dan diberi pekerjaan di camp tersebut. Sementara itu, anak-anak yang tergolong dalam kelompok merah dan oranye dihabisi. Karena kemampuan mereka dianggap terlalu berbahaya.

Tokoh utama dalam serial The Darkest Minds ini adalah anak bernama Ruby Daly. Yang seharusnya termasuk dalam kelompok oranye. Tapi, dengan kemampuannya untuk mengendalikan pikiran, dia berhasil mencuci otak petugas camp. Dan menyamar sebagai kelompok hijau.

Namun, setelah tujuh tahun lamanya, penyamaran Ruby akhirnya terbongkar. Cewek yang sudah beranjak abege itu kemudian kabur dari camp. Berkat bantuan seorang dokter bernama Cate Connor.

Dalam pelariannya bersama Dokter Cate yang cantik itu, Ruby banyak melihat hal-hal yang aneh dan misterius. Selain itu, dia juga bertemu dengan tiga ababil lain yang berhasil kabur dari camp. Yaitu: Liam Stewart yang mempunyai kemampuan telekinesis, Chubs yang super cerdas, dan Suzume sang pengendali listrik.

Mereka semua diburu oleh Lady Jane. Seorang bounty hunter wanita berbadan tinggi besar. Yang pekerjaannya menangkap anak-anak berkekuatan super yang kabur dari camp.

Petualangan Ruby dkk itulah yang menjadi inti cerita The Darkest Minds. Yang kemudian diangkat ke layar lebar oleh 20th Century Fox. Setelah membeli hak untuk memfilmkan novelnya dari Alexandra Bracken. Pada 15 September 2014.

Dengan mengandalkan bintang-bintang seperti Amanda Stenberg, Mandy Moore, dan Gwendoline Christie, proses produksi The Darkest Minds akhirnya dimulai pada bulan April 2017. Yang menjadi sutradara adalah Jennifer Yuh Nelson.

Sebelum menggarap The Darkest Minds, yang tercatat sebagai film live-action pertama yang dia besut, Nelson dikenal sebagai animator. Dia sering menangani film-film animasi yang diproduksi oleh DreamWorks Pictures. Mulai dari Kung Fu Panda yang pertama hingga ketiga. Serta Madagascar.

Untuk proses syutingnya, sebagian besar dilakukan di Atlanta, Georgia. Lokasi tersebut dianggap cocok oleh Nelson. Karena memiliki banyak hutan. Yang sangat mendukung untuk suasana post-apocalypse yang ingin dia gambarkan.

Seperti film-film ber-genre science fiction lainnya, The Darkest Minds juga banyak menggunakan efek visual. Alias computer-generated imagery (CGI). Namun, khusus adegan yang menampilkan kekuatan super anak-anak dari kelompok merah, tim produksi menggunakan penyembur api sungguhan. Agar kelihatan lebih nyata.

Dari berbagai karakter anak-anak berkekuatan super yang ditampilkan, yang paling menarik perhatian adalah Suzume. Alias Zu. Yang punya kemampuan electrokinesis, tapi nyaris tidak bersuara itu.

Sosok yang diperankan oleh Miya Cech tersebut memang sangat irit dalam berbicara. Mungkin, hanya lima persen dari keseluruhan penampilannya di depan kamera. Hal itu untuk menunjang latar belakang karakternya. Yang dikisahkan pernah mengalami kejadian traumatis.

Selain dibesut Jennifer Yuh Nelson, The Darkest Minds juga diproduseri oleh Shawn Levy. Yang selama ini sukses menghasilkan serial misteri Stranger Things di Netflix. Sayangnya, setelah tayang secara global pada bulan Agustus 2018 yang lalu, film berbujet USD 34 juta ini dihujat oleh para kritikus.

Kisah The Darkest Minds dianggap serba tanggung. Alurnya terburu-buru. Penokohannya kurang dalam. Serta ending-nya antiklimaks. Plot twist yang disajikan sebagai kejutan pun gagal. Karena penonton sudah dapat menebaknya.

Adegan action, alias pertarungan dengan menggunakan kekuatan super, juga dinilai biasa-biasa saja. Begitu pula dengan drama percintaan ala ababil, yang dijadikan sebagai bumbu, terkesan canggung. Kayak permainan Manchester United di zaman Jose Mourinho.

Ada yang menduga, kisah film berdurasi 105 menit ini memang sengaja dibuat serba tanggung. Karena hanya menjadi pembuka, alias perkenalan, untuk film selanjutnya.

Berdasarkan versi novelnya, The Darkest Minds memang terdiri dari empat seri. Yang artinya, versi layar lebarnya juga bakal dilanjutkan menjadi tiga atau empat film.

Tapi, melihat kegagalan film pertamanya ini, yang hanya meraup pemasukan USD 40-an juta, apakah Fox mau melanjutkan sekuelnya? Tampaknya, sih, tidak. Kecuali, Disney, yang baru mengakuisisi studio tersebut, punya rencana lain di masa depan.

***

The Darkest Minds

Sutradara: Jennifer Yuh Nelson
Produser: Shawn Levy, Dan Levine
Penulis Skenario: Chad Hodge
Berdasarkan: The Darkest Minds by Alexandra Bracken
Pemain: Amandla Stenberg, Harris Dickinson, Mandy Moore, Gwendoline Christie
Musik: Benjamin Wallfisch
Sinematografi: Kramer Morgenthau
Penyunting: Maryann Brandon
Produksi: 21 Laps Entertainment
Distributor: 20th Century Fox
Durasi: 105 menit
Genre: Mystery & Suspense, Science Fiction & Fantasy
Kategori Usia: PG-13 (13+)
Budget: USD 34 juta
Rilis: 3 Agustus 2018 (Amerika Serikat), 15 Agustus 2018 (Indonesia)

Rating (hingga 29 Desember 2018)
IMDb: 5,6/10
Rotten Tomatoes: 17%
Metacritic: 39/100
CinemaScore: B

***

Edwin Dianto
Pekerja Teks Komersial, Baper Blogger & Writer
E-mail: edwindianto@gmail.com
Blog: edwindianto.wordpress.com
Follow Twitter & Instagram @edwindianto untuk info film-film terbaru.

Advertisements
Ulasan Film: The Darkest Minds (2018)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s