Ulasan Film: Toy Story 4 (2019)

Para mainan lucu kembali menghibur para fans lewat Toy Story 4. Film animasi garapan sutradara Josh Cooley itu sudah tayang di seluruh dunia sejak bulan Juni yang lalu. Sejumlah mainan lama dan baru sukses mengocok perut sekaligus membuat haru.

Film keempat ini merupakan direct sequel dari Toy Story 3 (2010). Mengisahkan kehidupan Sheriff Woody (Tom Hanks) dkk setelah berpisah dengan Andy (John Morris). Yang kini sudah dewasa dan mulai kuliah. Yang akhirnya mewariskan mainan-mainannya kepada Bonnie (Madeleine McGraw) itu.

Awalnya, Woody dkk menjadi mainan kesayangan Bonnie. Hingga kemudian, pada hari pertama masuk Taman Kanak-Kanak, Bonnie membuat sebuah mainan baru. Yang berasal dari garpu plastik bekas. Yang dia beri nama Forky (Tony Hale).

Perhatian Bonnie pada mainan-mainan lamanya pun makin berkurang. Woody menjadi galau berat. Dia mulai mempertanyakan perannya untuk gadis kecil itu. Sebab, Bonnie sangat perhatian dan sayang terhadap Forky.

Namun, seperti anak baru lahir yang sedang mencari identitas, Forky malah menganggap dirinya sebagai sampah. Secara teknis, dia memang bukan mainan produksi pabrik seperti Woody dkk. Karena Bonnie memang membuatnya dari barang-barang bekas yang sudah tak terpakai lagi.

Saat Bonnie dan keluarganya melakukan road trip, Forky akhirnya mengambil langkah nekat. Dia kabur dengan cara meloncat dari jendela mobil. Woody yang merasa bertanggung jawab pun mengejarnya. Dia ingin mengembalikan Forky ke tangan Bonnie.

Di sinilah petualangan Woody dimulai. Selama mencari Forky, sang koboi baik hati itu banyak bertemu dengan mainan-mainan baru. Yang belum pernah muncul di tiga film Toy Story sebelumnya.

Selain itu, Woody juga bertemu lagi dengan cinta lamanya: Bo Peep (Annie Potts). Yang membuatnya kembali memikirkan eksistensinya sebagai mainan.

Menurut sutradara Josh Cooley, inti cerita dari Toy Story 4 memang lebih banyak tentang Woody. Yang menghadapi perubahan besar dalam hidupnya. Setelah tidak lagi bersama Andy. Para penonton seakan disuguhi kisah hidup Woody dari sisi yang berbeda.

Tema perubahan hidup tersebut dianggap sebagai hal yang nyambung dengan sebagian besar penonton. Terutama, bagi yang sudah mengikuti Toy Story sejak 24 tahun yang lalu. Banyak di antara mereka yang kini sudah dewasa dan mengalami berbagai fase dalam kehidupan.

Selain Woody, cerita Toy Story 4 juga diperkaya dengan munculnya tokoh-tokoh baru. Franchise andalan Pixar ini memang punya kebiasaan: Selalu menampilkan karakter baru di setiap filmnya. Bukan hanya satu atau dua, tapi banyak. Bisa lebih dari lima. Mulai dari tokoh utama hingga sekadar tokoh pendukung.

Di film yang keempat ini, tokoh baru yang berperan sangat penting adalah Forky. Keberadaannya, bisa dibilang, menjadi penggerak jalan cerita. Bahkan, peran si garpu plastik itu hampir sama pentingnya dengan dua tokoh utama: Woody dan Buzz Lightyear (Tim Allen).

Menurut produser Jonas Rivera, Pixar memang ingin menampilkan karakter yang benar-benar baru. Nah, Forky ini adalah mainan yang baru dibuat atau baru lahir. Dia tidak tahu apa-apa tentang dunia dan tujuan hidupnya. Karakternya membuat cerita lebih segar dan lucu. Terutama, saat dia membikin repot Woody.

