Ulasan Film: Godzilla II: King of the Monsters (2019)

Godzilla (atau Gojira) merupakan media franchise asal Jepang. Yang diciptakan dan dimiliki oleh studio film Toho. Franchise ini menampilkan karakter utama seekor kaiju. Alias monster gendut berwujud kadal raksasa. Yang muncul dari dalam laut.

Film Godzilla yang pertama dirilis oleh Toho pada tahun 1954. Dengan sutradara Ishirō Honda. Yang kemudian berkembang menjadi sebuah franchise raksasa. Bahkan, Guinness World Records menobatkannya sebagai franchise film terpanjang sepanjang masa.

Sejak kemunculannya pertama kali pada 1954 itu, Godzilla memang sudah menjadi lakon utama di 35 film (32 di antaranya diproduksi oleh Toho dan tiga sisanya merupakan bikinan Hollywood). Sepanjang sejarah, tidak ada karakter lain yang memiliki jumlah film sebanyak itu. Bahkan, James Bond yang legendaris saja baru akan memproduksi filmnya yang ke-25.

Film yang terbaru, alias yang ke-35, mulai tayang pada hari Rabu (29/5) yang lalu di bioskop-bioskop Indonesia. Judulnya: Godzilla II: King of the Monsters. Kisahnya merupakan lanjutan dari film Godzilla yang dirilis pada 2014.

Lima tahun yang lalu, sutradara Gareth Edwards memang melakukan langkah berani. Dengan me-reboot franchise film Godzilla. Yang sudah pernah dilakukan oleh sutradara spesialis bencana: Roland Emmerich. Pada 1998. Yang hasilnya gagal itu.

Iya. Film Godzilla (1998) pertama yang diproduksi oleh Hollywood tersebut memang gagal secara box office. Hanya mampu meraup pemasukan USD 379 juta. Padahal, menelan bujet hingga USD 150 juta. Tergolong sangat besar kala itu. Para kritikus juga menghujaninya dengan kritik pedas.

Namun, untungnya, film Godzilla (2014) bikinan Gareth Edwards ternyata tidak mengikuti jejak pendahulunya. Karena mampu meraup pendapatan USD 529 juta (dengan bujet USD 160 juta). Serta mendapat respon cukup positif dari para kritikus.

Kesuksesan film yang diproduksi oleh Legendary Pictures itu sekaligus mengawali sebuah franchise baru. Yaitu MonsterVerse. Yang bakal mengisahkan berbagai monster purba. Dan rencananya akan mempertemukan Godzilla dengan King Kong tahun depan!

Namun, sebelum dua monster raksasa itu bertarung, tahun ini Legendary terlebih dahulu merilis Godzilla II: King of the Monsters. Yang merupakan film ketiga dari MonsterVerse. Setelah Godzilla (2014) dan Kong: Skull Island (2017) itu.

Yang menjadi sutradara, kali ini, bukan lagi Gareth Edwards. Melainkan, Michael Dougherty. Sineas berusia 44 tahun itu mulai dikenal setelah membesut film komedi horror fantasi: Krampus (2015).

Film Godzilla II garapan Dougherty ini berlatar real time. Artinya, berlangsung lima tahun setelah kejadian di film Godzilla (2014) yang pertama. Yang kala itu melawan sepasang MUTO (Massive Unidentified Terrestrial Organism). Alias monster raksasa yang hidup di bawah permukaan Bumi.

Setelah membikin kekacauan hebat di San Fransisco pada 2014, lalu menghilang ke dasar Samudera Pasifik, tahun ini Godzilla muncul kembali. Reptil raksasa itu melawan monster hebat lainnya. Yaitu King Ghidorah. Yang memang menjadi rival utamanya sejak jutaan tahun yang lalu.

Makhluk purba yang sebelumnya hanya dianggap mitos tersebut bangkit kembali. Monster mirip naga raksasa berkepala tiga itu mengancam kelangsungan hidup umat manusia. Godzilla harus mengalahkan musuh jahatnya tersebut. Untuk menyelamatkan dunia.

