Ulasan Film: Terminator: Dark Fate (2019)

They. Are. Back. Setelah 28 tahun berpisah, Arnold Schwarzenegger dan Linda Hamilton akhirnya bertemu lagi. Mereka kembali menggebrak dunia perfilman. Lewat Terminator: Dark Fate. Yang diputar di bioskop mulai akhir bulan Oktober yang lalu.

Para fans akhirnya bisa menonton direct sequel dari Terminator 2: Judgment Day (1991) yang sudah lama ditunggu tersebut. Meski menghadirkan banyak karakter baru, unsur nostalgia terasa lebih kuat dalam film ini. Berkat kembalinya Linda dan Arnold tadi.

Linda kali terakhir berperan sebagai Sarah Connor dalam film Terminator yang kedua. Saat itu, usianya masih hot-hot-nya: 35 tahun. Sekarang, dia sudah menjadi nenek-nenek yang berumur 63 tahun.

Demikian juga dengan Arnold. Mantan Gubernur California itu sudah berusia 72 tahun saat ini. Meski demikian, berbeda dengan Linda, Arnold hampir selalu muncul di franchise film Terminator.

Aki-aki berbadan kekar tersebut selalu menjadi robot T-800. Mulai dari The Terminator (1984) yang pertama, lalu Judgment Day (1991), Rise of the Machines (2003), Salvation (2009), yang hanya muncul sekilas itu, hingga Genisys (2015) dan Dark Fate (2019). Meski demikian, perannya berganti-ganti. Sebagai pemburu dan pelindung.

Total, ada enam film dalam franchise Terminator. Namun, berbeda dengan tiga film sebelumnya, Dark Fate merupakan sekuel langsung dari Judgment Day. Yang direstui oleh sang kreator: James Cameron.

Menurut sutradara Titanic (1997) tersebut, kisah Terminator: Dark Fate merupakan lanjutan dari Judgment Day. Bahkan, ia memutuskan untuk menghapus tiga film sebelumnya: Rise of the Machines, Salvation, dan Genisys. Yang semuanya dinilai gagal itu. James Cameron menganggap ketiganya tidak ada. Jadi, dari Judgment Day, timeline-nya langsung loncat ke Dark Fate.

Meski selalu ada Arnold, setelah ditinggal Linda, franchise Terminator memang mengalami penurunan. Padahal, pihak produser sudah memasang nama-nama terkenal sebagai penggantinya. Sebut saja Claire Danes di Rise of the Machines, Christian Bale di Salvation, hingga bintang serial Game of Thrones, Emilia Clarke, yang menjadi Sarah Connor muda di Genisys.

Oleh karena itu, untuk membangkitkan kembali franchise Terminator, James Cameron mengambil keputusan untuk memanggil kembali Linda Hamilton. Yang usianya sudah tidak muda lagi itu. Untuk bermain di film terbaru yang bertajuk Dark Fate ini.

Seperti film-film Terminator pendahulunya, inti cerita Dark Fate sebenarnya sama. Secara keseluruhan, tidak ada yang spesial dari segi cerita. Meski ada modifikasi di sana-sini, ceritanya tetap familier. Pada dasarnya, hanya mengulang elemen yang sama dari film yang pertama dan kedua. Dengan tambahan beberapa bintang baru dan twist baru.

Kisahnya masih tentang robot pemburu dari masa depan. Yang dikirim ke zaman now lewat mesin waktu. Untuk menghabisi nyawa seorang perempuan. Yang bakal menjadi penyelamat kehidupan di masa yang akan datang.

Yang menjadi Terminator versi terbaru ini adalah Rev-9 (Gabriel Luna). Sebuah mesin dengan desain mutakhir yang supercanggih. Yang sangat tangguh, cepat, dan nyaris tak terkalahkan. Rev-9 juga bisa menggandakan diri, punya kemampuan likuid untuk berubah wujud, dan sangat akurat dalam menirukan tingkah laku manusia. Misinya hanya satu: Menghabisi Danielle “Dani” Ramos (Natalia Reyes).

Dani sebenarnya adalah cewek asal Meksiko yang B aja. Alias biasa saja. Tidak memiliki keistimewaan apa-apa. Namun, seperti halnya John Connor di film-film Terminator sebelumnya, dia ditakdirkan untuk menjadi pemimpin umat manusia. Untuk melawan pasukan mesin yang menguasai dunia di masa depan.

Sejak awal kemunculannya pada 1984, kisah Terminator memang selalu fokus ke Sarah Connor (Linda Hamilton). Yang merupakan ibu dari John Connor (Edward Furlong) itu. Namun, kini kisahnya sudah berubah. Si John yang legendaris tersebut hanya muncul sekilas di awal film Dark Fate. Dan ia bukan lagi calon pemimpin umat manusia.

Sarah memang dikisahkan berhasil mengubah sejarah. Setelah memusnahkan sang Terminator di Judgment Day. Namun, dia tak kuasa untuk mencegah perkembangan teknologi. Dunia di masa depan tetap dikuasai oleh mesin-mesin cyber yang sangat canggih.