Soal humor, para penonton Toy Story 4 juga banyak yang setuju: Forky adalah sosok pencuri pertunjukan di film ini. Sikapnya dan celetukannya yang polos menjadi lelucon yang ditunggu-tunggu di setiap scene.

Menanggapi respon positif tersebut, Tony Hale yang menjadi pengisi suaranya merasa bersyukur. Komedian berusia 48 tahun itu berhasil mengangkat karakter Forky sejajar dengan Woody dan Buzz.

Selain Forky, karakter baru yang juga menarik perhatian adalah Duke Caboom. Wujudnya berupa mainan stuntman motor asal Kanada. Yang sedang frustrasi berat. Setelah ditelantarkan oleh pemiliknya di toko barang antik.

Caboom dikisahkan tidak bisa lagi melakukan atraksi seperti yang ditunjukkan dalam iklan. Meski demikian, dia masih suka memamerkan kemampuannya berakrobat di atas motor.

Yang menarik, untuk mendapatkan pemeran Caboom, tim produksi melakukan blind audition. Dengan cara meminta aktor-aktor asal Kanada untuk merekam dan mengirimkan suara mereka. Sutradara Josh Cooley pun akhirnya kaget: Karena ternyata dia mendapatkan Keanu Reeves sebagai pemerannya!

Saat diwawancarai, lewat perannya sebagai Caboom, Reeves mengaku ingin memberikan sentuhan lebih dalam pada cerita. Bukan sekadar beraksi di atas motor. Karena, menurutnya, karakter yang diciptakan oleh Pixar itu sangat kuat dan berciri khas.

Di Toy Story 4 ini, aktor yang kerap disapa Kak Nunu itu memang ditantang untuk menunjukkan sisi lain dirinya. Ternyata, dia tidak sulit menonjolkan sisi Caboom yang percaya diri. Lantaran mirip dengan karakter yang kerap ia perankan di sejumlah film sebelumnya.

Namun, saat dituntut untuk menunjukkan sisi rapuh Caboom, Reeves mengaku harus berusaha lebih keras. Bahkan, bintang film Speed (1994) itu sampai berdiskusi lama dengan Josh Cooley. Untuk mendapat komposisi suara yang pas.

Saat diwawancarai, Josh Cooley juga menegaskan: Setiap karakter dalam Toy Story 4 memang memiliki sumbangsih pada jalan cerita. Jadi, bukan sekadar tempelan. Prosesnya memang sulit. Namun, Pixar menginginkan setiap karakter bisa punya penggemar.

Termasuk, para karakter baru. Mulai dari Forky, Duke Caboom, Gabby Gabby, hingga Giggle McDimples. Yang kecil mungil itu. Semua punya peran dalam jalan cerita. Serta punya keunikan yang membuat mereka menarik perhatian. Intinya, semua karakter punya porsi yang jelas.

Giggle McDimples, yang suaranya diisi oleh Ally Maki, merupakan miniatur boneka polisi wanita. Dia menjadi rekan seperjalanan Bo Peep. Sekaligus menjadi penasihatnya selama berpetualang.

Sementara itu, Gabby Gabby adalah boneka vintage yang menjadi tokoh antagonis. Dia menghabiskan sebagian besar hidupnya di toko barang antik setelah mesin penghasil suaranya rusak. Padahal, di lubuk hatinya yang terdalam, karakter yang diperankan oleh Christina Hendricks itu juga sangat butuh kasih sayang.

Yang membuatnya lebih menyentuh, sutradara Josh Cooley memang sengaja memunculkan definisi baru tentang penjahat. Agar muatan film lebih dewasa dan realistis, sosok Gabby Gabby digambarkan punya sisi lain. Yang bakal membuat penonton berpikir ulang tentang makna villain.

