Ulasan Film: A Private War (2018)

Bagi para penulis dan jurnalis, terutama penulis dan jurnalis wanita, Marie Catherine Colvin adalah seorang legenda. Seorang idola. Yang rela mempertaruhkan nyawa. Demi mengungkap kekejaman yang ditimbulkan oleh perang. Dan segala hal buruk di baliknya.

Bersama rekannya, Paul Conroy, yang seorang fotografer itu, Marie Colvin menjadi jurnalis The Sunday Times. Sejak 1985, tahun pertamanya di koran terkenal asal London itu, dia sudah ditunjuk sebagai koresponden urusan Timur Tengah. Lalu, pada 1995, lulusan Yale University itu diangkat sebagai koresponden peliputan luar negeri.

Nama Marie mulai terkenal setelah menjadi jurnalis pertama yang berhasil mewawancarai Kolonel Muammar Gaddafi. Secara pribadi. Face-to-face. Pada tahun 1986. Uniknya, dia juga yang menjadi jurnalis terakhir. Yang bertemu pemimpin revolusi Libya tersebut. Sebelum sang diktator tewas mengenaskan. Dibantai oleh para pemberontak. Pada tahun 2011.

Berbagai medan perang paling berbahaya, nyaris di seluruh penjuru dunia, sudah pernah Colvin liput. Mulai dari Chechnya, Kosovo, Sierra Leone, Zimbabwe, Timor Leste (1999), Sri Lanka (2001), Irak (2003), Afghanistan (2008), Libya (2011), hingga Syria (2012).

Desingan peluru dan dentuman bom menjadi makanan sehari-hari. Bagi wanita Amerika kelahiran New York tanggal 12 Januari 1956 tersebut. Tak heran, dengan berbagai pengalamannya menantang maut di garis depan medan tempur itu, Marie Colvin sampai dijuluki sebagai wartawati paling berani yang pernah ada.

Salah satu bukti keberaniannya adalah saat Marie harus berjalan kaki. Sejauh 30 mil. Menyusuri hutan belantara Vanni. Di Sri Lanka. Untuk mewawancarai pemimpin tertinggi pasukan pemberontak: Tamil Tigers. Alias Macan Tamil. Yang bersembunyi di sana. Pada 16 April 2001.

Namun, malang tak dapat ditolak. Sepulang dari tugas wawancara tersebut, Marie yang sedang berjalan kaki bersama pasukan Macan Tamil diserang oleh tentara pemerintah Sri Lanka. Dengan menggunakan rocket-propelled grenade (RPG).

Untungnya, nyawa Marie dapat diselamatkan. Tapi, dia harus kehilangan salah satu matanya. Yang terkoyak. Setelah terkena ledakan granat. Sejak saat itu, dia selalu memakai penutup mata kiri. Berwarna hitam. Yang membuatnya semakin ikonis dan legendaris. Sehingga dijuluki sebagai Marie si Bajak Laut.

Meski demikian, Marie tidak melupakan tugasnya. Dengan tetap memenuhi deadline dari korannya. Di rumah sakit, dengan hanya satu mata, dia masih sempat menulis artikel sepanjang 3.000 kata. Tentang bencana kemanusiaan yang terjadi di Tamil Utara. Akibat perang saudara di Sri Lanka.

Selain membuat matanya cacat, profesi Marie sebagai jurnalis perang juga membawa dampak buruk. Kehidupan rumah tangganya berantakan. Dua kali dia kawin cerai. Dan dua kali pula dia keguguran. Hingga tidak memiliki anak sepanjang hidupnya.

Lebih parah lagi, Marie juga menderita stress pascatrauma. Alias post-traumatic stress disorder (PTSD). Yang sering dialami oleh para tentara. Setelah mereka terjun di medan perang yang mengerikan.

Saat berada di rumahnya, di London, Marie yang biasanya tangguh menjadi rapuh. Mimpi buruk tentang suasana mengerikan dari medan perang selalu menghantuinya. Setiap malam. Alkohol dan rokoklah yang akhirnya menjadi sarana pelariannya.

Sean Ryan, editornya di The Sunday Times, sampai menyebut Marie sebagai wanita gila. Karena tidak bakal ada orang waras yang berani melakukan liputan seperti dia. Bahkan, bisa dibilang, Marie sudah terjun langsung ke medan perang lebih banyak daripada prajurit manapun di dunia ini!

