Ulasan Film: Brightburn (2019)

Superman merupakan salah satu karakter superhero paling terkenal yang pernah ada. Bahkan, sejatinya, jauh lebih terkenal daripada para Avengers. Yang menguasai dunia dalam satu dekade terakhir lewat Marvel Cinematic Universe (MCU) itu.

Superman, yang merupakan sosok superhero andalan DC Comics tersebut, sebenarnya, bukan manusia. Melainkan, seorang alien. Dari Planet Krypton. Yang dikirim oleh orang tuanya ke Bumi. Saat dia masih bayi. Untuk menyelamatkannya. Sebelum planet tempat asalnya hancur.

Di Bumi, pesawat yang ditumpangi oleh bayi Superman tadi jatuh di sebuah lahan pertanian. Milik pasangan Jonathan dan Martha Kent. Yang terletak di sebuah kampung bernama Smallville. Di negara bagian Kansas, Amerika.

Karena tidak memiliki anak, mereka kemudian merawat bayi alien misterius tersebut. Mengadopsinya sebagai anak sendiri. Dan memberinya nama: Clark Kent. Yang ketika dewasa nanti kita kenal sebagai superhero. Dengan julukan Superman. Seperti yang kisahnya tersaji dalam film Man of Steel (2013) itu.

Pertanyaannya, bagaimana seandainya bayi alien misterius tadi tidak menjadi superhero ketika besar nanti? Melainkan, menjadi supervillain yang sadis dan haus darah? Itulah yang berusaha dijawab oleh film Brightburn. Yang tayang mulai hari Jumat (10/5) yang lalu di bioskop-bioskop Indonesia.

Adalah James Gunn yang memiliki ide nyeleneh tersebut. Sutradara film Marvel Studios’ Guardians of the Galaxy (2014) itu menggabungkan dua genre yang mendominasi perbioskopan akhir-akhir ini: superhero dan horror.

Film Brightburn ini, bisa dibilang, merupakan proyek keluarga James Gunn. Karena saudara dan sepupunya, yang bernama Brian dan Mark, juga menjadi penulis skenarionya.

Meski demikian, James Gunn sendiri tidak menjadi sutradara film yang berbujet hanya USD 7 juta ini. Dia hanya menjadi produser. Kursi sutradara dia serahkan kepada rekanannya: David Yarovesky.

Sementara itu, kisah film Brightburn, bisa dibilang, opening-nya sama persis dengan kisah origin Superman. Plek-ketiplek. Hanya nama karakter dan lokasinya saja yang diubah. Tapi, ending-nya sangat berbeda. Alias bertolak belakang. Ini adalah antitesis Superman.

Brightburn seakan ingin mengatakan: Bahwa sosok bertopeng, berjubah, dan punya kekuatan dahsyat bukan selalu superhero. Ada pula yang jahat, kejam, dan supersadis.

Yang menjadi tokoh utama adalah pasangan Tori (Elizabeth Banks) dan Kyle Breyer (David Denman). Yang tinggal di sebuah kampung bernama Brightburn. Yang terletak di negara bagian Kansas, Amerika. Sama persis seperti Smallville-nya Superman.

Suatu malam, saat hendak berasyik-masyuk, pasangan mandul yang belum dikaruniai momongan itu tiba-tiba dikejutkan. Oleh sebuah meteor. Yang jatuh di sebuah hutan. Yang tak jauh dari rumah mereka.

Setelah didekati, ternyata, yang mereka sangka sebagai meteor tadi adalah sebuah pesawat luar angkasa. Yang memancarkan cahaya merah. Yang berisi seorang bayi mungil.

Hal tersebut seakan mimpi yang menjadi kenyataan bagi pasangan Breyer. Yang sudah lama ingin memiliki anak. Mereka kemudian mengadopsi bayi laki-laki tadi. Dan merawatnya seperti anak sendiri.

Singkat cerita, bayi alien misterius yang diberi nama Brandon (Jackson A. Dunn) itu kemudian tumbuh besar. Hingga berusia 12 tahun. Dan mulai menunjukkan gejala-gejala aneh. Yang menandakan bahwa dia memang bukan manusia biasa.

Seperti halnya Superman, perlahan, Brandon mulai mencari tahu asal-usulnya. Serta mengeksplorasi kekuatan super di dalam dirinya: Bisa mengangkat benda-benda berat. Bisa meremukkan besi layaknya kerupuk. Bisa mengeluarkan sinar laser dari kedua matanya. Bisa terbang. Dan bisa bergerak secepat kilat.

Tapi, celakanya, kekuatan super tersebut justru mengubah Brandon. Yang semula cerdas dan baik hati. Menjadi sosok yang mengerikan dan sadis. Seperti kata sutradara David Yarovesky, mengadopsi bayi alien di hutan, sepertinya, bukanlah ide yang bagus. Bocah lucu itu sudah berubah menjadi mimpi buruk bagi umat manusia.

Sesuai dengan tagline film Brightburn, ‘He’s Not Here to Save the World’, cowok ababil itu tidak menggunakan kelebihannya untuk kebaikan. Tapi, malah menggunakan superpower-nya untuk membantai orang-orang yang membuatnya kesal.