Cooley ingin menunjukkan bahwa tidak ada yang benar-benar jahat atau baik di dunia ini. Gabby Gabby hanya punya cara pandang yang berbeda dengan Woody dan mainan lain. Para penonton dia ajak untuk mengetahui kisah lengkapnya sebelum menghakimi. Cooley juga memuji Christina Hendricks yang berhasil mengisi suara Gabby Gabby dengan apik.

Seperti villain-villain pada umumnya, Gabby Gabby juga memiliki anak buah alias pelayan. Yaitu The Bensons. Geng boneka ventriloquist yang hanya bersuara jika dikendalikan oleh manusia. Meski tampang mereka cukup seram, kehadiran The Bensons sebenarnya membuat film ini lebih lucu. Terutama, dalam adegan di toko barang antik.

Dalam scene di toko yang bernama Second Chance tersebut, juga tersaji banyak easter eggs. Yaitu, hal-hal yang ada di berbagai film Pixar sebelumnya. Para penonton yang jeli pasti dapat menemukannya.

Mainan baru berikutnya yang menarik perhatian adalah Ducky & Bunny (Keegan-Michael Key & Jordan Peele). Yaitu sepasang boneka plush berwujud bebek dan kelinci. Yang ditemui Buzz di pasar raya. Keduanya sudah bosan menjadi hadiah pajangan. Dan ingin segera dimenangkan. Agar bisa bebas berpetualang di dunia luar.

Meski dihiasi oleh banyak karakter baru, karakter lama dalam Toy Story 4 tetap menjadi pusat cerita. Terutama, Woody, Buzz, dan Bo Peep. Para aktor yang menjadi pengisi suara mendapat tanggung jawab besar. Mereka harus mampu mengulang kesuksesan tiga film sebelumnya.

Tom Hanks, Tim Allen, dan Annie Potts pun dituntut untuk membuat mainan tampak hidup dengan suara mereka. Selain itu, mereka juga harus membangun koneksi dengan tokoh mainan yang mereka perankan.

Bagi Hanks, dipercaya mengisi suara Woody selama 24 tahun punya makna tersendiri. Dia merasa dirinya dan Woody adalah teman lama. Oleh karena itu, dia juga merasa bertanggung jawab untuk menjaga karakternya.

Membawakan karakter sang Sheriff sejak film Toy Story (1995) yang pertama, Hanks mengaku sudah menjadikan Woody sebagai bagian darinya. Maka dari itu, dia tidak merasa kesulitan. Ketika harus memunculkan kembali karakter Woody dalam suaranya.

Di Toy Story 4 ini, Woody memang dikisahkan sedang mengalami masa transisi. Hidupnya berubah total sejak tidak lagi bersama Andy. Oleh karena itu, Hanks harus menyesuaikan karakter suaranya di berbagai adegan. Untungnya, karakter yang didesain oleh Pixar sangat detail. Sehingga dia sangat terbantu ketika proses reading dan pendalaman.

Hal serupa juga dialami oleh Tim Allen. Yang sudah terlanjur lekat dengan karakter Buzz Lightyear. Yang tegas sekaligus baik hati itu. Seperti halnya Woody, sosok astronot yang berkostum putih dan hijau itu selalu muncul di setiap film Toy Story.

Di film yang keempat ini, Buzz kembali mendampingi Woody. Dia juga mengarahkan sobatnya tersebut untuk lebih mendengar isi hatinya. Yang menarik, di dunia nyata, dua pengisi suara, Tom Hanks dan Tim Allen, juga bersahabat layaknya Woody dan Buzz.

Selain Hanks dan Allen, Annie Potts juga kembali mengisi suara Bo Peep. Yang sudah absen selama 20 tahun dari franchise Toy Story tersebut. Terakhir kali karakter gadis porselen itu muncul di film yang kedua pada 1999.

Potts pun mengaku kerinduannya pada Peep akhirnya terbayar. Aktris senior yang sudah berusia 66 tahun itu bisa merasakan kehangatan. Karena bisa kembali bertemu dengan sosok yang lovely tersebut.