Keberanian Marie dalam meliput itu menghasilkan beragam artikel dan tulisan. Tentang tragedi kemanusiaan akibat perang. Yang kemudian membuatnya diganjar penghargaan: Foreign Reporter of the Year. Dalam ajang British Press Awards. Bukan cuma sekali. Melainkan, hingga tiga kali!

Namun, bukan penghargaan itu yang sebenarnya dia cari. Marie melakukan liputan dan mempertaruhkan nyawanya demi alasan mulia. Yaitu untuk membuka mata dunia. Bahwa yang namanya perang itu tidak ada manfaatnya. Yang selalu menjadi korban adalah orang-orang yang tak bersalah.

Sayangnya, usia Marie tidak terlalu panjang. Akhir hidupnya sangat dramatis. Yang diawali pada bulan Februari 2012. Ketika Marie ngotot masuk ke Syria. Yang sedang dilanda perang saudara. Antara pasukan pemberontak dan tentara pemerintah.

Saat itu, pemerintah Syria sebenarnya melarang media asing masuk ke negara mereka. Namun, Marie dan rekan-rekannya sesama jurnalis berhasil menyusup ke Kota Homs. Dan bersembunyi di sebuah gedung yang sudah porak-poranda akibat bom.

Kegelisahan Marie akhirnya memuncak. Setelah melihat aksi bombardir tentara pemerintah terhadap gedung-gedung yang dihuni oleh 28.000 warga sipil. Yang mengakibatkan tewasnya anak-anak tak berdosa. Yang dia sebut sebagai konflik perang paling mengerikan yang pernah dia saksikan.

Di tengah aksi tembak-menembak antara pasukan pemberontak dan tentara pemerintah Syria, Marie nekat melakukan siaran live. Untuk melaporkan kondisi Kota Homs. Yang hancur-lebur itu. Yang kemudian ditayangkan oleh BBC, Channel 4, CNN, dan ITN News sekaligus.

Sayangnya, telepon satelit yang Marie gunakan untuk melakukan siaran live berhasil dilacak oleh tentara Syria. Gedung tempatnya bersembunyi kemudian dihujani oleh bom. Kali ini, takdir tidak berpihak kepadanya.

Pada tanggal 22 Februari 2012 itu, Marie tewas. Dengan gagah berani. Saat sedang menjalankan tugasnya sebagai wartawati. Bersama rekannya. Remi Ochlik. Yang juga seorang reporter.

Sementara itu, sang juru foto, Paul Conroy, berhasil selamat. Meski mengalami luka parah akibat ledakan bom. Dialah yang setia menemani Marie hingga akhir hayatnya.

Kisah nyata tentang Marie Colvin itulah yang kemudian diangkat menjadi film layar lebar. Yang naskahnya didasarkan pada artikel dari majalah Vanity Fair. Terbitan tahun 2012. Berjudul Marie Colvin’s Private War. Yang ditulis oleh Marie Brenner.

Yang terpilih sebagai pemeran Marie Colvin adalah aktris cantik asal Inggris: Rosamund Pike. Yang dulu melejit setelah menjadi musuh James Bond. Dalam film Die Another Day (2002). Serta berhasil menjadi Aktris Terbaik Piala Oscar. Lewat film Gone Girl (2014) itu.

Sedangkan, peran sebagai Paul Conroy, awalnya, ditawarkan kepada Taron Egerton. Namun, dia menolak. Peran tersebut akhirnya jatuh ke tangan Jamie Dornan. Aktor ganteng pujaan emak-emak. Yang namanya mencuat setelah membintangi film adaptasi novel romantis erotis. Yang berjudul Fifty Shades of Grey (2013) itu.

A Private War ini tercatat sebagai film pertama yang mengisahkan tentang Marie Colvin. Mulai dari konflik rumah tangga dan kegagalan pernikahannya, perseteruannya di kantor, perjuangannya melawan trauma, hingga kegigihannya untuk terus-menerus terjun ke medan perang.

A Private War juga mencetak rekor dunia. Sebagai film yang melibatkan rokok terbanyak dalam pembuatannya. Seperti sosok aslinya yang pemabuk dan perokok berat, Marie Colvin di film ini juga ditampilkan hampir selalu merokok. Di setiap adegannya!