Sesuai dengan namanya, King Ghidorah ini menjadi semacam raja bagi para monster. Semua mematuhi dia. Kecuali Godzilla dan Mothra. Oleh karena itu, Godzilla harus menaklukkannya. Agar bisa menjadi King of the Monsters.

Namun, King Ghidorah ini sangat kuat. Seolah tak terkalahkan. Seperti tiga naga milik Daenerys Targaryen di serial Game of Thrones, Ghidorah juga bersayap dan bisa terbang. Selain itu, dia bisa meregenerasi diri dengan cepat. Kepalanya bisa tumbuh lagi jika lehernya putus.

Di samping Ghidorah, juga ada Rodan. Yaitu monster yang mirip burung elang raksasa yang sangat buas. Selain itu, juga ada Mothra. Yang dijuluki sebagai Queen of Monsters. Yang digambarkan berbentuk kupu-kupu raksasa. Dengan sayap bercahaya yang sangat indah. Berdasarkan legenda, Mothra adalah “pacar”, alias pasangan, dari Godzilla.

Menurut sutradara Michael Dougherty, para monster yang disebut sebagai Titan itu tidak muncul tiba-tiba. Mereka sebenarnya selalu ada di sini. Jauh sebelum ada manusia. Para Titan tersebut sedang berhibernasi di berbagai titik tersembunyi. Di bawah permukaan Bumi. Jadi, berdasarkan konsep franchise MonsterVerse, dunia ini sejatinya adalah milik mereka. Kita hanya ikut numpang saja.

Dalam film blockbuster berbujet USD 200 juta ini, para Titan itu dikisahkan bangun satu per satu dari tidur panjang mereka. Setiap karakternya digambarkan dengan sangat menyeramkan. Bagi para penggemar kaiju, film ini akan terasa memuaskan. Sosok Godzilla juga ditampilkan lebih gagah. Meski perutnya tetap kelihatan gendut.

Selain menampilkan para monster yang mengerikan dan berukuran raksasa, film kedua Godzilla ini juga diperkuat oleh para bintang terkenal. Sebut saja Kyle Chandler (serial Early Edition), Vera Farmiga (franchise horror The Conjuring), Sally Hawkins (The Shape of Water), Ken Watanabe (The Last Samurai), serta aktris Tiongkok Zhang Ziyi yang supercantik itu.

Mereka berperan sebagai ilmuwan-ilmuwan dari Monarch. Alias agensi rahasia crypto-zoological. Yang khusus meneliti dan menangani makhluk-makhluk purba raksasa. Mulai dari Godzilla hingga King Kong. Yang memang menjadi benang merah dari franchise MonsterVerse bikinan Legendary Pictures ini.

Di samping bintang-bintang kawakan di atas, film Godzilla II juga diperkuat oleh aktris berusia 15 tahun. Yang sedang naik daun. Yaitu Millie Bobby Brown. Yang namanya melejit setelah membintangi serial Stranger Things di Netflix itu.

Menurut Millie, monster dalam film Godzilla ini sangat berbeda dengan Demogorgon. Alias monster yang biasa dia hadapi di Stranger Things. Karena ukurannya memang berskala lebih besar. Bahkan, sangat, sangat besar. Sampai-sampai, Millie mengaku sakit leher setelah syuting. Karena harus selalu mendongak ke atas sangat tinggi.

Sementara itu, saat diwawancarai beberapa waktu yang lalu, sutradara Michael Dougherty mengatakan, film Godzilla terbaru ini akan lebih menegangkan. Bila dibandingkan dengan film sebelumnya. Yang dibesut oleh Gareth Edwards itu. Bahkan, Dougherty mengungkap, film garapannya ini ada unsur-unsur horror-nya. Meski bukan film horror.

