Ulasan Film: The Curse of The Weeping Woman (2019)

Kisah tentang hantu wanita yang suka menculik anak-anak banyak menjadi folklore di berbagai negara. Termasuk, di Indonesia. Yang paling terkenal, mungkin, adalah Wewe Gombel. Yang sering menghiasi berbagai film horror nasional itu.

Di Meksiko, juga ada legenda rakyat yang mirip Wewe Gombel. Yang disebut sebagai La Llorona. Yang artinya adalah wanita yang sedang menangis. Dia juga hobby menculik anak-anak yang keluyuran pada malam hari. Di tepi danau atau sungai.

Legenda La Llorona sendiri berawal pada abad ke-17. Saat itu, ada seorang emak-emak bernama Maria yang sakit hati dan dendam. Setelah ditinggal selingkuh oleh suaminya. Marah dan terluka, Maria yang mengalami depresi kemudian mengambil jalan pintas. Dengan menenggelamkan kedua anaknya yang masih kecil di sungai.

Namun, setelah itu, Maria segera menyesali perbuatannya. Tapi, semua sudah terlambat. Anak-anaknya sudah hilang terbawa oleh arus sungai. Beberapa hari kemudian, mamah-mamah muda tersebut juga ditemukan tak bernyawa. Di tepi sungai. Kemungkinan besar, dia bunuh diri.

Para penduduk Meksiko dan Amerika Latin meyakini: Arwah Maria yang penasaran itu masih gentayangan. Hingga kini. Sambil mewek. Mencari kedua anaknya yang hilang. Oleh karena itu, dia dijuluki sebagai La Llorona. Alias The Weeping Woman.

Menurut mitos, jika kita mendengar suara tangisan La Llorona, berlarilah sejauh mungkin. Jangan malah mendekat. Karena tangisan tersebut bakal mendatangkan kemalangan. Bahkan, kematian!

La Llorona juga dipercaya suka menculik anak-anak kecil yang berkeliaran setelah matahari terbenam. Sebagai pengganti kedua anaknya yang ia tenggelamkan itu. Banyak orang tua di Meksiko dan Amerika Latin yang menggunakan cerita ini. Untuk menakut-nakuti anak-anak mereka. Agar tidak kelayapan pada malam hari.

Boleh percaya, boleh tidak. Orang-orang Meksiko yang mengaku pernah melihat La Llorona mengatakan dia muncul pada malam hari. Di tepi sungai. Atau danau. Mengenakan gaun putih, atau hitam, dengan kerudung. Sambil menangis. Tersedu-sedu. Hiiiy..

Setelah lama menjadi folklore di Meksiko, legenda La Llorona ini akhirnya diangkat ke layar lebar. Oleh sang Maestro Horror Hollywood: James Wan. Namun, kali ini, sineas asal Malaysia itu tidak menjadi sutradara. Melainkan, hanya sebagai produser.

Film berjudul The Curse of La Llorona (di beberapa negara menjadi The Curse of The Weeping Woman) ini sudah tayang midnight di bioskop-bioskop Indonesia. Pada hari Sabtu (13/4) yang lalu. Dan bakal tayang reguler. Pada hari Rabu (17/4) ini.

Yang menarik, La Llorona merupakan bagian dari The Conjuring Universe. Alias franchise film horror tersukses. Yang diciptakan oleh James Wan itu. La Llorona tercatat sebagai film keenam. Setelah The Conjuring (2013), Annabelle (2014), The Conjuring 2 (2016), Annabelle: Creation (2017), dan The Nun (2018).

Kisah film La Llorona mengambil setting tahun 1973. Yang menjadi tokoh utama adalah seorang janda muda beranak dua. Yang bernama Anna Tate-Garcia (Linda Cardellini). Yang bekerja sebagai pegawai dinas sosial.

Suatu ketika, Anna ditugaskan untuk menangani kasus penyekapan dua anak kecil di dalam lemari. Yang dilakukan oleh ibu kandung mereka. Seorang single mother juga. Yang bernama Patricia Alvarez (Patricia Velasquez).

