Ulasan Film: Pet Sematary (2019)

Pet Sematary merupakan salah satu novel horror terkenal yang terbit pada 1983. Karya sang Maestro Stephen King ini juga pernah diadaptasi menjadi film bioskop berjudul sama. Yang tayang pada 1989. Dan sekuelnya. Yang dirilis pada 1992.

Salah satu faktor yang membuat Pet Sematary menarik adalah kisahnya. Yang terinspirasi dari kejadian nyata. Yang dialami sendiri oleh Stephen King. Bahkan, pengarang It (1986) dan The Shining (1977) itu juga menyebut Pet Sematary sebagai novel terseram yang pernah ia tulis.

Pet Sematary mengisahkan Dr. Louis Creed, beserta istri dan kedua anaknya, yang baru saja pindah dari kota besar. Untuk mencari ketenangan. Ke sebuah rumah yang sepi. Yang terletak di daerah pinggiran. Yang masih dipenuhi hutan.

Kehidupan keluarga Creed yang adem-ayem tersebut kemudian berubah. Setelah kucing peliharaan mereka mati tertabrak truk. Yang sedang melaju kencang. Di jalan raya. Di depan rumah mereka.

Dengan bantuan seorang tetangga yang bernama Jud Crandall, jasad kucing malang tersebut kemudian dikubur. Di sebuah areal pemakaman. Khusus hewan peliharaan. Yang disebut Pet Sematary. Yang terletak di dalam hutan. Di belakang rumah keluarga Creed.

Namun, keesokan harinya, kucing yang menjadi kesayangan putri keluarga Creed yang bernama Ellie itu ternyata hidup kembali. Aneh. Bin ajaib. Jud, sang kakek tua yang kesepian itu, kemudian menjelaskan kepada Louis: Bahwa Pet Sematary memang bisa menghidupkan kembali jasad makhluk-makhluk yang dikubur di situ!

Setelah kejadian misterius yang bikin bulu kuduk merinding tersebut, kehidupan keluarga Creed yang tadinya tenang menjadi tercekam. Kebangkitan kucing yang semula mati itu ternyata membawa masalah baru. Berbagai tragedi dan hal mengerikan pun mulai menghantui mereka!

Seperti sudah disebutkan tadi, cerita menyeramkan ini memang terinspirasi dari kehidupan nyata sang penulisnya: Stephen King. Oleh karena itu, novel Pet Sematary sangat personal baginya. Karena berasal dari pengalaman pribadinya.

Pada tahun 1979, King memang pernah pindah ke sebuah rumah besar. Di pinggir jalan raya. Di sana juga ada seorang tetangga. Yang nantinya menjadi inspirasi terciptanya karakter Pak Tua Jud dalam novel. Dia memperingatkan King: Bahwa ada banyak binatang mati di sekitar rumahnya.

Tetangga itu kemudian menunjukkan sebuah areal pemakaman. Khusus binatang. Yang terletak di belakang rumahnya. Menurut King, di tempat itu ada sebuah tanda. Yang tertancap di pohon. Tepat di luar kuburan. Yang bertuliskan: “Pet Sematary”. Yang akhirnya menjadi judul novelnya tersebut.

Di dalam novel, kucing keluarga Creed yang bernama Church mati ditabrak truk. Di kehidupan nyata, kucing peliharaan keluarga King yang bernama Smucky juga mengalami nasib tragis yang sama. Dia mati dilindas kendaraan. Di jalan. Di sekitar rumahnya.

King kemudian mengubur kucing malang tersebut. Di Pet Sematary tadi. Bedanya, dia tidak bangkit lagi seperti di dalam novel. Lalu, King juga sempat berpikir: Bagaimana jika yang tertabrak itu bukan kucing, tapi seorang anak?

Kekhawatiran penulis yang kini berusia 71 tahun itu hampir menjadi kenyataan. Saat putranya, yang bernama Owen, nyaris mengalami kecelakaan yang mengerikan. Di jalan yang sama. Untungnya, King sempat menariknya sebelum bocah tersebut ditabrak kendaraan.

Dari berbagai kejadian yang dia alami tersebut, King kemudian mempertajam idenya. Hingga menjadi sebuah novel horror legendaris. Yang disebut-sebut sebagai salah satu yang terseram sepanjang masa: Pet Sematary.

