Ulasan Film: Dumbo (2019)

Dumbo (1941) adalah film animasi layar lebar keempat yang dirilis oleh Walt Disney Animation Studios. Setelah Snow White and the Seven Dwarfs (1937), Pinocchio (1940), dan Fantasia (1940). Kisahnya diadaptasi dari novel Dumbo, the Flying Elephant (American Roll-A-Book, 1939). Karangan Helen Aberson dan Harold Pearl.

Yang menjadi tokoh utama adalah seekor gajah kecil. Bernama Jumbo Jr. Yang kemudian diplesetkan menjadi Dumbo. Karena dianggap bodoh (dumb). Namun, ternyata, dia memiliki kelebihan yang tak dimiliki oleh gajah-gajah lainnya. Yaitu: Bisa terbang. Dengan memanfaatkan telinganya. Yang sangat besar itu.

Saat dirilis pada 1941, Dumbo berhasil merebut hati para pencinta film animasi. Bahkan, animo penonton yang sangat tinggi, bisa dikatakan, menjadi penyelamat bagi industri film Disney. Yang saat itu sedang mengalami penurunan.

Di ajang Academy Awards 1941, Dumbo juga berhasil menyabet Piala Oscar. Kategori Best Scoring of a Musical Picture. Dan masuk nominasi Best Original Song. Lewat lagu “Baby Mine”. Yang dibawakan oleh Betty Noyes.

Kesuksesan film animasi tadi membuat Dumbo menjadi ikon pop culture. Yang kemudian dikembangkan menjadi berbagai merchandise, video game, hingga wahana permainan populer.

Setelah hampir 80 tahun berlalu, Disney akhirnya me-remake Dumbo. Menjadi sebuah film live-action. Yang tayang mulai akhir bulan Maret 2019 yang lalu. Dengan mengusung bintang-bintang ternama. Semacam Collin Farrell, Danny DeVito, Michael Keaton, dan Eva Green.

Ide pertama untuk menjadikan Dumbo sebagai film live-action muncul lima tahun silam. Saat itu, Derek Frey, produser yang memproduksi film-film karya Tim Burton sejak tahun 2001, menerima naskah yang ditulis oleh Ehren Kruger. Kisah klasik tersebut akhirnya mendapat lampu hijau untuk dikembangkan. Namun, dengan inti cerita yang masih sama.

Kisah yang diusung oleh Dumbo versi live-action ini, bisa dibilang, memang sama dengan versi animasi jadulnya. Tentang seekor gajah kecil yang bertelinga superlebar. Namun, dengan tampilan yang jauh lebih nyata. Dengan lebih banyak karakter manusia.

Di film yang ber-setting pada 1919 ini, Dumbo dikisahkan menjadi anak seekor gajah Asia yang bernama Jumbo. Namun, karena satu dan lain hal, Dumbo terpisah dari induknya. Bayi gajah yang lahir dengan telinga besar itu kemudian menjadi bahan tertawaan. Di sebuah sirkus yang sedang mengalami masalah.

Sang pemilik sirkus, Max Medici (Danny DeVito), kemudian menugaskan mantan bintang sirkus, Holt Farrier (Collin Farrell), serta dua anaknya, Milly (Nico Parker) dan Joe (Finley Hobbins), untuk merawat Dumbo. Hingga akhirnya, kedua bocah tadi menemukan fakta ajaib. Bahwa ternyata Dumbo bisa terbang. Dengan dua telinganya yang superbesar itu.

Kabar tentang keajaiban tersebut sampai ke telinga V. A. Vandevere (Micael Keaton). Seorang pengusaha kaya yang sedang merekrut berbagai bakat unik. Untuk usaha hiburan terbarunya: Dreamland. Bersama pemain akrobat tali andalannya, Colette Marchant (Eva Green), Vandevere ingin menjadikan Dumbo sebagai bintang besar.

Dibanding versi animasi original-nya, ada beberapa perbedaan yang diusung oleh film Dumbo versi live-action ini. Salah satunya adalah tidak adanya sosok tikus pintar yang bernama Timothy.

Pada versi animasi, Dumbo ditemani dan diajarkan banyak hal oleh Timothy. Sedangkan, pada versi live action ini, dia ditemani dan diajari bagaimana cara terbang oleh anak-anak Holt Farrier.

Dihilangkannya karakter Timothy tersebut sempat menjadi pertanyaan. Di kalangan fans Disney. Namun, sutradara Tim Burton memang harus menyesuaikan alur ceritanya. Agar lebih masuk akal. Karena bakal terasa janggal. Jika ada seekor tikus yang dapat berbicara. Di Dumbo versi live-action ini.

