Ulasan Film: Shazam! (2019)

Meski termehek-mehek dalam menghadapi gempuran Disney dan Marvel Studios, Warner Bros. Pictures dan DC Entertainment menolak untuk menyerah. Setelah sukses dengan Aquaman (2018) pada akhir tahun lalu, tahun ini mereka kembali merilis film superhero. Yang berjudul Shazam!

Perilisannya memang sengaja dipilih pada awal bulan April. Untuk menghindari bentrok langsung dengan Captain Marvel (2019). Yang tayang pada awal bulan Maret kemarin. Dan Avengers: Endgame (2019). Pada akhir bulan nanti. Karena bakal menjadi langkah bunuh diri. Jika nekat mengadu Shazam! dengan dua film superblockbuster tadi.

Di dunia perkomikan, DC Comics sejatinya merupakan pemimpin pasar sejak dulu. Dua superhero andalan mereka, Batman dan Superman, menjadi ikon global yang dikenal oleh nyaris semua orang. Bahkan, mungkin, lebih terkenal daripada Avengers milik Marvel.

Sejak Superman muncul pertama kali di Action Comics #1 (yang diterbitkan oleh DC Comics), pada 18 April 1938, tema superhero memang langsung mendominasi dunia perkomikan. Terutama, di Amerika. Banyak karakter superhero dari komik lain yang lahir karena terpengaruh oleh si Man of Steel tersebut.

Nah, salah satu superhero yang terinspirasi dari Superman adalah Shazam! Karakter yang diciptakan oleh C. C. Beck dan Bill Parker ini aslinya memang bukan berasal dari DC. Melainkan, dari Fawcett Comics.

Yang menarik, Shazam! ini awalnya bernama Captain Marvel. Muncul pertama kali di Whiz Comics #2. Pada bulan Februari 1940. Yang kemudian laris manis di pasaran. Bahkan, penjualan komiknya mampu mengalahkan Superman. Yang saat itu menjadi penguasa jagat perkomikan di Amerika.

DC selaku pemilik Superman pun kebakaran jenggot. Pada 1953, mereka menggugat Fawcett Comics. Selaku penerbit Whiz Comics. Dengan tuduhan pelanggaran hak cipta. Karena karakter Captain Marvel tadi dianggap memiliki banyak kesamaan dengan Superman. Gugatan tersebut membuat Captain Marvel mati suri. Dan komiknya tidak terbit lagi.

Setelah hampir dua dekade berlalu, tepatnya pada 1972, Fawcett Comics akhirnya menjual hak penerbitan Captain Marvel ke DC. Namun, masalahnya, nama tersebut sudah tidak dapat digunakan lagi. Karena sudah menjadi milik perusahaan lain. Yaitu Marvel Comics.

Sebagai solusi, DC kemudian mengubah nama Captain Marvel menjadi Shazam! Yang terus digunakan sejak 1972 hingga sekarang. Karakter superhero berkostum merah tersebut akhirnya juga dimasukkan ke dalam DC Universe pada 1991.

Selain komiknya terbit lagi, Shazam! juga menjadi superhero pertama yang dijadikan serial live-action. Yang tayang di CBS. Pada 1974-1977. Lalu, diikuti oleh berbagai serial animasinya. Yaitu The Kid Super Power Hour with Shazam! (1981-1982), Justice League Unlimited (2001-2004), dan Batman: The Brave and the Bold (2008-2011).

Setelah sekian lama, tahun ini Shazam! akhirnya juga merambah layar lebar. Menyusul para superhero DC Universe lainnya. Yang lebih dulu eksis. Seperti Batman, Superman, Green Lantern, Wonder Woman, dan Aquaman.

Seperti versi komiknya, yang menjadi tokoh utama di versi film ini adalah cowok ababil yatim piatu. Yang bernama William Joseph “Billy” Batson (Asher Angel). Hingga usia 14 tahun, dia berkali-kali melarikan diri dari panti asuhan. Hingga akhirnya tinggal bersama pasangan Victor dan Rosa Vazquez. Yang memiliki lima anak angkat.

