Ulasan Film: Joker (2019)

Para penonton berdiri memberikan aplaus. Alias standing ovation. Selama delapan menit. Bahkan, saat credits belum bergulir. Itulah gambaran yang tersaji setelah screening perdana sekaligus world premiere film Joker. Di Venice Film Festival (VFF). Pada akhir bulan Agustus yang lalu.

Penampilan Joaquin Phoenix, sebagai villain ikonik DC Comics dengan dandanan badut itu, memang menuai banyak pujian. Para kritikus yang menontonnya di Venice langsung menjagokannya: Untuk masuk nominasi Piala Oscar. Bahkan, banyak yang bilang, ia layak memenangkan kategori Aktor Terbaik di Academy Awards tahun depan.

Sambutan positif tersebut, akhirnya, juga mengantarkan Joker yang berbujet “hanya” USD 70 juta itu sebagai pemenang Golden Lion. Alias penghargaan sebagai Film Terbaik di VFF. Salah satu festival film tertua dan paling bergengsi di dunia.

Kesuksesan di Venice tadi juga berlanjut di bioskop. Setelah dirilis dua pekan yang lalu, film besutan Todd Phillips itu memuncaki box office di Amerika Utara. Dengan pendapatan USD 93,5 juta saat opening weekend. Yang sekaligus menjadi rekor tertinggi penayangan perdana di bulan Oktober. Hingga kini, Joker sudah mengumpulkan lebih dari USD 600 juta dari seluruh dunia!

Di situs IMDb, Joker juga berhasil masuk Top 10 film dengan rating tertinggi sepanjang masa. Skornya 8,9/10. Lebih tinggi daripada Avengers: Endgame (2019). Yang hanya meraih skor 8,4/10 itu. Dibanding film-film adaptasi komik lainnya, Joker hanya kalah dari The Dark Knight (2008). Yang nangkring di posisi keempat. Dengan skor 9/10 itu.

Kesuksesan Joker di IMDb maupun di box office tadi, bisa dibilang, sedikit di luar perkiraan. Mengingat klasifikasinya sebagai film R-rated. Alias film khusus untuk orang dewasa. Sejak awal, sudah banyak yang memperingatkan. Bahwa tontonan untuk usia 17 tahun ke atas ini mengangkat tema yang sangat kelam.

Film Joker yang berdurasi 122 menit tersebut memang menampilkan banyak adegan kekerasan. Di Amerika, pihak bioskop diwajibkan untuk memperketat pengamanan. Bahkan, NYPD alias Kepolisian New York sampai menerjunkan petugas untuk menjaga penayangannya.

Setiap penonton di sana diperiksa kartu identitasnya. Anak-anak yang berusia di bawah 17 tahun wajib didampingi orang tua ketika menonton film Joker ini. Selain itu, mereka juga dilarang memakai riasan wajah, topeng, maupun membawa senjata mainan.

Bagi penonton di Indonesia, ketatnya pengamanan tadi mungkin terlalu berlebihan. Namun, kekhawatiran publik Amerika terhadap film Joker ini memang bukan tanpa alasan. Pada 20 Juli 2012, penayangan perdana The Dark Knight Rises di bioskop Cinemark, Aurora, Colorado, berakhir tragis: Sebanyak 12 orang meninggal, dan 70 orang lainnya terluka, akibat penembakan massal.

Pelaku teror keji saat itu adalah mahasiswa kedokteran dari Universitas Colorado. Yang bernama James Holmes. Yang diduga mengalami kelainan jiwa: Merasa dirinya sebagai Joker. Yang merupakan musuh abadi Batman the Dark Knight tersebut.

Tragedi tadi masih meninggalkan trauma hingga kini. Bahkan, lima keluarga dari Aurora sampai menulis surat terbuka untuk Warner Bros. Pictures selaku studio yang merilis Joker. Isinya tentang ketakutan mereka terhadap film ini. Yang mungkin bisa memicu aksi penembakan serupa. Pemilik bioskop tempat terjadinya tragedi tujuh tahun yang lalu, akhirnya, memutuskan untuk tidak menayangkannya.

