Ulasan Film: Dora and the Lost City of Gold (2019)

Dora the Explorer kembali bertualang. Bukan lagi di televisi, tapi di layar lebar. Lewat Dora and the Lost City of Gold. Film berdurasi 102 menit ini sudah tayang di bioskop-bioskop sejak 9 Agustus 2019 yang lalu.

Dora the Explorer merupakan salah satu serial kartun paling populer. Yang tayang di jaringan televisi kabel Nickelodeon. Sejak tahun 2000 yang lalu. Serial ini sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa di dunia. Termasuk, bahasa Indonesia.

Serial yang sudah mencapai 178 episode ini juga sangat disukai oleh emak-emak. Karena mengandung pelajaran berharga buat anak-anak. Mengisahkan tentang petualangan Dora Marquez. Seorang gadis kecil berusia 7 tahun asal Amerika Latin. Yang terkenal dengan rambut berponinya yang lucu dan ikonik itu.

Dora adalah petualang cilik. Yang pemberani dan baik hati. Dia memiliki peta dan backpack ajaib. Yang selalu dia bawa saat menjelajah hutan belantara. Selain itu, Dora juga ditemani oleh seekor monyet yang bernama Boots.

Berbeda dengan serial animasinya, di versi filmnya ini, Dora (Isabela Moner) ditampilkan sebagai seorang remaja. Yang ramah dan lucu. Namun, tidak kehilangan semangatnya dalam bertualang.

Dora dikisahkan menjadi anak tunggal dari pasangan arkeolog dan ahli zoologi: Cole dan Elena. Yang diperankan oleh Michael Pena dan Eva Longoria. Setelah sejak kecil tinggal di hutan, di pedalaman Peru, Dora akhirnya pindah ke kota. Ke Los Angeles, Amerika. Untuk memulai petualangan barunya. Di bangku sekolah. Sebagai anak SMA.

Di LA, Dora tinggal bersama keluarga sepupunya. Yang bernama Diego (Jeff Wahlberg). Kehadiran cewek yang berjiwa petualang itu langsung menarik perhatian lingkungan sekitar dan sekolahnya.

Dora sangat ramah. Bahkan, terlalu ramah. Dia juga sangat polos. Ranselnya sering kena geledah oleh petugas keamanan di sekolahnya. Karena berisi perlengkapan untuk bertualang. Mulai dari sekop, semprotan antinyamuk, hingga senjata tajam. Hal itu sempat membuat Diego malu sebagai sepupunya.

Namun, keberadaan Dora di LA tidak berlangsung lama. Bersama Diego dan dua temannya, Dora kembali ke hutan di pedalaman Peru. Untuk mencari kedua orang tuanya. Yang hilang saat menyelidiki kota kuno Parapata. Peninggalan peradaban Inca. Yang banyak harta karunnya. Sehingga dijuluki the Lost City of Gold itu.

Meski mendapat bantuan dari Alejandro Gutierrez (Eugenio Derbez), seorang professor dan explorer dari Peru, petualangan Dora dan kawan-kawannya di sana tidak berjalan mulus. Mereka harus melalui berbagai rintangan. Seperti pasir isap, serangan penjaga hutan Inca, dan harus memecahkan teka-teki Parapata. Yang penuh dengan jebakan itu.

Selain karakter manusia, film Dora versi live-action ini juga dihiasi oleh karakter hewan. Seperti versi animasinya. Yaitu Boots the Monkey dan si Rubah Pencuri, Swiper the Fox. Keduanya ditampilkan dengan teknologi CGI (computer-generated imagery). Dua aktor Latin terkenal didapuk untuk mengisi suara mereka: Danny Trejo dan Benicio del Toro.

Proyek pembuatan film live-action Dora the Explorer sebenarnya sudah terdengar sejak tahun 2015. Saat itu, Paramount Pictures, yang mengantongi hak untuk memfilmkannya, menunjuk Tom Wheeler sebagai penulis skenarionya dan Mary Parent sebagai produsernya.

Namun, proyek tersebut tidak kunjung terealisasi. Hingga kemudian, pada tahun 2017 yang lalu, kembali muncul kabar: Platinum Dunes, rumah produksi milik sutradara terkenal Michael Bay, akan menggarap film live-action Dora the Explorer.

Yang cukup mengejutkan, Michael Bay sendiri yang kabarnya bakal memproduserinya. Dengan menggandeng dua rekannya: Andrew Form dan Brad Fuller. Sedangkan skenarionya akan ditulis oleh Nicholas Stoller. Yang sudah berpengalaman menghasilkan naskah film bertema keluarga. Seperti The Muppets (2011), Neighbors (2014), dan Storks (2016).

Kala itu, para fans cukup antusias mendengar kabar tersebut. Mereka penasaran dengan film Dora the Explorer yang bakal diproduseri Michael Bay. Yang selama ini identik dengan film action yang penuh dengan ledakan hebat nan lebay itu. Sebut saja Armageddon (1998), Pearl Harbor (2001), dan franchise Transformers (2007-2017).