Suatu ketika, Billy mendapat rejeki anak soleh. Dia diberi kekuatan super. Oleh seorang penyihir tua misterius. Yang sudah berusia 3.000 tahun. Dengan kemampuan tersebut, Billy bisa berubah menjadi sosok superhero dewasa (diperankan oleh Zachary Levi). Yang perlu dia lakukan hanya mengucapkan satu kata ajaib: Shazam!

Mantra sakti tersebut sebenarnya merupakan singkatan. Dari nama enam dewa dengan kekuatan super. Yaitu: S untuk Solomon, yang sangat cerdas dan menguasai berbagai bahasa; H untuk Hercules, yang sangat kuat; A untuk Atlas, yang staminanya tak terbatas; Z untuk Zeus, yang mengendalikan petir; A untuk Achilles, yang sangat berani dan tak terkalahkan; dan M untuk Mercury, yang sangat cepat dan bisa terbang.

Ibaratnya, from zero to hero. Hidup Billy langsung berubah. Dalam sekejap. Dari seorang ababil pendiam menjadi superhero. Dengan kekuatan enam dewa sekaligus. Meski demikian, perubahan drastis itu mendatangkan berkah sekaligus masalah baginya.

Selain memiliki kekuatan super dari enam dewa tadi, Shazam! juga bisa menghipnotis, menyihir dan melakukan teleportasi. Namun, saat kembali dalam wujud Billy, dirinya selalu pingsan. Karena kehabisan tenaga.

Dibantu oleh saudara angkatnya, sesama cowok ababil, yang bernama Freddy Freeman (Jack Dylan Grazer), Billy berusaha untuk mengetahui lebih dalam tentang kesaktian yang baru didapatnya. Hal-hal lucu dan konyol pun kemudian terjadi.

Dari trailer resmi yang dirilis beberapa waktu yang lalu, Shazam! memang tampak berbeda dengan film-film superhero DC Extended Universe (DCEU) lainnya. Yang biasanya bernuansa kelam dan menegangkan itu.

Sebut saja Man of Steel (2013), Batman v Superman: Dawn of Justice (2016), Suicide Squad (2016), dan Wonder Woman (2017). Serta Justice League (2017). Yang penuh pemain bintang, tapi gagal di box office itu.

Setelah kegagalan tersebut, Warner Bros. Pictures, tampaknya, berusaha memberi warna baru pada film-film DCEU. Mereka ingin menampilkan sosok superhero yang lebih menghibur. Yang bisa menarik perhatian penonton segala umur. Seperti film-film Marvel Cinematic Universe (MCU).

Warner Bros. kemudian memulainya dengan Aquaman (2018). Yang dirilis pada akhir tahun lalu. Yang ternyata sukses meraup pemasukan di atas USD 1 miliar itu. Dan menjadi film DCEU terlaris sepanjang masa itu.

Kini, kesuksesan tersebut berusaha dinapaktilasi oleh Shazam! Dari trailer-nya, bisa dilihat bahwa film DCEU ketujuh ini memang benar-benar dijual sebagai komedi keluarga. Sisi humor-nya benar-benar ditonjolkan.

Bahkan, dari segi cerita, film garapan sutradara David F. Sandberg ini benar-benar terasa ringan. Dan jauh lebih kocak daripada Aquaman. Kisahnya tentang seorang anak yang belajar menjadi superhero dewasa.

Sandberg mengakui. Dia memang sengaja mengarahkan Shazam! menjadi film yang berorientasi kepada penonton muda. Kisahnya pun gampang diikuti. Aksi Billy dkk bakal memancing tawa. Pas untuk anak-anak, tapi juga bakal memuaskan para penonton dewasa.

Meski demikian, menggarap Shazam! ini tidaklah mudah. Terutama, dalam mencari pemeran utamanya. Sandberg harus melakukan audisi yang lumayan panjang. Hingga akhirnya ia menemukan Zachary Levi dan Asher Angel.

Di film ini, sosok Shazam! memang diperankan oleh dua aktor. Yaitu versi superhero dewasa yang diperankan Levi dan versi ababil yang diperankan Angel. Untuk itu, keduanya harus menyamakan tingkah dan detail lainnya.

Demi hasil yang maksimal, Levi dan Angel sampai melakukan latihan khusus sebelum syuting. Mereka juga saling mengirim video ketika tidak bisa bertemu karena kesibukan masing-masing.