Tahun ini, buku yang masuk nominasi World Fantasy Award for Best Novel pada 1986 itu kembali diangkat ke layar lebar. Film yang tayang secara global pada hari Jumat (5/4) yang lalu tersebut merupakan adaptasi yang kedua. Setelah yang pertama pada 1989.

Kali ini, yang terpilih sebagai pemeran Dokter Louis Creed adalah Jason Clarke. Sedangkan, Amy Seimetz menjadi istrinya. Sementara itu, aktor kawakan John Lithgow menjadi Pak Tua Jud.

Salah satu produsernya, Mark Vahradian, mengaku sebagai penggemar film-film psychological horror. Oleh karena itu, dia memutuskan untuk me-remake Pet Sematary. Sebagai ajang nostalgia bagi para fans Stephen King.

Meski begitu, Vahradian ingin film adaptasi terbarunya ini lebih sesuai dengan zaman now. Tapi, tanpa meninggalkan ciri khas dari versi novelnya. Maka dari itu, Pet Sematary versi baru ini harus berbeda dengan versi film pertamanya. Alias harus mampu memberi kejutan bagi para penonton.

Secara garis besar, pesan yang diusung oleh film Pet Sematary ini sebenarnya sama dengan versi novelnya. Yaitu jangan bermain-main dengan kematian. Sesuai dengan tagline-nya: Sometimes dead is better.

Akan tetapi, dari segi cerita, ada beberapa perbedaan yang cukup mencolok. Salah satunya, yang menjadi fokus utama adalah tokoh Ellie. Putri sulung keluarga Creed. Berbeda dengan film pertama dan novelnya dulu. Yang menitikberatkan pada adiknya yang bernama Gage. Yang masih balita itu.

Dari segi visual, film Pet Sematary versi baru ini juga tampak lebih kelam daripada versi jadulnya. Begitu pula dengan desain kostum dan makeup para pemainnya. Terlihat lebih menakutkan.

Yang menarik, pemilihan kucing yang menjadi maskot utama dalam film ini juga dilakukan secara hati-hati. Agar benar-benar mendekati versi cover novelnya. Yang berbulu panjang dan tampak menyeramkan itu.

Sayangnya, setelah tayang sepekan di bioskop, para kritikus memberi respon kurang positif. Untuk film besutan duo sutradara Kevin Kölsch dan Dennis Widmyer ini. Yang paling banyak dikritik adalah alurnya. Yang berjalan lambat. Serta terlalu sering mengandalkan jump scare. Yang membuat kaget para penonton.

Meski demikian, banyak juga yang memuji dark tone dan atmosfernya yang mencekam. Selain itu, penampilan para pemainnya dinilai cukup apik. Terutama, aktris ababil Jete Laurence. Yang aktingnya sebagai Ellie mampu membuat bulu kuduk bergidik tersebut.

Intinya, meski masih banyak kekurangan di sana-sini, sebagian besar setuju: Pet Sematary yang terbaru ini masih lebih baik daripada film pertamanya dulu. Sometimes remade is better.

***

Pet Sematary

Sutradara: Kevin Kölsch, Dennis Widmyer
Produser: Lorenzo di Bonaventura, Mark Vahradian, Steven Schneider
Penulis Skenario: Jeff Buhler
Pengarang Cerita: Matt Greenberg
Berdasarkan: Pet Sematary by Stephen King
Pemain: Jason Clarke, Amy Seimetz, John Lithgow
Musik: Christopher Young
Sinematografi: Laurie Rose
Penyunting: Sarah Broshar
Produksi: Di Bonaventura Pictures
Distributor: Paramount Pictures
Durasi: 101 menit
Genre: Horror
Kategori Usia: R (17+)
Budget: USD 21 juta
Rilis: 16 Maret 2019 (SXSW), 5 April 2019 (Indonesia & Amerika Serikat)

Rating (hingga 12 April 2019)
IMDb: 6,2/10
Rotten Tomatoes: 58% (Rotten)
Metacritic: 57/100
CinemaScore: C+
PostTrak: 66%

***

Edwin Dianto
Pekerja Teks Komersial, Baper Blogger & Writer
E-mail: edwindianto@gmail.com
Blog: edwindianto.wordpress.com
Follow Twitter & Instagram @edwindianto & @filmaniaindo untuk info film-film terbaru.

Advertisements
Ulasan Film: Pet Sematary (2019)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s