Ulasan Film: Spider-Man: Far From Home (2019)

Mulai hari Rabu (3/7) yang lalu, Peter Parker (Tom Holland) kembali beraksi sebagai manusia laba-laba dalam Spider-Man: Far From Home. Film rilisan Sony Pictures ini menjadi film Marvel Studios pertama yang ditayangkan setelah Avengers: Endgame (2019). Sekaligus menjadi film penutup Marvel Cinematic Universe (MCU) phase 3.

Kisah Spider-Man: Far From Home memang berlangsung pasca Endgame. Tepatnya, delapan bulan setelah Thanos (Josh Brolin) menjadi debu. Kehidupan di seluruh semesta sudah dipulihkan kembali. Berkat perjuangan dan pengorbanan para Avengers.

Meski demikian, dunia masih berduka. Karena harus kehilangan beberapa superhero terhebat. Begitu pula dengan Peter Parker. Menurut Tom Holland, di Far From Home, Spider-Man sedang berjuang untuk memulihkan diri. Film ini adalah tentang bagaimana dia menghadapi hidup tanpa Iron Man, dunia tanpa Iron Man.

Bagi yang belum menonton, dari trailer resmi yang dirilis beberapa waktu yang lalu, tampak duka mendalam Peter setelah kehilangan mentornya: Tony Stark (Robert Downey Jr.). Kematian sang Iron Man dalam Endgame membuatnya sangat terpukul.

Namun, life must go on. Peter masih punya tugas untuk menyelamatkan dunia tanpa Avengers. Selain itu, cowok ababil tersebut juga punya tujuan pribadi yang tak kalah penting. Intinya, banyak hal yang dialami Peter dalam film besutan Jon Watts ini.

Untuk melupakan kesedihan, salah satu caranya adalah dengan menyibukkan diri. Agar dia tidak punya waktu untuk memikirkan hal itu. Peter juga memutuskan untuk rehat sejenak sebagai Spider-Man. Dia ingin kembali ke kehidupan normalnya dan pergi berlibur. Karena sudah lelah menjadi superhero.

Peter dan teman-temannya kemudian mengikuti study tour. Yang diadakan oleh sekolahnya selama musim panas. Tujuannya: Keliling Eropa. Mulai dari Venesia hingga London. Peter juga sudah menyiapkan rencana romantis. Yaitu “nembak” gebetannya: Michelle Jones (Zendaya). Alias MJ. Saat mereka nanti berada di puncak Menara Eiffel di Paris.

Namun, semua rencana indah itu hanya menjadi wacana. Karena liburan Peter dkk tersebut diganggu oleh makhluk-makhluk raksasa. Yang sangat menyeramkan. Yang disebut sebagai The Elementals. Yang suka menghancurkan planet-planet yang mereka singgahi.

Dalam menghadapi makhluk-makhluk interdimensional tadi, Peter tidak sendirian. Dia dibantu oleh Nick Fury (Samuel L. Jackson) dan seorang tokoh baru yang bernama Quentin Beck (Jake Gyllenhaal). Yang dijuluki sebagai Mysterio itu.

Dalam komik Marvel, Mysterio adalah supervillain. Yang menjadi salah satu musuh bebuyutan Spider-Man. Seperti halnya Vulture, Green Goblin, Venom, dll. Namun, saat diwawancarai beberapa waktu yang lalu, Tom Holland menyatakan bahwa Mysterio berteman dengan Spidey. Dalam film ini, mereka bersatu untuk melawan Elemental creatures.

Mysterio sendiri dikisahkan berasal dari Bumi, tapi bukan Bumi-nya Spider-Man. Alias dari semesta paralel (multiverse). Saat menjentikkan jari-jarinya untuk menghapus separo penghuni semesta, yang di sini disebut sebagai peristiwa The Blip, Thanos juga turut membuka gerbang dimensi lain. Dari situlah Mysterio dan The Elementals datang.

Yang merekrut Mysterio adalah Nick Fury. Dari trailer juga terlihat mantan Direktur S.H.I.E.L.D. itu mengenalkannya kepada Spider-Man. Mereka diberi tugas untuk menghabisi The Elementals. Peter, yang sebenarnya ingin istirahat dari kegiatan superhero, tak kuasa menolaknya.

Masih dibayang-bayangi almarhum Tony Stark, Peter awalnya merasa ragu dan hampir menyerah. Hingga akhirnya, dia mengetahui Tony mewariskan tanggung jawab yang besar kepadanya: Sebagai penerus Iron Man.

Seperti film pertamanya, unsur remaja masih sangat kental dalam Spider-Man: Far From Home ini. Kegalauan Peter Parker masih menjadi tema utamanya. Karena Peter sejatinya memang masih ababil. Antara memilih kehidupan normal sebagai siswa SMA atau menjalankan tanggung jawab sebagai superhero.