Sepanjang karirnya, Tim Burton dikenal sebagai sutradara kawakan. Yang sering menelurkan film-film fantasi. Dengan mengusung gaya dark, gothic, dan noir. Sebut saja Batman (1989), Edward Scissorhands (1990), Charlie and the Chocolate Factory (2005), dan Alice in Wonderland (2010). Dumbo, film terbarunya ini, menjadi salah satu tantangan terbesarnya.

Memang, tidak mudah mengubah film animasi musikal, apalagi tanpa dialog, menjadi sebuah film live-action. Yang sesuai dengan kehidupan nyata. Oleh karena itu, Burton mengakalinya dengan memperbanyak karakter manusia. Dan menghilangkan karakter tikus yang menjadi teman Dumbo.

Dalam mengarahkan film ini, Burton juga bermain di luar gayanya. Dia menampilkan perbedaan antara hitam dan putih, perbuatan baik dan jahat, dengan begitu sederhana. Dengan bahasa yang begitu mudah dimengerti. Karena Dumbo memang ditujukan sebagai tontonan keluarga dan anak-anak.

Selain itu, Burton juga menampilkan sosok Dumbo dengan visualisasi yang sangat imut. Telinga lebarnya, sorot matanya, dan wajah polosnya sangat menggemaskan. Bahkan, ada yang menganggap film ini telah menetapkan standar baru. Dalam bidang desain karakter.

Tapi, sayangnya, para kritikus memberi respon kurang positif untuk film berdurasi 112 menit ini. Salah satu yang banyak dikritik adalah kurang rapinya skenario yang ditulis oleh Ehren Kruger. Yang akhirnya membuat kisah Dumbo versi live-action ini kurang menyentuh hati. Karena tidak ada efek magical seperti di versi animasinya.

Selain itu, sosok Dumbo yang seharusnya menjadi karakter utama justru terlihat seperti bukan tokoh sentral. Gajah lucu tersebut seperti hanya menjadi pemain pendukung bagi karakter Holt dan anak-anaknya. Apalagi, dia tidak bisa berbicara seperti karakter-karakter manusia tadi.

Berbagai kritik tersebut, tampaknya, membuat Dumbo tidak mampu terbang tinggi di box office. Hingga sepekan tayang, film berbujet USD 170 juta ini baru mengumpulkan pemasukan USD 131 juta dari seluruh dunia. Termasuk rendah untuk ukuran film blockbuster.

Meski demikian, bukan berarti Dumbo versi baru ini tidak layak untuk ditonton. Terlepas dari segala kekurangannya tadi, Tim Burton dinilai berhasil menampilkan visualisasi yang memanjakan mata. Dengan mempertahankan ciri khasnya yang kelam, dan mengambil setting pada akhir World War I, Burton mampu menyajikan nuansa pada masa tersebut dengan sangat apik.

***

Dumbo

Sutradara: Tim Burton
Produser: Justin Springer, Ehren Kruger, Katterli Frauenfelder, Derek Frey
Penulis Skenario: Ehren Kruger
Berdasarkan: Disney’s Dumbo by Otto Englander, Joe Grant, Dick Huemer; Dumbo by Helen Aberson, Harold Pearl
Pemain: Colin Farrell, Michael Keaton, Danny DeVito, Eva Green, Alan Arkin
Musik: Danny Elfman
Sinematografi: Ben Davis
Penyunting: Chris Lebenzon
Produksi: Walt Disney Pictures, Tim Burton Productions, Infinite Detective Productions, Secret Machine Entertainment
Distributor: Walt Disney Studios Motion Pictures
Durasi: 112 menit
Genre: Animation, Kids & Family, Science Fiction & Fantasy
Kategori Usia: PG (SU)
Budget: USD 170 juta
Rilis: 11 Maret 2019 (Los Angeles), 27 Maret 2019 (Indonesia), 29 Maret 2019 (Amerika Serikat)

Rating (hingga 6 April 2019)
IMDb: 6,7/10
Rotten Tomatoes: 47% (Rotten)
Metacritic: 51/100
CinemaScore: A-

***

Edwin Dianto
Pekerja Teks Komersial, Baper Blogger & Writer
E-mail: edwindianto@gmail.com
Blog: edwindianto.wordpress.com
Follow Twitter & Instagram @edwindianto & @filmaniaindo untuk info film-film terbaru.

Advertisements
Ulasan Film: Dumbo (2019)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s