Iya. Dengan segala kekuatannya, Brandon bakal membunuh siapa pun yang membikin dia sakit hati. Lalu, meninggalkan tanda yang menjadi ciri khasnya. Tujuannya hanya satu. Yaitu menguasai dunia.

Menurut James Gunn, tidak seperti Superman yang menjadi pahlawan dan menumpas kejahatan, Brandon adalah kejahatan itu sendiri. Duo penulis skenario, Brian dan Mark, memang menyajikan pandangan baru terkait mitos superhero. Yang berbeda dari pandangan orang-orang selama ini.

Meski demikian, saat beraksi, Brandon tetap digambarkan seperti superhero. Yang menggunakan topeng kain. Untuk menyembunyikan identitas aslinya. Serta memakai jubah merah. Yang terlihat semakin dramatis. Ketika dirinya melayang-layang di udara.

Pemilihan kostum tersebut, bisa dibilang, sangat pas. Tampak cukup menyeramkan. Tapi, tetap mempertahankan ciri khas karakter anak-anak yang ada di baliknya. Menurut James Gunn, kostum tersebut terinspirasi dari tiga tokoh pembunuh sadis: Freddy Krueger (A Nightmare on Elm Street), Leatherface (The Texas Chainshaw Massacre), dan Jason Voorhees (Friday the 13th).

Btw, selama menyaksikan film ini, penonton bakal sering dikejutkan oleh adegan jumpscare. Selain itu, film kategori 17 tahun ke atas ini juga banyak menyuguhkan adegan sadis yang berdarah-darah. Bahkan, saking brutalnya, beberapa adegan pembantaian yang dilakukan oleh Brandon bakal membuat penonton bergidik dan menutup mata.

Oleh karena itu, jangan sekali-kali membawa anak di bawah 17 tahun untuk menonton Brightburn. Karena film berdurasi 90 menit ini memang tidak diperuntukkan bagi anak-anak. Meski tokoh utamanya adalah seorang bocah dengan tampang tak berdosa.

Bagi yang sedang galau, sebaiknya juga berpikir ulang sebelum menonton Brightburn. Karena film rilisan Sony Pictures ini bakal menyajikan ending yang sangat kelam. Jangan berharap suasana hati bisa menjadi cerah. Setelah menyaksikan pembantaian yang dilakukan oleh si Anak Setan tadi.

Sebaliknya, bagi para penggemar horror slasher yang memicu adrenalin, Brightburn sangat layak untuk ditonton. Apalagi, akting Jackson A. Dunn terbilang tidak mengecewakan. Dengan tampang polos dan imutnya, dia mampu bertransformasi menjadi bocah psikopat. Yang sorot matanya tajam, penuh dendam, dan tak kenal ampun.

Namun, sayangnya, penampilan apik Jackson tadi tidak dibarengi oleh chemistry yang kuat di antara para pemainnya. Elizabeth Banks memang mampu menampilkan karakter ibu yang hangat dan penuh perhatian. Tapi, secara keseluruhan, hubungan antarkeluarga terasa kurang emosional.

Alhasil, drama keluarga yang ditampilkan justru tidak begitu kuat. Padahal, film Brightburn ini, sebenarnya, berakar pada sebuah kisah keluarga. Yang dibumbui oleh mitos superhero dan horror thriller.

Hingga saat ini, belum diketahui bagaimana respon dari para kritikus. Karena Brightburn memang baru akan tayang di Amerika pada 24 Mei 2019 nanti. Lebih lambat dua minggu daripada di Indonesia.

Hanya saja, jika nanti sukses di box office, sepertinya, Sony Pictures bakal memproduksi sekuelnya. Untuk mengupas latar belakang sosok Brandon. Yang kurang digali secara mendalam di film ini. Brightburn, tampaknya, memang disiapkan oleh James Gunn sebagai pembuka dari sebuah franchise baru.

***

Brightburn

Sutradara: David Yarovesky
Produser: James Gunn, Kenneth Huang
Penulis Skenario: Mark Gunn, Brian Gunn
Pemain: Elizabeth Banks, David Denman, Jackson A. Dunn, Matt Jones, Meredith Hagner
Musik: Timothy Williams
Sinematografi: Michael Dallatorre
Penyunting: Andrew S. Eisen
Produksi: Screen Gems, Stage 6 Films, Troll Court Entertainment, The H Collective
Distributor: Sony Pictures Releasing
Durasi: 90 menit
Genre: Horror
Kategori Usia: R (17+)
Budget: USD 7 juta
Rilis: 10 Mei 2019 (Indonesia), 24 Mei 2019 (Amerika Serikat)

Rating (hingga 12 Mei 2019)
Rotten Tomatoes: –
Metacritic: –
CinemaScore:-
PostTrak: –
IMDb: 7/10

***

Edwin Dianto
Pekerja Teks Komersial, Baper Blogger & Writer
E-mail: edwindianto@gmail.com
Blog: edwindianto.wordpress.com
Follow Twitter & Instagram @edwindianto & @filmaniaindo untuk info film-film terbaru.

Advertisements
Ulasan Film: Brightburn (2019)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s