Sejak homecoming ke MCU, film Spider-Man memang lebih mengeksplorasi kehidupan superhero dari kacamata seorang remaja. Termasuk di dalamnya dinamika persahabatan dan hubungan asmara Peter dengan MJ. Yang anak-anak SMA banget itu.

Bagi yang sudah menonton film pertama, tentu sudah tahu: Bahwa tidak ada Mary Jane “MJ” Watson di Spider-Man versi MCU. Love interest Peter Parker di sini adalah Michelle Jones. Yang sama-sama dipanggil MJ. Seorang cewek jenius, tapi freak.

Menurut Tom Holland, kisah cinta Peter dan MJ versi baru ini bukan kisah cinta yang romantis. Malah, lebih tepat disebut cinta monyet. Karena bukan cerita cinta yang berat dan serius, tapi cinta para ababil.

Peter sangat nervous ketika berada di dekat MJ. Begitu pula sebaliknya. Mereka juga nggak tahu harus ngobrol apa. Mau pegangan tangan saja takut. Apalagi pegang-pegang yang lain.

Pokoknya, manis banget. Sepanjang dua jam lebih, para penonton dibuat senyum-senyum sendiri melihat tingkah polah Peter dan MJ. Yang diakui Tom Holland mirip seperti kisah cintanya sendiri itu.

Dari trailer juga terungkap, MJ akhirnya mengetahui bahwa Peter adalah Spider-Man. Seperti halnya Tom Holland di dunia nyata, Peter memang sangat sulit menyimpan rahasia. Bagi yang belum menonton, cara MJ tahu bahwa Peter adalah Spidey bakal tersaji dalam sebuah adegan yang cukup lucu.

Unsur remaja yang sangat kental itulah yang membuat Spider-Man menjadi superhero lintas generasi. Para penonton ababil menyukainya. Karena karakter Peter Parker berhubungan dengan mereka: Sama-sama anak-anak sekolahan. Yang sedang berjuang dengan pubertasnya dan berusaha mencari pacar.

Bandingkan, misalnya, dengan Tony Stark yang seorang milyuner itu. Atau Thor yang semacam dewa tersebut. Para penonton remaja nggak relate dengan karakter mereka. Karena latar belakangnya sangat berbeda.

Sementara itu, penonton generasi tua juga bakal menyukai kisah Spider-Man. Karena mereka bisa melihat kenangan tentang masa sekolah dulu. Teringat lucunya zaman pacaran dan cinta monyet dulu.

Menurut Tom Holland, sutradara Jon Watts sangat hebat dalam menghubungkan antar generasi tadi. Tak heran, Spider-Man: Far From Home pun menjadi film untuk semua orang. Baik yang tua maupun yang muda bakal suka.

Yang spesial lainnya dari film berdurasi 130 menit ini, Spider-Man tidak hanya memakai satu atau dua kostum. Melainkan, sampai empat kostum! Bagi yang belum menonton, masing-masing kostum tersebut sudah ditampilkan sekilas dalam trailer dan TV spot resmi.

Yang pertama adalah kostum original Spider-Man. Yang berwarna merah-biru klasik. Yang dirancang oleh mendiang Tony Stark itu. Kostum berteknologi canggih tersebut dipakai Peter Parker untuk membantu Iron Man. Saat melawan Captain America (Chris Evans) di Civil War (2016) dulu.

Yang kedua adalah Iron Spider. Kostum ini juga dirancang oleh Tony Stark. Lalu, diberikan kepada Peter Parker dalam ending film Spider-Man: Homecoming (2017). Namun, Peter menolaknya. Karena tidak mau bergabung dengan Avengers.

Pada akhirnya, kostum Spidey ala Iron Man tersebut dipakai juga. Saat Peter berusaha menyelamatkan Doctor Strange (Benedict Cumberbatch). Dari serangan Ebony Maw (Tom Vaughan-Lawlor) dalam film Avengers: Infinity War (2018).

Kostum nano-tech itu kemudian juga digunakan Spider-Man dalam final battle film Avengers: Endgame. Selain berlapis baja, Iron Spider tersebut juga dilengkapi helm yang bisa dilipat secara otomatis. Serta lengan laba-laba dari metal. Yang bisa dimanfaatkan untuk bertarung atau merayap.

Di samping dua kostum lawas tersebut, Spider-Man: Far From Home juga menampilkan dua kostum anyar. Yang belum pernah terlihat di film-film sebelumnya. Kostum pertama yang menjalani debut tahun ini adalah Stealth Suit. Yang merupakan pemberian dari Nick Fury.

