Ulasan Film: Long Shot (2019)

Bosan dengan film-film ber-genre superhero dan horror yang akhir-akhir ini mendominasi layar lebar? Long Shot, yang dibintangi oleh Seth Rogen dan Charlize Theron, mungkin, bisa menjadi solusinya.

Film komedi romantis rilisan Lionsgate ini tayang di bioskop-bioskop Cinema XXI Indonesia. Mulai hari Jumat (3/5) yang lalu. Dengan mengusung tema politik. Untuk penonton usia 17 tahun ke atas. Karena banyak mengandung joke-joke dewasa yang vulgar.

Kisah Long Shot berfokus pada kehidupan Fred Flarsky (Seth Rogen). Seorang jurnalis spesialis investigasi yang nyentrik dan vokal. Yang sering mengangkat topik-topik politik. Yang sensitif. Dalam tulisan-tulisannya. Namun, dia kemudian mengundurkan diri. Setelah media tempatnya bekerja diakuisisi oleh konglomerat international. Yang tak sesuai dengan idealismenya.

Saat sedang menganggur itulah, Fred diajak oleh temannya. Untuk menghadiri sebuah pesta. Tak disangka, di sana, Fred bertemu dengan kenalan lamanya. Yaitu Charlotte Field (Charlize Theron). Yang sudah menjadi Secretary of State. Alias Menteri Luar Negeri Amerika Serikat.

Charlotte adalah sosok perempuan sempurna. Dia cantik, cerdas, dan bijaksana. Kini, menteri luar negeri termuda pertama itu sedang mencalonkan diri: Untuk menjadi Presiden Amerika Serikat. Pada pemilihan umum tahun 2020. Jika terpilih, dia akan menjadi presiden perempuan pertama di negara adikuasa tersebut.

Dulu, saat masih ababil, Fred dan Charlotte sebenarnya tetanggaan. Bahkan, Charlotte, yang usianya lebih tua beberapa tahun itu, pernah menjadi babysitter Fred. Yang dulu sempat naksir pada pengasuhnya yang cantik tersebut.

Singkat cerita, Charlotte kemudian merekrut Fred, yang sedang menganggur itu. Untuk menjadi bagian tim kampanyenya. Tepatnya, untuk menjadi penulis naskah pidatonya. Sesuai dengan kemampuan Fred. Yang seorang jurnalis handal tersebut.

Pepatah Jawa “tresna jalaran saka kulina” akhirnya berlaku juga. Karena sering bersama-sama, benih-benih cinta pun mulai bersemi kembali di antara Fred dan Charlotte. Hubungan yang awalnya sebatas rekan kerja itu berubah menjadi romansa.

Problemnya, Charlotte adalah calon presiden Amerika. Berpacaran dengan Fred beresiko merusak reputasinya. Namun, dengan segala cara, mereka berusaha mempertahankan hubungan tersebut. Tentu saja, kisah asmara yang “unlikely but not impossible” ini akhirnya juga dihiasi oleh berbagai masalah dan hal-hal konyol. Yang mengundang gelak tawa.

Iya. Film yang semula berjudul Flarsky ini memang bakal mengocok perut penonton. Dengan berbagai cara yang mungkin tak terduga sebelumnya. Mulai dari sindiran bernuansa politik, humor-humor mesum, adegan slapstick, hingga bahasan mengenai pop culture. Yang diramu dengan tepat. Untuk membuat para penonton tertawa.

Hanya saja, kisah Long Shot ini sangat Amerika. Bagi yang tidak mengikuti situasi politik di sana, mungkin, bakal susah tertawa. Karena tidak memahami konteks lawakannya. Yang sebenarnya tergolong komedi cerdas itu.

Topik politik yang diangkat memang sangat beragam. Mulai dari soal pencalonan presiden perempuan pertama, presiden incumbent yang tidak mencalonkan diri lagi untuk periode kedua (karena lebih memilih untuk menjadi aktor), kubu Democrat versus Republic, hingga skandal seks yang menyeret para politikus.