Namun, meski sudah mengenal karakter Peep dengan baik, bukan berarti mudah bagi Potts untuk mengisi suaranya. Karena karakter tersebut sudah mengalami banyak perubahan. Untungnya, dengan pengalaman sebagai aktris lebih dari 40 tahun, Potts tak sulit beradaptasi. Sehingga membantunya untuk berperan kembali sebagai Peep.

Karakter Peep di film terbaru ini memang ditampilkan lebih kuat dan independen. Hal itu menjadi salah satu cara bagi Pixar. Untuk menyesuaikan dengan film-film rilisan Disney. Yang akhir-akhir ini menonjolkan karakter perempuan kuat.

Menurut produser Jonas Rivera, yang kebetulan memiliki anak gadis itu, Pixar memang ingin anak-anak cewek di seluruh dunia punya role model seorang perempuan yang kuat. Sebelum Bo Peep, sejatinya sudah cukup banyak karakter cewek Pixar yang dominan. Sebut saja: Merida (Brave), Elastigirl (The Incredibles), Joy (Inside Out), dan Dory (Finding Dory).

Selain para pengisi suara, yang berperan besar dalam menghidupkan kembali para mainan dalam film Toy Story 4 adalah tim artistik. Salah satu anggotanya adalah Mara MacMahon. Character artist yang merupakan desainer dari Bo Peep itu merancang penampilannya yang baru. Namun, tetap dengan karakteristik seperti di film sebelumnya.

Untuk bisa mendesain dengan tepat, MacMahon pun harus tahu persis karakter Peep. Yang sudah menghilang selama 20 tahun itu. Dia harus mencermati desain jadulnya dari film Toy Story 2. Yang memakai gaun lebar itu. Karena di film yang keempat ini MacMahon harus merombak desainnya.

Jika dicermati dengan seksama, busana Peep memang berubah. Mungkin, karena dikisahkan dia sudah lama berpetualang. Gaun panjangnya diubah menjadi baju dalam terusan. Roknya juga diganti dengan jubah.

Meski demikian, MacMahon terlihat tetap mempertahankan sejumlah detail feminin sebagai karakteristik utamanya. Misalnya, warna pastel dan pita yang dipakai oleh Peep.

Menurut desainer yang juga terlibat dalam produksi film animasi pendek Bao tersebut, meski penampilannya sudah berubah, Pixar memang ingin tetap menjaga orisinalitas karakter Peep. Seperti yang sudah dikenal oleh para fans selama ini.

Tugas mempertahankan orisinalitas karakter juga diemban oleh tim artistik untuk karakter lain. Terutama, karakter Woody dan Buzz. Yang sudah menjadi ikon Toy Story. Desain keduanya harus konsisten. Alias sama persis dengan film-film sebelumnya.

Selain desain, pergerakan para karakter tersebut juga harus selaras dengan tiga film pendahulunya. Misalnya, ekspresinya harus serupa. Sesuai dengan ciri khas masing-masing tokoh tadi.

Sebagai inspirasi pergerakan Bo Peep, MacMahon dkk memilih pesenam. Mereka terinspirasi karakteristik gerakan akrobatiknya yang lincah, indah, tapi tetap menunjukkan sisi feminin.

Tugas MacMahon sebagai character modeler adalah mewujudkan desain artistik tersebut menjadi model tiga dimensi. Yang sesuai dengan ekspektasi para penonton. Sebagai referensi, MacMahon harus mengobservasi film-film Toy Story sebelumnya untuk mendapat dasar desain.

Setelah model tiga dimensinya jadi, dia harus membuat karakternya lebih hidup. Misalnya, bulu mata, garis senyum, atau gerakan jari-jarinya. Menurut MacMahon, itu semua memang sulit, tapi menjadi sangat menggembirakan setelah berhasil diwujudkan.