Tidak mau dituduh film yang mereka produksi menebar teror, pihak Warner Bros. Pictures kemudian juga merilis pernyataan tertulis. Isinya: Karakter fiksi Joker, maupun film tentangnya, sama sekali tidak bertujuan untuk mendukung kekerasan dalam bentuk apa pun di dunia nyata.

Joaquin Phoenix dan sutradara Todd Phillips kemudian juga mengadakan konferensi pers. Mereka menegaskan sama sekali tidak berniat mempromosikan kekerasan lewat film Joker. Sesi karpet merah menjelang premiere di Hollywood pada 28 September yang lalu, akhirnya, juga ditiadakan untuk menghindari pertanyaan serupa dari awak media.

Kelamnya kisah yang disajikan oleh film Joker memang diakui oleh para penonton. Bahkan, di Inggris, kabarnya banyak yang memilih keluar lebih awal dari bioskop. Gara-gara tidak tahan dengan adegan kekerasan yang ditampilkan. Jadi, hal itu memang nyata dan bukan mengada-ada. Dan ada pula yang menilai film ini terlalu menonjolkan isu kesehatan mental.

Kisah film Joker memang tidak lagi menempatkannya sebagai musuh Batman. Kali ini, sosok villain dari Gotham City itu malah menjadi tokoh utama. Berbeda dengan film-film DC Comics lainnya.

Perjalanan hidup Arthur Fleck (Joaquin Phoenix) dikuliti sampai habis. Termasuk, proses perubahannya: Dari orang baik yang tersakiti hingga menjadi orang jahat. Dari seorang badut biasa hingga menjadi pembunuh sadis di balik riasan Joker.

Transformasi tersebut memang sangat menarik untuk diikuti. Bahkan, kabarnya, banyak psikiater yang mengadakan nonton bareng film ini. Hanya untuk mengamati psikodinamika Joker: Apa yang terjadi, kenapa ia bisa menjadi seperti itu, pasti ada psikodinamikanya.

Saat diwawancarai, sutradara Todd Phillips memang mengaku ingin membuat karakter dari komik yang selaras dengan kehidupan nyata. Oleh karena itu, ia akhirnya memilih Joker. Yang selama ini dikenal sebagai musuh terbesar Batman dalam DC Universe itu.

Menurut Phillips, di balik perilaku sintingnya, Joker sejatinya memiliki latar belakang yang sangat kompleks dan pilu. Asal-usul yang kelam itulah yang kemudian ia tuangkan dalam film. Yang skenarionya juga ia tulis bersama Scott Silver ini.

Joker dikisahkan sebagai korban kerasnya kehidupan. Gotham City, yang menjadi tempat tinggalnya, pada tahun 1981 digambarkan sebagai sebuah kota besar dengan kesenjangan sosial yang sangat lebar. Seperti kata Bang Haji Rhoma Irama: Yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin.

Menjalani kehidupan sebagai badut sewaan, Joker yang bernama asli Arthur Fleck itu kerap mendapat kesulitan dan cobaan. Di-bully. Dikata-katai sebagai orang aneh dan gila. Dipecat dari tempatnya bekerja. Hingga dikeroyok dan dipukuli ramai-ramai oleh para berandalan. Adalah makanan sehari-harinya.

Kehidupannya menjadi semakin menyesakkan karena Arthur memiliki masalah kejiwaan sejak kecil. Ia bisa tiba-tiba tertawa. Terbahak-bahak. Tanpa berhenti. Termasuk, saat berada dalam kondisi sedih dan takut sekalipun.

Tertawa yang tak kenal waktu itu akibat dari kondisi mental yang terganggu. Yang dalam dunia medis disebut sebagai pseudobulbar affect (PBA). Yaitu sebuah gangguan emosional. Ketika ekspresi seseorang benar-benar tidak berhubungan dengan suasana hati yang sesungguhnya.

Selain itu, sebagai anak tunggal yang tidak jelas siapa ayahnya, Arthur juga harus merawat ibunya yang sudah tua: Penny Fleck (Frances Conroy). Yang juga mengalami gangguan jiwa itu. Mereka berdua tinggal di sebuah apartemen kecil yang kumuh.