Apa yang dijanjikan oleh Dougherty tadi memang terbukti. Setelah dirilis secara global pada hari Jumat (31/5) kemarin, harus diakui, film berdurasi 132 menit ini memang cukup menegangkan. Karena menyajikan pertempuran para monster superbesar yang bikin nagih.

Para monster tadi bertarung sengit. Masing-masing mendapat porsi yang pas. Dengan scene yang seimbang. Latar belakang yang gelap dan efek suara yang menggelegar membuat “Clash of the Titans” tersebut semakin mencekam.

King of the Monsters, bisa dibilang, merupakan versi modern dari Godzilla. Yang memang layak untuk ditunggu oleh para fans. Karena menampilkan banyak aksi mengerikan. Yang mengguncang teater. Yang tidak ada di film Godzilla sebelumnya.

Efek visual yang disuguhkan oleh Dougherty memang luar biasa. Para fans yang ingin melihat Godzilla bertarung dengan monster-monster lainnya pasti bakal senang. Bahkan, saking kerennya, tiap adegan action dalam film ini bisa dijadikan sebagai desktop wallpaper!

Namun, sayangnya, desain yang mengagumkan saja tidak cukup untuk membuat film ini mendapat pujian dari para kritikus. Mereka menilai sutradara Mike Dougherty terlalu fokus pada pertarungan para monster. Sehingga kurang memaksimalkan potensi para pemain. Yang sebetulnya sangat bisa memperkaya jalan cerita.

Menurut para kritikus, latar belakang para tokoh dalam Godzilla II tidak digali secara maksimal. Human story-nya tidak dikembangkan. Plot ceritanya seolah-olah bukan hal yang penting. Durasi film yang cukup lama, hingga dua jam lebih, sekitar 70 persennya diisi oleh pertarungan antarmonster.

Oh, ya. Bagi yang belum menonton, jangan keburu pulang setelah film selesai. Karena bakal ada post-credits scene. Yang tampaknya berhubungan dengan film selanjutnya: Godzilla vs. Kong. Yang rencananya bakal dirilis pada 13 Maret 2020 itu.

***

Godzilla II: King of the Monsters

Sutradara: Michael Dougherty
Produser: Thomas Tull, Jon Jashni, Brian Rogers, Mary Parent, Alex Garcia
Penulis Skenario: Michael Dougherty, Zach Shields
Pengarang Cerita: Max Borenstein, Michael Dougherty, Zach Shields
Berdasarkan: Godzilla, King Ghidorah, Mothra, Rodan by Toho
Pemain: Kyle Chandler, Vera Farmiga, Millie Bobby Brown, Bradley Whitford, Sally Hawkins, Charles Dance, Thomas Middleditch, Aisha Hinds, O’Shea Jackson Jr., David Strathairn, Ken Watanabe, Zhang Ziyi
Musik: Bear McCreary
Sinematografi: Lawrence Sher
Penyunting: Roger Barton, Richard Pearson, Bob Ducsay
Produksi: Legendary Pictures
Distributor: Warner Bros. Pictures (Internasional), Toho (Jepang)
Durasi: 132 menit
Genre: Action & Adventure, Science Fiction & Fantasy
Kategori Usia: PG-13 (13+)
Budget: USD 200 juta
Rilis: 13 Mei 2019 (Beijing), 29 Mei 2019 (Indonesia), 31 Mei 2019 (Amerika Serikat)

Rating (hingga 1 Juni 2019)
Rotten Tomatoes: 40% (Rotten)
Metacritic: 49/100
CinemaScore: B+
PostTrak: 85%
IMDb: 7/10

***

Edwin Dianto
Pekerja Teks Komersial, Baper Blogger & Writer
E-mail: edwindianto@gmail.com
Blog: edwindianto.wordpress.com
Follow Twitter & Instagram @edwindianto & @filmaniaindo untuk info film-film terbaru.

Ulasan Film: Godzilla II: King of the Monsters (2019)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s