Sejatinya, banyak fans yang berpikir bahwa franchise ini sudah tamat setelah Toy Story 3. Namun, akhirnya tetap berlanjut ke film yang keempat. Adalah produser Mark Nielsen yang memiliki ide awalnya.

Begitu film ketiga selesai, tiba-tiba Nielsen berpikir: Bagaimana jika Bo Peep yang sudah lama menghilang tersebut muncul lagi? Oleh karena itu, kode awal dari skenario film Toy Story 4 adalah Peep.

Menurut Nielsen, karakter Bo Peep selalu menjadi bagian dari franchise Toy Story. Selain itu, Pixar juga ingin ada kisah lanjutan Woody dan Buzz Lightyear setelah tidak bersama Andy. Singkat cerita, dimulailah proyek film yang keempat ini.

Saat Peep menghilang di film ketiga, Woody sangat galau. Itu menjadi salah satu misteri terbesar dalam franchise Toy Story. Ke mana boneka porselen tersebut pergi? Apa yang terjadi pada dia? Film yang keempat ini adalah jawabannya.

Produser Jonas Rivera menambahkan, karakter Bo Peep memang punya hubungan spesial dengan Woody. Bisa dibilang, dia adalah pacarnya. Peep selalu mendampingi setiap kali Woody berada dalam masalah.

Begitu pula di film yang keempat ini. Saat Woody sedang menghadapi masa sulit, Peep adalah sosok yang tepat untuk berada di sisinya. Tak ada karakter mainan lain yang cocok untuk mendampinginya.

Menurut Josh Cooley, lewat reuni Woody dan Bo Peep, film Toy Story 4 ingin menyampaikan pesan: Bahwa kita semua berubah. Perjalanan hidup membuat kita harus berani mengganti pola pikir dan, bahkan, berpisah. Hampir semua orang mengalami hal itu.

Bisa dibilang, film keempat ini sangat dramatis, emosional, dan kisahnya cukup dewasa. Meski demikian, tim penulis sudah menggodok skenarionya sedemikian rupa. Agar tetap mudah dicerna. Masih ada banyak lelucon dan keseruan. Yang cocok untuk dinikmati penonton anak-anak dan remaja.

Sementara itu, Josh Cooley sendiri mengakui tanggung jawab besar yang dia emban. Ketika ditunjuk oleh Pixar untuk membesut Toy Story 4. Sekitar lima tahun yang lalu. Apalagi, ini adalah kali pertama dia menjadi sutradara.

Cooley langsung mendapat tugas untuk membuat film animasi yang sangat besar. Yang bujet produksinya mencapai USD 200 juta. Yang franchise-nya sangat laris di pasaran itu.

Untungnya, Cooley sudah mengetahui cerita film-film Toy Story sebelumnya. Terlebih, dia sangat suka dengan ending film ketiganya. Tugasnya kali ini adalah membuat kisah pamungkas yang lebih bagus. Yang akhirnya menjadi kenyataan itu.

Setelah tayang secara global pada akhir Juni yang lalu, Toy Story 4 mendapat respon sangat positif dari para kritikus. Bahkan, dijagokan untuk merebut Piala Oscar tahun depan. Mengulang prestasi film ketiganya.

Meski mengangkat tema yang cukup matang, para kritikus menilai Toy Story 4 tetap menampilkan humor dan lawakan khas para mainan. Menontonnya akan membuat kita merasa seperti anak kecil lagi.

Lewat film berdurasi 100 menit ini, para penonton akan dibuat tertawa. Dengan tingkah polah para mainan. Yang berusaha tidak terlihat bisa bergerak itu. Sekaligus dengan cara mereka memandang kehidupan manusia.

Selain humor, petualangan seru juga kembali muncul seperti di tiga film sebelumnya. Di bagian pertengahan hingga akhir, para penonton bakal ikut merasakan upaya keras Woody dalam mencari Forky. Peran Bo Peep yang lebih strong dan mandiri juga semakin mewarnai cerita.