Nah, sejak menyelidiki kasus itulah, hidup Anna berubah. Banyak kejadian mistis yang mengganggunya. Namun, setelah menggali lebih dalam, Anna kemudian menyadari: Ternyata hal-hal misterius yang menghantuinya selama ini mirip dengan folklore La Llorona. Yang akhirnya juga mengancam nyawa dua buah hatinya!

Lalu, apa hubungannya film yang menjadi debut penyutradaraan Michael Chaves ini dengan The Conjuring Universe? Apakah pasangan paranormal Ed dan Lorraine Warren bakal muncul di sini? Apakah boneka setan Annabelle yang legendaris itu bakal nongol? Jawabannya adalah: Tidak.

Satu-satunya tokoh yang menghubungkan film La Llorona ini dengan The Conjuring Universe adalah Romo Perez. Karakter pastor yang diperankan oleh Tony Amendola itu pernah muncul di film Annabelle (2014) yang pertama.

Di lain pihak, meski baru pertama kali ini menyutradarai film layar lebar, sutradara Michael Chaves sebenarnya sudah berpengalaman. Dalam menggarap film-film horror pendek. Di antaranya adalah The Maiden (2016). Yang akhirnya membuat James Wan terpikat. Dan merekrutnya untuk menggarap La Llorona.

Bahkan, untuk film The Conjuring 3, yang rencananya dirilis tahun depan, itu Wan juga mempercayakannya kepada Chaves. Jadi, bisa dibilang, La Llorona ini menjadi ujian pertamanya. Sebelum dia melangkah ke proyek yang lebih besar.

Tapi, sayangnya, setelah tayang perdana di South by Southwest pada 15 Maret 2019 yang lalu, para kritikus memberi respon kurang positif untuk La Llorona. Meski Chaves sebenarnya cukup piawai. Dalam mengejutkan penonton. Dengan mengandalkan banyak jump scare. Yang bikin jantung copot itu.

Secara garis besar, jalan cerita film yang hanya berdurasi 93 menit ini dianggap mudah terbaca. Karena hampir sama dengan film-film horror supranatural lainnya. Bahkan, beberapa adegan terkesan bertele-tele.

Setting jadul tahun 1970-an, yang menjadi latar cerita, sebenarnya, bisa dimaksimalkan untuk menambah suasana mencekam. Namun, akhirnya terasa biasa saja. Karena sudah terlalu sering dipakai di film-film The Conjuring Universe lainnya.

Penampakan sosok La Llorona, yang diperankan oleh Marisol Ramirez, juga tidak terlalu heboh. Kostum dan riasannya tidak istimewa. Seperti yang sering dipakai oleh hantu-hantu perempuan di film-film horror pada umumnya.

Oleh karena itu, masih harus dibuktikan. Di film berikutnya tahun depan. Kemampuan Chaves dalam mempertahankan level kengerian. Yang telah dibangun dengan apik oleh James Wan. Dalam dua film The Conjuring sebelumnya.

***

The Curse of The Weeping Woman

Sutradara: Michael Chaves
Produser: James Wan, Gary Dauberman, Emile Gladstone
Penulis Skenario: Mikki Daughtry, Tobias Iaconis
Pemain: Linda Cardellini, Raymond Cruz, Patricia Velásquez
Musik: Joseph Bishara
Sinematografi: Michael Burgess
Penyunting: Peter Gvozdas
Produksi: New Line Cinema, Atomic Monster Productions
Distributor: Warner Bros. Pictures
Durasi: 93 menit
Genre: Horror
Kategori Usia: R (17+)
Rilis: 15 Maret 2019 (SXSW), 17 April 2019 (Indonesia), 19 April 2019 (Amerika Serikat)

Rating (hingga 16 April 2019)
IMDb: 6,5/10
Rotten Tomatoes: 38% (Rotten)
Metacritic: 46/100
CinemaScore: –
PostTrak: –

***

Edwin Dianto
Pekerja Teks Komersial, Baper Blogger & Writer
E-mail: edwindianto@gmail.com
Blog: edwindianto.wordpress.com
Follow Twitter & Instagram @edwindianto & @filmaniaindo untuk info film-film terbaru.

Advertisements
Ulasan Film: The Curse of The Weeping Woman (2019)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s