Meski demikian, sang nyokap yang memanggil Arthur dengan sebutan Happy itu selalu berpesan: Agar ia tidak lupa untuk tersenyum dan menampakkan wajah yang bahagia. Don’t forget to smile and put on a happy face.

Selama satu jam pertama, film Joker memang berjalan lambat. Para penonton disuguhi oleh kelamnya kehidupan Arthur Fleck dan warna-warninya. Mulai dari mimpinya sebagai stand-up comedian, tampil di acara talkshow di televisi yang dipandu idolanya, Murray Franklin (Robert De Niro), hingga kisah cintanya sebagai seorang jones. Alias jomblo ngenes. Yang diam-diam naksir janda beranak satu: Sophie Dumond (Zazie Beetz). Yang merupakan tetangganya sendiri di rumah susun tersebut.

Selain itu, hubungan Arthur Fleck dan Thomas Wayne (Brett Cullen) juga bakal diungkap di film ini. Politisi sekaligus pengusaha kaya tersebut sedang mencalonkan diri sebagai walikota Gotham City. Dan hal yang paling menarik bagi fans DC Comics: Thomas adalah ayah dari Bruce Wayne (Dante Pereira-Olson). Yang di film ini masih anak-anak. Yang kelak bakal menjadi Batman. Alias musuh bebuyutan Joker tersebut.

Dunia yang seakan tidak berpihak kepadanya, serta rahasia mengenai Thomas Wayne yang baru terungkap, yang semakin mengguncang mentalnya itu, adalah beberapa pemicu lahirnya Joker dalam diri Arthur. Yang ditandai dengan tercetusnya sebuah kalimat yang sangat legendaris dari mulutnya: I thought my life was a tragedy, but now I realize it’s a comedy. Aku dulu mengira hidupku adalah sebuah tragedi, tapi sekarang aku sadar ini adalah komedi.

Cerita film Joker akhirnya berkembang menjadi kisah pemberontakan. Masyarakat yang sedang melakukan demonstrasi menjadikan pelawak sinting tersebut sebagai simbol perlawanan dan kemarahan. Atas ketidakbecusan pemerintah Gotham City dalam menangani masalah. Yang penuh dengan aksi vandalisme dan tumpukan sampah itu.

Film ini memang tidak berkaitan dengan film Batman manapun di DC Extended Universe (DCEU). Namun, ada beberapa fans yang menganggap kisahnya sangat cocok jika menjadi prekuel. Alias origin. Dari Joker versi Heath Ledger dalam The Dark Knight (2008). Apalagi, ending-nya juga sangat nyambung dengan film Batman Begins (2005).

Selama ini, DC Comics memang selalu menghadirkan sosok superhero dengan development karakter yang kuat. Nggak heran, para fans-nya terkenal setia dan loyal. Bahkan, mungkin lebih fanatik daripada fans Marvel.

Lewat film Joker ini, para fans DC bukan lagi disuguhi sosok superhero, melainkan antihero. Dengan jalan cerita yang bikin orang terperangah. Dengan akting Joaquin Phoenix yang benar-benar gila.

Di DC Comics, Joker sebenarnya bukan tokoh baru. Sosoknya pertama kali muncul pada 1940. Diperkenalkan sebagai seorang psikopat sadis. Yang kerap menjadi otak kriminal dan menjadi musuh abadi Batman di Gotham City.

Pada tahun 1950-an, karakter Joker dalam komik sempat melunak. Perubahan itu mengikuti peraturan yang digariskan oleh Comics Code Authority (CCA). Alhasil, penampilan pertama Joker, yang diperankan oleh Cesar Romero, dalam serial televisi dan film Batman (1966), jauh dari kesan bengis dan seram. Sosoknya hanya ditampilkan sebagai bapak-bapak dengan riasan badut yang sering bikin masalah.

Joker baru kembali ke tabiat aslinya pada 1988. Tepatnya, lewat komik The Killing Joke karya Alan Moore. Penulis miniseri novel grafis Watchmen (1986) itu mengupas identitas asli Joker. Serta sisi kelam dan alasannya hingga menjadi seorang villain.