Duo penulis skenario, Dan Sterling dan Liz Hannah, memang sering menyajikan dialog-dialog cerdas nan menggelitik. Yang terkait dengan isu-isu terkini. Termasuk, isu tentang peran media raksasa dalam menggiring sebuah opini. Yang dijabarkan dengan sangat menarik.

Meski demikian, bukan berarti film ini isinya melulu soal politik. Sutradara Jonathan Levine juga memadukannya dengan adegan-adegan yang romantis, menyentuh, lucu, dan tegang. Dia tahu betul kapan harus memasukkan momen-momen tersebut.

Levine sepertinya ingin menyampaikan bahwa Long Shot punya pesan yang serius dan mendalam. Meski disampaikan dengan cara komedi. Sehingga tidak akan membuat penonton merasa pusing dengan jalan ceritanya. Durasi film yang hampir dua jam pun menjadi tidak terasa.

Levine mampu meracik Long Shot. Hingga menjadi film yang sangat ringan dan menghibur. Meski tema politik yang diusung sebetulnya cukup berat. Dia juga berhasil mempertemukan Charlotte dan Fred, yang berbeda karakter itu, dengan cara yang kocak dan tak terduga.

Intinya, meski bertema politik, film ini tetap menghibur. Oleh karena itu, film-film ber-genre komedi romantis seperti Long Shot selalu punya tempat tersendiri di hati para penonton. Kisahnya ringan. Berawal dari saling kenal, jatuh cinta, muncul masalah, lalu menyelesaikannya, dan berakhir dengan bahagia.

Tak heran, setelah tayang secara global pada hari Jumat (3/5) yang lalu, film berbujet USD 40 juta ini langsung mendapat respon positif dari para kritikus. Yang paling banyak dipuji adalah penampilan Seth Rogen dan Charlize Theron.

Para kritikus menilai, duet Rogen dan Theron memiliki chemistry yang sangat kuat dan dalam. Berperan sebagai Charlotte yang anggun dan berwibawa, Theron tidak terlihat canggung saat harus melakoni adegan konyol. Sebaliknya, Rogen yang komedian itu juga tampak begitu natural ketika harus berakting serius.

Meski demikian, bukan berarti Long Shot tidak memiliki kekurangan. Salah satu kelemahan yang paling kentara adalah saat film memasuki paruh kedua. Temponya terasa sangat cepat. Sehingga ada beberapa konflik besar yang selesai begitu saja. Ending-nya menjadi terlalu sederhana. Bahkan, cenderung klise. Seperti sinetron.

***

Long Shot

Sutradara: Jonathan Levine
Produser: Evan Goldberg, Seth Rogen, James Weaver, Beth Kono, Charlize Theron
Penulis Skenario: Dan Sterling, Liz Hannah
Pengarang Cerita: Dan Sterling
Pemain: Seth Rogen, Charlize Theron, O’Shea Jackson Jr., Andy Serkis, June Diane Raphael, Bob Odenkirk, Alexander Skarsgård
Musik: Marco Beltrami, Miles Hankins
Sinematografi: Yves Bélanger
Penyunting: Melissa Bretherton, Evan Henke
Produksi: Good Universe, Point Grey Pictures, Denver and Delilah Films
Distributor: Summit Entertainment, Lionsgate
Durasi: 115 menit
Genre: Comedy
Kategori Usia: R (17+)
Budget: USD 40 juta
Rilis: 9 Maret 2019 (SXSW), 3 Mei 2019 (Amerika Serikat & Indonesia)

Rating (hingga 7 Mei 2019)
Rotten Tomatoes: 83% (Certified Fresh)
Metacritic: 67/100
CinemaScore: B
PostTrak: 57%
IMDb: 7,2/10

***

Edwin Dianto
Pekerja Teks Komersial, Baper Blogger & Writer
E-mail: edwindianto@gmail.com
Blog: edwindianto.wordpress.com
Follow Twitter & Instagram @edwindianto & @filmaniaindo untuk info film-film terbaru.

Advertisements
Ulasan Film: Long Shot (2019)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s