Untungnya, menurut Angel, meski berbeda usia cukup jauh, dirinya dan Levi punya gestur dan mimik wajah yang mirip. Alhasil, proses copy paste tersebut bisa berjalan dengan lancar.

Saat diwawancarai, Levi mengaku berperan sebagai Shazam! ini merupakan tantangan berat. Setelah lolos audisi pada Oktober 2017, dia langsung menjalani diet tinggi kalori. Selain itu, bintang serial Heroes Reborn tersebut juga latihan fisik di gym.

Secara karakter, Levi menyamakan Shazam! yang ia perankan dengan Peter Parker. Alias Spider-Man dari MCU. Menurutnya, mereka sama-sama senang mendapat “berkah” kekuatan super. Dan tak sabar ingin mencobanya.

Menurut Levi, Shazam! juga merupakan perpaduan dari Superman dan film Big (1988). Yang dulu mengorbitkan nama Tom Hanks. Sebelum dia menjadi aktor legendaris seperti sekarang.

Seperti halnya Shazam!, cerita Big juga sederhana. Mengisahkan seorang cowok ababil yang berubah menjadi pria berusia 30 tahun. Setelah bermain mesin peramal di sebuah pasar malam. Segala kelucuan pun terjadi. Melihat bagaimana orang dewasa yang berperilaku seperti anak kecil.

Meski demikian, bukan berarti Shazam! isinya ketawa melulu. Karena ini film superhero, pasti ada unsur action-nya yang kental. Dan pasti ada villain-nya juga. Yang kali ini bernama Dr. Thaddeus Sivana.

Dalam komik, Sivana merupakan supervillain. Yang mendapat kekuatan dari iblis Seven Deadly Sins. Dia sangat cerdik dalam mengelabuhi lawan-lawannya. Sehingga sering merepotkan Shazam! Yang sejatinya masih seorang bocah berusia 14 tahun itu.

Yang berperan sebagai musuh bebuyutan Shazam! tersebut adalah Mark Strong. Yang sebelumnya juga pernah berperan sebagai villain di film superhero DC Comics lainnya. Yaitu sebagai Thaal Sinestro di Green Lantern (2011).

Sayangnya, film yang dibintangi oleh Ryan Reynolds tersebut gagal di box office. Serta panen kritik negatif dari para pengamat perfilman dan fans komik. Secara bercanda, Strong mengatakan akhirnya sisi jahatnya kembali dapat tempat di DCEU. Lewat film Shazam! ini.

Bagi yang masih meragukan apakah Shazam! termasuk dalam DCEU, produser Peter Safran menjelaskan, film ini punya format yang sama dengan Aquaman. Yaitu sama-sama film stand-alone. Tapi, tetap menjadi bagian dari jagat film adaptasi DC Comics.

Jika sukses secara box office, DC dan Warner Bros. bakal mempertahankan formula film solo ini. Dan, tidak menutup kemungkinan, Shazam! juga bakal masuk ke dalam Justice League. Bersama Batman dan Superman.

Dalam versi komik rilisan tahun 1942, Shazam! sebenarnya memiliki kelompok superhero sendiri. Yang bernama Marvel Family. Yang terdiri dari Mary Marvel, Captain Marvel Jr., dll.

Namun, setelah sempat mati suri akibat masalah hak cipta pada 1953, dan terbit kembali pada 1972, DC mengubah namanya menjadi Shazam! Family. Karena nama yang lama sudah menjadi milik Marvel Comics.

Meski di komik digambarkan sering berkelahi dengan Superman, Shazam! alias Billy sebenarnya sangat mengidolakan superhero yang ber-alter-ego Clark Kent tersebut. Dia selalu berdiri membela kebenaran. Seperti idolanya yang juga bisa terbang itu.

Bahkan, dalam komik, Shazam! pernah beradu panco dengan Superman. Hasilnya, seri. Alias sama-sama kuat. Tak heran, dia mendapat julukan satu-satunya superhero yang punya kekuatan setara Superman.

Namun, di balik kekuatannya yang hebat itu, Shazam! juga memiliki beberapa kelemahan. Salah satunya adalah lemah terhadap serangan sihir. Selain itu, dia juga akan langsung kembali menjadi Billy. Bila tersengat listrik bertegangan tinggi.