Meski demikian, ketika diwawancarai pada 2016, Moore justru menilai karyanya tadi terlalu berlebihan. Menurutnya, kisah The Killing Joke terlalu melodramatis dan membebani karakter Joker. Yang sejak awal memang didesain untuk tidak punya latar belakang itu.

Komikus yang juga menulis V for Vendetta (1988) tersebut menyatakan penyesalannya. Karena telah memulai tren penuturan cerita yang kelam. Baginya, saat ini komik telah kehilangan sentuhan yang orisinal dan apa adanya. Banyak tokoh komik yang terjebak dalam kondisi depresi, kelam, dan psikosis.

Namun, terlepas dari segala kontroversinya tadi, harus diakui bahwa The Killing Joke merupakan karya cult klasik. Yang juga menjadi rujukan banyak pemeran Joker setelah Cesar Romero.

Adalah Jack Nicholson yang mulai berkiblat pada komik karya Alan Moore tersebut. Ia berperan sebagai Joker yang bernama asli Jack Napier dalam film Batman (1989). Dengan senyum khasnya yang kaku dan mengerikan.

Joker versi Nicholson ini dikisahkan mampu memanfaatkan berbagai macam alat untuk menghabisi musuh-musuhnya. Mulai dari pulpen hingga senjata api. Kulitnya juga menjadi putih pucat setelah ia berendam dalam cairan asam.

Setelah menghilang dari layar lebar selama hampir dua dekade, Joker kembali menjadi karakter yang sangat diperhitungkan. Saat diperankan oleh mendiang Heath Ledger. Dalam film The Dark Knight (2008) besutan Christopher Nolan.

Penampilannya memang tidak jauh berbeda dengan Joker era sebelumnya. Tetap dengan riasan badut. Namun, akting cowok asal Australia itu membuat The Clown Prince of Crime tersebut terlihat sangat mengancam. Penampilannya sangat memukau sekaligus mengerikan.

Untuk mendalami peran yang akhirnya menghasilkan Piala Oscar itu, Ledger kabarnya sampai menyepi di sebuah kamar hotel. Ia menyendiri selama sebulan untuk menulis diary dari sudut pandang Joker.

Pendalaman peran yang ekstrem tersebut membuat Ledger sampai depresi beneran. Ia mengalami gangguan tidur dan harus mengkonsumsi obat penenang. Yang akhirnya menyebabkan overdosis dan merenggut nyawanya itu. Hanya enam bulan sebelum filmnya dirilis.

Beberapa tahun kemudian, Jared Leto mencoba untuk menyaingi pencapaian Ledger tadi. Dengan berperan sebagai Joker dalam film Suicide Squad (2016). Yang secara penampilan, sebenarnya, paling mendekati gambaran Joker di versi komiknya: Berkulit putih pucat, ber-tattoo, dan tatapan matanya sangat mengintimidasi.

Sutradara Suicide Squad, David Ayer, memang sangat total dalam menggodok konsep Joker. Begitu juga dengan Jared Leto. Yang sangat mendalami perannya sebagai pacar Harley Quinn (Margot Robbie) tersebut.

Bahkan, sepanjang proses syuting Suicide Squad, Leto kerap bertingkah aneh dan bikin onar layaknya Joker. Mulai dari meletakkan babi mati di meja Viola Davis, hingga mengirimi Margot Robbie sekotak kado yang isinya tikus hitam.

Sayangnya, penampilan total Leto tadi mendapat respon negatif dari para fans. Apalagi, ia hanya muncul sekilas di Suicide Squad. Yang penuh dengan villain dan antihero itu. Upaya keras Leto untuk menjiwai karakter Joker pun jadi terasa mubazir.

Kegagalan Jared Leto tadi membuat banyak fans mulai ragu. Mereka tidak yakin bakal ada lagi aktor yang mampu menyamai Heath Ledger sebagai Joker. Hingga akhirnya muncul Joaquin Phoenix yang menjawab keraguan tersebut.