Namun, pada akhirnya, rasa penasaran para fans tadi urung terjawab. Karena Michael Bay ternyata tidak jadi terlibat. Proyek film live-action Dora the Explorer memang tetap berjalan, tapi dengan produser Kristin Burr dan sutradara James Bobin.

Film yang kemudian diberi judul Dora and the Lost City of Gold itu merupakan proyek adaptasi Nickelodeon yang ke-14. Namun, menjadi film pertama yang dirilis oleh Paramount Players. Yaitu anak perusahaan Paramount Pictures. Yang fokusnya menggarap proyek adaptasi asset Viacom (induk perusahaan Nickelodeon).

Proses produksinya kemudian dimulai pada 12 Agustus 2018 yang lalu. Meski didominasi cast keturunan Latin, dan mengangkat tema peradaban Inca di pedalaman Peru, lokasi syutingnya justru dilakukan di Queensland, Australia. Yang notabene sangat jauh dari Amerika itu.

Menurut Kepala Bidang Produksi Paramount Pictures Lee Rosenthal, lokasi tersebut memang sangat pas untuk syuting film bertema petualangan. Di Queensland, mereka bisa mendapatkan kru yang keren, stage, dan topografi hutan sekaligus kota di satu lokasi.

Menurut salah satu pemeran utama, Eugenio Derbez, meski diadaptasi dari serial kartun, syuting film Dora and the Lost City of Gold ini tidak gampang. Mereka harus bertaruh nyawa setiap hari. Sebab, hutan belantara di Australia yang menjadi lokasi pengambilan gambar tadi dihuni oleh banyak serangga dan ular berbisa.

Semula, banyak kritikus yang meragukan film Dora versi modern ini. Namun, setelah dirilis secara global dua pekan yang lalu, mereka harus menelan ludah sendiri. Di luar dugaan, film yang produksinya menelan biaya USD 49 juta ini cukup seru!

Sutradara James Bobin tetap mempertahankan ciri khas kisah petualangan seperti versi kartunnya. Mulai dari alur bertualang, adegan pesta setelah menuntaskan misi petualangan, hingga dialog Dora dengan para penonton.

Akting Isabela Moner yang mendapat paling banyak pujian dari para kritikus. Penampilannya yang kocak dan norak itu mampu menghidupkan cerita. Yang dikemas dengan sangat menghibur tersebut. Sangat cocok sebagai tontonan untuk seluruh keluarga.

Para kritikus juga memuji sutradara James Bobin. Yang sukses mengadaptasi serial Dora the Explorer menjadi lebih segar. Dia dianggap tidak takut melakukan perubahan yang berani pada sebuah materi daur ulang.

Yang menarik, respon positif dari para kritikus ini menjadi kemenangan Nickelodeon atas Disney. Yang selama ini menjadi pesaing di dunia hiburan anak-anak tersebut. Rating Dora and the Lost City of Gold terbukti lebih tinggi dari film-film live-action produksi Disney tahun ini. Seperti Dumbo, Aladdin, dan The Lion King. Yang semuanya mendapat respon negatif dari para kritikus itu.

Can you say, delicioso?

***

Dora and the Lost City of Gold

Sutradara: James Bobin
Produser: Kristin Burr
Penulis Skenario: Nicholas Stoller, Matthew Robinson
Pengarang Cerita: Tom Wheeler, Nicholas Stoller
Berdasarkan: Dora the Explorer by Chris Gifford, Valerie Walsh Valdes, Eric Weiner
Pemain: Isabela Moner, Eugenio Derbez, Michael Peña, Eva Longoria, Danny Trejo
Musik: John Debney, Germaine Franco
Sinematografi: Javier Aguirresarobe
Penyunting: Mark Everson
Produksi: Paramount Players, Nickelodeon Movies, Walden Media, Media Rights Capital, Burr! Productions
Distributor: Paramount Pictures
Durasi: 102 menit
Genre: Action & Adventure, Kids & Family
Kategori Usia: PG (SU)
Budget: USD 49 juta
Rilis: 9 Agustus 2019 (Indonesia & Amerika Serikat)

Rating (hingga 19 Agustus 2019)
Rotten Tomatoes – Tomatometer: 83% (Certified Fresh)
Rotten Tomatoes – Audience Score: 88% (Fresh)
Metacritic: 63/100
CinemaScore: A
PostTrak: 4,5/5
IMDb: 5,9/10
Edwin Dianto (Filmania): 7/10 (B)

***

Edwin Dianto
Pekerja Teks Komersial, Baper Blogger & Writer
E-mail: edwindianto@gmail.com
Blog: edwindianto.wordpress.com
Follow Twitter & Instagram @edwindianto & @filmaniaindo untuk info film-film terbaru.

Ulasan Film: Dora and the Lost City of Gold (2019)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s