Setelah humor yang mengocok perut dan petualangan seru tadi, kisah Toy Story 4 ditutup dengan ending yang sangat mengharukan dan dramatis. Yang ditampilkan oleh Woody dan Peep. Yang menunjukkan sisi emosional mereka di akhir film.

Keputusan besar Woody membuat siapa pun yang menontonnya bakal meneteskan air mata. Toy Story 4 pun menjadi salah satu film dengan ending paling sedih tahun ini. Namun, dalam artian yang positif.

Secara box office, film yang skenarionya ditulis oleh Stephany Folsom dan Andrew Stanton ini juga cukup sukses. Hingga sekarang sudah mengumpulkan pemasukan USD 776 juta dari seluruh dunia.

Memang, belum mampu menyalip capaian pendahulunya, film ketiga. Yang mampu menembus USD 1 miliar di box office itu. Namun, Toy Story 4 sudah berhasil menjadi film animasi terlaris hingga pertengahan tahun ini.

Kesuksesan tersebut, tentu saja, bakal berpengaruh pada masa depan franchise Toy Story. Apakah film keempat ini bakal benar-benar menjadi film pamungkas? Yang artinya tidak akan ada Toy Story 5?

Saat diwawancarai, produser Jonas Rivera mengakui itu adalah pertanyaan yang sulit. Sekadar informasi, dulu Pixar juga sempat berpikir bahwa Toy Story 2 adalah film yang terakhir. Namun, nyatanya, muncul film ketiga. Yang kemudian disusul oleh film keempat tahun ini.

Oleh karena itu, bisa jadi, bakal ada proyek lanjutan atau semacamnya. Seperti spin-off, prekuel, dsb. Meski, hingga kini, Rivera mengaku belum punya rencana apa-apa terkait lanjutan franchise Toy Story. Mungkin, sambil menunggu ide baru. Yang terkadang bisa muncul secara tiba-tiba.

***

Toy Story 4

Sutradara: Josh Cooley
Produser: Jonas Rivera, Mark Nielsen
Penulis Skenario: Stephany Folsom, Andrew Stanton
Pengarang Cerita: John Lasseter, Rashida Jones, Will McCormack, Josh Cooley, Valerie LaPointe, Martin Hynes, Stephany Folsom, Andrew Stanton
Pemain: Tom Hanks, Tim Allen, Annie Potts, Tony Hale, Keegan-Michael Key, Jordan Peele, Madeleine McGraw, Christina Hendricks, Keanu Reeves, Ally Maki, Jay Hernandez, Lori Alan, Joan Cusack
Musik: Randy Newman
Sinematografi: Patrick Lin (camera), Jean-Claude Kalache (lighting)
Penyunting: Axel Geddes
Produksi: Walt Disney Pictures, Pixar Animation Studios
Distributor: Walt Disney Studios Motion Pictures
Durasi: 90 menit
Genre: Animation, Comedy, Kids & Family, Science Fiction & Fantasy
Kategori Usia: PG (SU)
Budget: USD 200 juta
Rilis: 11 Juni 2019 (El Capitan Theatre), 21 Juni 2019 (Amerika Serikat & Indonesia)

Rating (hingga 17 Juli 2019)
Rotten Tomatoes – Tomatometer: 98% (Certified Fresh)
Rotten Tomatoes – Audience Score: 94% (Fresh)
Metacritic: 84/100
CinemaScore: A
PostTrak: 89%
IMDb: 8,3/10
Edwin Dianto (Filmania): 8,5/10 (A)

***

Edwin Dianto
Pekerja Teks Komersial, Baper Blogger & Writer
E-mail: edwindianto@gmail.com
Blog: edwindianto.wordpress.com
Follow Twitter & Instagram @edwindianto & @filmaniaindo untuk info film-film terbaru.

Ulasan Film: Toy Story 4 (2019)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s