Dibanding aktor-aktor sebelumnya, Phoenix menjadi pemeran Joker yang paling banyak porsinya. Sebab, ia menjadi tokoh utamanya. Tanpa dibayangi oleh Batman ataupun villain lainnya. Film besutan Todd Phillips ini memang khusus menceritakan asal-usul Joker itu sendiri.

Meski sebelumnya sudah ada empat aktor yang pernah memerankan Joker, Phoenix memilih untuk menampilkan versinya sendiri. Tidak meniru Joker-Joker versi jadul. Termasuk, versi Heath Ledger. Yang dianggap sangat sukses itu.

Saat diwawancarai, Phoenix mengakui, mendalami karakter Joker merupakan tantangan terbesarnya. Karena ia harus menampilkan dua tokoh yang punya banyak sisi dan kepribadian yang bertolak belakang. Yaitu Arthur Fleck dan Joker. Yang merupakan alter-ego-nya sendiri itu. Karakternya di awal film sangat jauh dari yang digambarkan di akhir film.

Pengembangan karakter Arthur yang mengerikan tadi ikut dirasakan oleh Phoenix. Menurut aktor yang sudah tiga kali masuk nominasi Piala Oscar tersebut, Joker merupakan tokoh yang sulit didefinisikan. Karena sangat kompleks. Kita pasti tidak mau menjadi dirinya.

Demi menjiwai peran tersebut, Phoenix sampai harus menurunkan berat badannya cukup ekstrem, hingga 24 kilogram. Untuk memahami pola pikir Joker, aktor berusia 44 tahun itu banyak mendengarkan rekaman tertawa orang-orang gila. Lalu, ia juga banyak membaca buku tentang politik dan pembunuhan.

Menemukan tawa Joker yang pas merupakan salah satu bagian yang tersulit. Phoenix harus melakukan penelitian selama berbulan-bulan. Termasuk, mempelajari perilaku orang-orang dengan gangguan jiwa.

Hasilnya adalah nada tertawa Joker yang ikonis. Yang langsung teridentifikasi sangat mengganggu dan psikotis tersebut. Phoenix sampai merasa tidak nyaman karena harus sering tertawa sendirian di hadapan banyak orang.

Penampilan Phoenix memang sangat brilian. Tubuhnya kurus. Tulang rusuknya menonjol. Menjadi bukti kerasnya kehidupan yang dijalani oleh Arthur Fleck. Sorot matanya tajam. Mencerminkan ketakutan, kesedihan, keputusasaan, dan sekaligus keberanian.

Phoenix juga berhasil tampil ekspresif sebagai Arthur yang mengalami kerusakan otak. Air mata, kerutan wajah, hingga lengkung bibirnya mampu menggambarkan perasaannya. Tanpa harus mengutarakan kata-kata.

Satu jam pertama, para penonton disuguhi kisah Arthur yang benar-benar menguras emosi tadi. Kita bisa melihat bagaimana jiwanya terguncang dengan kelamnya kehidupan di Gotham City. Ada tangis yang tak terungkap. Di balik tawanya yang tak terkendali itu. Rasanya ikut pilu saat mendengarnya.

Para penonton seakan diajak merasakan sakit yang dialami Arthur. Sebelum muncul sosok Joker dari dalam dirinya. Penampilan Phoenix mungkin bakal membuat kita merenung setelah keluar dari bioskop. Tak heran, banyak yang menjagokannya untuk memenangkan gelar aktor terbaik di Academy Awards tahun depan.

Bahkan, ada kritikus yang bilang, adik mendiang River Phoenix itu seperti dirasuki oleh Joker. Ia seperti ikut merasakan luka yang dialami oleh Arthur. Sekaligus kemarahan dan kerentanannya. Meski kita mungkin melongo melihat kekerasan yang dilakukan oleh penghuni Arkham Asylum tersebut, kita masih bisa ikut merasakan rasa sakitnya.

Sutradara Todd Phillips sepertinya memang sengaja mengangkat Joker sebagai sebuah karakter. Yang ia tonjolkan adalah sisi mental, moral, emosi, dan dandanan fisik dari pria yang mengecat rambutnya dengan warna hijau tersebut.