Kelemahan lainnya, jika mulut Billy dibungkam dan tidak bisa mengucapkan kata “Shazam!”, maka dia tidak akan bisa berubah wujud menjadi superhero. Di samping itu, karena masih abege, mentalnya yang labil sering kali dimanfaatkan oleh musuh-musuhnya.

Di Amerika, Shazam! memang baru akan tayang pada hari Jumat (5/4) ini. Meski demikian, film berdurasi 130 menit tersebut sudah mendapat sambutan positif dari para kritikus. Yang sudah menonton preview screening-nya. Pada 23 Maret 2019 yang lalu.

Shazam! yang disebut-sebut sebagai film DCEU terbaik setelah Wonder Woman ini dianggap berbeda. Bila dibandingkan dengan film-film superhero lainnya. Yang belakangan trend-nya semakin serius dan menegangkan. Serta terlalu banyak mengandalkan special effects. Yang lama-lama bisa membosankan.

Shazam! dinilai berhasil menyajikan kisah yang seru, ringan, dan komplet. Banyak lelucon yang membuat film ini asyik untuk dinikmati. Jauh bila dibandingkan film-film DCEU lainnya. Yang nuansanya cenderung kelam itu.

Film berbujet USD 100 juta yang lucunya konsisten hingga akhir ini dinilai sangat menghibur. Ada seremnya. Ada tegangnya. Tapi, lebih banyak tertawanya. Dan tidak perlu banyak berpikir saat menontonnya. Meski ada beberapa plot twist yang tak terduga.

Shazam! juga dianggap sebagai film keluarga banget. Karena pesan moral utamanya adalah the power of family. Sangat cocok sebagai penghibur. Di tengah situasi dunia (dan Indonesia) yang semakin panas dan tegang. Bahkan, film ini masih akan tetap menarik. Seandainya ditonton 20 tahun yang akan datang.

Sutradara David F. Sandberg juga sangat cermat dalam mengembangkan karakter setiap tokohnya. Termasuk, karakter sang antagonis. Doctor Sivana. Detail masa lalunya dikisahkan dengan baik.

Selain itu, penampilan Zachary Levi sebagai pemeran utama pun mendapat banyak pujian. Pengisi suara Flynn Rider dalam film animasi Tangled (2010) itu dinilai sangat menjiwai perannya. Dia mampu memberi energi di film ini dan menghidupkan karakter Shazam!

Oh, ya. Mengikuti trend film-film superhero MCU, Shazam! juga menghadirkan post-credits scenes. Ada dua. Di bagian tengah dan akhir. Bahkan, di bagian kredit awal, yang berupa coretan gambar di kertas, juga ada ceritanya. Jadi, jangan keburu keluar dari bioskop sebelum benar-benar usai. Just say the word.

***

Shazam!

Sutradara: David F. Sandberg
Produser: Peter Safran
Penulis Skenario: Henry Gayden
Pengarang Cerita: Henry Gayden, Darren Lemke
Berdasarkan: Para karakter dari DC Comics
Pemain: Zachary Levi, Mark Strong, Asher Angel, Jack Dylan Grazer, Djimon Hounsou
Musik: Benjamin Wallfisch
Sinematografi: Maxime Alexandre
Penyunting: Michel Aller
Produksi: New Line Cinema, DC Films, The Safran Company, Seven Bucks Productions, Mad Ghost Productions
Distributor: Warner Bros. Pictures
Durasi: 130 menit
Genre: Action & Adventure, Science Fiction & Fantasy
Kategori Usia: PG-13 (13+)
Budget: USD 100 juta
Rilis: 15 Maret 2019 (Toronto), 2 April 2019 (Indonesia), 5 April 2019 (Amerika Serikat)

Rating (hingga 4 April 2019)
IMDb: 8,1/10
Rotten Tomatoes: 93% (Certified Fresh)
Metacritic: 73/100
CinemaScore: –

***

Edwin Dianto
Pekerja Teks Komersial, Baper Blogger & Writer
E-mail: edwindianto@gmail.com
Blog: edwindianto.wordpress.com
Follow Twitter & Instagram @edwindianto & @filmaniaindo untuk info film-film terbaru.

Advertisements
Ulasan Film: Shazam! (2019)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s