Film tentang kisah nyata jurnalis di medan perang sebenarnya bukan hal yang baru. Sebelum ini, sudah ada Balibo (2009), A Mighty Year (2007)-nya Angeline Jolie, hingga The Year of Living Dangerously (1982). Yang ber-genre romance. Dan berlatar situasi mencekam di Indonesia pada tahun 1965 itu.

Namun, yang membuat A Private War berbeda dari film-film tadi adalah inti ceritanya. Yang menitikberatkan pada “perang pribadi”. Yang dialami oleh Marie Colvin. Yang tetap konsisten menjalankan tugasnya sebagai jurnalis. Di tengah perjuangannya pulih dari trauma. Setelah menyaksikan kengerian perang.

Selama 106 menit, para penonton bakal diajak untuk melihat bagaimana Marie bekerja. Dalam memburu dan mengulik kisah di berbagai medan perang. A Private War, bisa dibilang, sangat informatif. Dalam menyajikan cara kerja wartawan perang.

Film besutan sutradara Matthew Heineman ini kemudian mendapat respon positif dari para kritikus. Setelah tayang perdana di Toronto International Film Festival. Pada 7 September 2018. Bahkan, di salah satu festival paling bergengsi di dunia tersebut, A Private War terpilih sebagai film pembuka.

Matthew Heineman, yang sudah berpengalaman menghasilkan film-film dokumenter, dinilai berhasil mengemas film drama biografi dengan bingkai perang yang rapi. Tragedi, kesedihan, dan adegan kematian, yang meremangkan bulu kuduk, dia sajikan dengan begitu nyata.

Dalam film panjang yang menjadi debutnya ini, Heineman juga dianggap mampu memaksimalkan kualitas para pemainnya. Seperti Rosamund Pike. Yang dengan sempurna menampilkan pergolakan emosi Marie Colvin. Ketika sedang mengalami trauma.

Akting Rosamund Pike di film ini memang patut diacungi jempol. Dia berhasil menjelma sebagai Marie Colvin. Mulai dari cara jalannya, aksen bicaranya, hingga kebengalannya. Semua nyaris sama dengan aslinya.

Tak heran, berkat penampilannya tersebut, mantan tunangan sutradara Joe Wright itu berhasil masuk nominasi aktris drama terbaik. Dalam ajang Golden Globe Awards 2019.

Selain Rosamund Pike, film rilisan Aviron
Pictures ini juga mendapat nominasi Golden Globe Awards kategori Best Original Song. Lewat lagu “Requiem for A Private War”. Yang dibawakan oleh Annie Lennox.

Sementara itu, Matthew Heineman sendiri berhasil masuk nominasi kategori Sutradara dengan Karya Perdana Terbaik. Dalam ajang Directors Guild of America 2019.

Bagi para penggemar film biopic, drama, dan perang, A Private War wajib hukumnya untuk ditonton. Apalagi, bagi para penulis dan jurnalis. Yang ingin mengetahui lebih dalam sosok Marie Colvin.

“You’re never going to get to where you’re going if you acknowledge fear.” – Marie Colvin

***

A Private War

Sutradara: Matthew Heineman
Produser: Matthew George, Matthew Heineman, Basil Iwanyk, Marissa McMahon, Charlize Theron
Penulis Skenario: Arash Amel
Berdasarkan: “Marie Colvin’s Private War” by Marie Brenner
Pemain: Rosamund Pike, Jamie Dornan, Tom Hollander, Stanley Tucci
Musik: H. Scott Salinas
Sinematografi: Robert Richardson
Penyunting: Nick Fenton
Produksi: Acacia Filmed Entertainment, Savvy Media Holdings, Thunder Road Pictures, Denver and Delilah Productions
Distributor: Aviron Pictures
Durasi: 106 menit
Genre: Drama
Kategori Usia: R (17+)
Rilis: 7 September 2018 (TIFF), 2 November 2018 (Amerika Serikat), 12 Maret 2019 (Indonesia)

Rating (hingga 23 Maret 2019)
IMDb: 6,7/10
Rotten Tomatoes: 90% (Certified Fresh)
Metacritic: 75/100
CinemaScore: –

***

Edwin Dianto
Pekerja Teks Komersial, Baper Blogger & Writer
E-mail: edwindianto@gmail.com
Blog: edwindianto.wordpress.com
Follow Twitter & Instagram @edwindianto untuk info film-film terbaru.

Advertisements
Ulasan Film: A Private War (2018)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s