Kita semua tahu, Joker adalah someone who have mental illness. Phillips tampaknya paham betul cara menyampaikan masalah kejiwaan tersebut. Yang salah satunya tertuang dalam penyakit Arthur. Yang bisa sekonyong-konyong tertawa tanpa sebab itu.

Bagi yang baru mengenal Joker, hal tersebut mungkin terlalu kelam. Apalagi, ketika mendengar tawa Arthur yang benar-benar terasa getir dan menyimpan kengerian tadi. Begitu pula bagi yang terbiasa menonton film superhero ala Marvel. Yang penuh dengan efek CGI (computer-generated imagery), adegan laga, dan pamer kekuatan itu. Mungkin, mereka bakal menyebut Joker sebagai film yang membosankan dan nggak jelas.

Namun, bagi para fans DC, yang mengikuti Joker sejak dari komik, detail karakter yang ditonjolkan oleh Phillips tadi sangat memuaskan. Kita diajak untuk menyelami sisi lain kehidupan komedian pengidap skizofrenia tersebut. Yang ditunjang dengan sinematografi dan scoring musik yang apik.

Film Joker ini tidak menampilkan kisah superhero ataupun supervillain dengan superpower-nya, melainkan kisah yang menonjolkan peristiwa-peristiwa tragis. Yang akhirnya membuat tokoh utamanya, yang semula lemah dan baik hati itu, menjadi lebih kuat. Dan lebih jahat.

Selain plot yang menarik tadi, dan kualitas akting Joaquin Phoenix yang ciamik, tata musik yang elegan juga menjadi salah satu keunggulan film Joker. Suara gesekan biola yang berat, yang dipadu dengan adegan amuk massa dalam aksi demonstrasi, membuatnya terasa semakin kaya dan berkualitas.

Intinya, Joker telah memberi warna baru bagi film-film adaptasi komik superhero. Tidak ada alien dari planet lain ataupun tokoh dari dimensi lain seperti film-film Marvel dan DC Comics pada umumnya. Yang ada hanyalah sebuah tragedi yang mengaduk emosi. Yang ditampilkan lewat ironisnya kehidupan seorang Arthur Fleck.

Memang, awalnya mungkin terasa menyesakkan saat menontonnya. Bahkan, mungkin ada yang merasa sedih, cemas, speechless, hingga jijik dan mual. Namun, pada akhirnya, film Joker ini terasa menyenangkan dan memuaskan.

Don’t forget to smile and put on a happy face. 🙂

***

Joker

Sutradara: Todd Phillips
Produser: Todd Phillips, Bradley Cooper, Emma Tillinger Koskoff
Penulis Skenario: Todd Phillips, Scott Silver
Berdasarkan: Para karakter dari DC Comics
Pemain: Joaquin Phoenix
Musik: Hildur Guðnadóttir
Sinematografi: Lawrence Sher
Editing: Jeff Groth
Produksi: Warner Bros. Pictures, DC Films, Village Roadshow Pictures, Bron Creative, Joint Effort
Distributor: Warner Bros. Pictures
Durasi: 122 menit
Genre: Action & Adventure, Drama, Mystery & Suspense
Klasifikasi Usia: R (17+)
Budget: USD 70 juta
Rilis: 31 Agustus 2019 (Venice), 2 Oktober 2019 (Indonesia), 4 Oktober 2019 (Amerika Serikat)

Rating (hingga 18 Oktober 2019)
Rotten Tomatoes – Tomatometer: 68% (Fresh)
Rotten Tomatoes – Audience Score: 89% (Fresh)
Metacritic: 59/100
CinemaScore: B+
PostTrak: 4/5 (84%)
IMDb: 8,9/10
Edwin Dianto (Filmania): 7/10 (B)

***

Edwin Dianto
Pekerja Teks Komersial, Baper Blogger & Writer
E-mail: edwindianto@gmail.com
Blog: edwindianto.wordpress.com
Follow Twitter & Instagram @edwindianto & @filmaniaindo untuk info film-film terbaru.

Ulasan Film: Joker (2019)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s