Kostum berwarna hitam itu juga menjadi kostum favorit Tom Holland. Karena paling nyaman dipakai. Dia mengaku bisa leluasa ke toilet meski sedang menggunakan kostum ketat tersebut. Adegan saat Peter Parker mendapatkan Stealth Suit juga menarik. Karena menjadi salah satu adegan paling lucu dalam film Spider-Man kali ini.

Kostum yang terakhir, alias yang terbaru, adalah Upgraded Suit. Sekilas, penampakannya mirip kostum original Spider-Man. Namun, warnanya bukan lagi merah-biru. Melainkan, merah-hitam.

Dalam TV spot yang dirilis beberapa waktu yang lalu, terlihat bahwa Peter Parker merancang sendiri Upgraded Suit tadi. Di dalam pesawat Stark Jet. Kostum tersebut dilengkapi semacam sayap. Yang sepintas seperti sarang laba-laba. Alhasil, Spidey bisa lebih stabil saat melayang di udara.

Segala macam hal baru itu membuat Spider-Man: Far From Home laris manis di box office. Saat opening weekend kemarin, film blockbuster berbujet USD 160 juta ini mampu mengumpulkan pemasukan USD 580 juta secara global. Tak heran, banyak yang memperkirakan film yang kedua ini bakal lebih sukses dari Homecoming. Yang “hanya” meraup USD 880 juta itu.

Respon dari para kritikus juga positif. Spider-Man: Far From Home dinilai berhasil memadukan kisah cinta romantis ala remaja dengan superhero action. Sutradara Jon Watts sukses menyajikan sebuah sekuel yang fun dan memuaskan.

Sebagaimana film-film MCU lainnya, Far From Home juga menyajikan adegan pertarungan yang cukup intens. Meski tak sedahsyat Avengers: Infinity War dan Endgame, Watts mampu menampilkan Spider-Man sebagai superhero yang paling akrobatik.

Penampilan Tom Holland juga semakin matang. Chemistry-nya dengan Zendaya cukup kuat dan natural. Keduanya sangat menyatu sebagai lead couple. Karakter mereka memang bertolak belakang, tapi sangat cocok dan nyambung. Tak heran, jika banyak yang bilang bahwa Holland adalah Peter Parker terbaik dan Zendaya adalah MJ terbaik.

Begitu pula dengan pendatang baru di MCU: Jake G. Meski ada beberapa kritikus yang menilai karakter villain di film Spider-Man kali ini kurang menonjol, adik Maggie Gyllenhaal tersebut tetap mampu berperan apik sebagai Mysterio. Salah satu karakter yang dianggap paling rumit dalam komik Marvel.

Alhasil, kesuksesan Far From Home ini membuat para fans tidak terlalu galau setelah ditinggal Iron Man. Karena Marvel Studios sudah menyiapkan Spider-Man. Sebagai salah satu ujung tombak untuk menyambut era baru MCU.

Oh, ya. Seperti biasanya, bagi yang belum menonton, jangan buru-buru keluar dari bioskop setelah film usai. Karena ada dua post-credits scene yang menambah plot twist. Yang tampaknya sangat penting dan berhubungan dengan film-film MCU berikutnya.

***

Spider-Man: Far From Home

Sutradara: Jon Watts
Produser: Kevin Feige, Amy Pascal
Penulis Skenario: Chris McKenna, Erik Sommers
Berdasarkan: Spider-Man by Stan Lee, Steve Ditko
Pemain: Tom Holland, Samuel L. Jackson, Zendaya, Cobie Smulders, Jon Favreau, J. B. Smoove, Jacob Batalon, Martin Starr, Marisa Tomei, Jake Gyllenhaal
Musik: Michael Giacchino
Sinematografi: Matthew J. Lloyd
Penyunting: Dan Lebental, Leigh Folsom-Boyd
Produksi: Columbia Pictures, Marvel Studios, Pascal Pictures
Distributor: Sony Pictures Releasing
Durasi: 130 menit
Genre: Action & Adventure, Science Fiction & Fantasy
Kategori Usia: PG-13 (13+)
Budget: USD 160 juta
Rilis: 26 Juni 2019 (Hollywood), 2 Juli 2019 (Amerika Serikat), 3 Juli 2019 (Indonesia)

Rating (hingga 8 Juli 2019)
Rotten Tomatoes – Tomatometer: 92% (Certified Fresh)
Rotten Tomatoes – Audience Score: 96% (Fresh)
Metacritic: 69/100
CinemaScore: A
PostTrak: 90%
IMDb: 8,1/10
Edwin Dianto (Filmania): 7,5/10 (B)

***

Edwin Dianto
Pekerja Teks Komersial, Baper Blogger & Writer
E-mail: edwindianto@gmail.com
Blog: edwindianto.wordpress.com
Follow Twitter & Instagram @edwindianto & @filmaniaindo untuk info film-film terbaru.

Ulasan Film: Spider-Man: Far From Home (2019)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s