Yang menarik, meski latar belakang ceritanya relatif sama, ada nuansa yang berbeda dari film-film Terminator sebelumnya: Dark Fate lebih didominasi oleh jagoan-jagoan wanita. Ada tiga karakter perempuan utama dalam film yang disutradarai oleh Tim Miller ini.

Selain Sarah Connor dan Dani Ramos, juga ada Grace (Mackenzie Davis). Seorang gadis bionic yang tubuhnya setengah robot. Alias cyborg. Dengan kecepatan dan kekuatan yang sudah ditingkatkan. Jauh melebihi kemampuan manusia biasa.

Grace, yang di masa depan seorang prajurit itu, dikirim ke masa kini. Untuk melindungi Dani Ramos dari buruan sang Terminator. Dalam sebuah pertarungan yang intens dan keras, dia kewalahan dan nyaris dihabisi oleh Rev-9. Sebelum akhirnya muncul Sarah Connor yang menolongnya.

Sadar hampir mustahil untuk mengalahkan Rev-9 tanpa bantuan robot lain, Grace kemudian menemui Terminator jadul tipe T-800. Yang sudah 20 tahun bersembunyi di pedalaman Amerika. Dengan menyamar sebagai manusia. Dengan menggunakan nama Carl (Arnold Schwarzenegger) itu.

Sarah semula sangat kaget. Dia tidak mau bekerja sama dengan Terminator uzur yang dulu menjadi musuh bebuyutannya tersebut. Namun, Grace akhirnya berhasil meyakinkannya: Bahwa hanya T-800 yang bisa membantu mereka untuk mengalahkan Rev-9.

Saat diwawancarai, sutradara Tim Miller mengakui, ia memang sengaja menyajikan hal-hal baru. Yang semakin memperkuat cerita Terminator. Mulai dari plot sampai tokoh-tokoh kuncinya. Termasuk, kehadiran dua karakter perempuan baru: Grace yang menjadi pelindung dan Dani yang menjadi target buruan.

Tim Miller juga mengungkap, awalnya, karakter Grace ia persiapkan untuk pria. Namun, setelah bertemu Mackenzie Davis, sutradara Deadpool (2016) tersebut berubah pikiran. Menurutnya, cewek tersebut benar-benar tampak badass. Terutama, jika sudah memegang senjata.

Selain itu, bakal lebih menarik jika peran sebagai pelindung juga diserahkan kepada seorang wanita. Berbeda dengan film-film action lainnya. Yang kerap menonjolkan karakter pria sebagai pemanggul senjata.

Untuk mendalami cerita, Mackenzie Davis mengaku sudah menonton dua film pertama Terminator. Enam bulan sebelum dia mengambil peran sebagai Grace. Untuk mempersiapkan fisiknya, bintang The Martian (2015) itu berlatih di fasilitas yang sudah disediakan. Hasilnya, kita bisa melihat betapa berotot tubuhnya yang mulus itu.

Setengah bercanda, Mackenzie yang masih muda tersebut mengaku tidak mau kalah dari Linda Hamilton. Yang menurutnya sungguh mengintimidasi. Karena badannya masih kekar di usia yang sudah kepala enam.

Sementara itu, dalam menjalani peran sebagai target buruan Terminator, Natalia Reyes juga mengaku banyak belajar dari Hamilton. Menurutnya, dia beruntung sekali bisa main di film ini. Karena Linda sangat menginspirasi, profesional, dan mau memberikan contoh selama proses syuting.

Menurut Tim Miller, saat pertama kali melihat Natalia casting, ia langsung melihatnya sebagai Linda. Saat muncul sebagai Sarah Connor muda di film Terminator yang pertama dulu.

Sementara itu, Linda sendiri mengakui, bisa kembali menjadi Sarah adalah momen yang fantastis. Apalagi, dia sudah lama sekali berpisah dan hampir tidak pernah bertemu dengan Arnold. Yang dulu berperan sebagai pemburunya itu.

Meski demikian, Linda sempat berpikir ulang sebelum menerima tawaran bermain di film ini. Awalnya, dia mengira karakter Sarah bakal menjadi emak-emak gendut yang mudah dikalahkan. James Cameron memang hanya mengungkap sedikit sekali outline-nya. Namun, setelah beberapa kali e-mail, akhirnya dia menerimanya.

Yang bikin kagum, seperti karakter yang dia perankan, ternyata Linda adalah sosok emak-emak yang badass. Demi menjadi Sarah yang tangguh, dia berlatih fisik berjam-jam setiap hari. Selama berbulan-bulan.

Arnold pun memuji Linda. Baginya, untuk ukuran perempuan 63 tahun, itu sangat keren. Makanya, ia sangat senang bisa bermain film lagi bersama Linda. Menurutnya, ini seperti sebuah reuni keluarga besar.

Arnold mengungkap, James Cameron adalah orang yang paling berperan dalam mewujudkan reuni tadi. Ia adalah orang pertama yang ingin menghadirkan Linda kembali. Sebagai produser eksekutif, Cameron memang berkuasa untuk mengatur pemilihan sutradara, cast, dll.

Yang menarik, Arnold dan Linda kali ini sama-sama tampil dengan wajah mereka yang sudah keriput dan penuh kerutan. Penampilan Terminator yang diperankan Arnold memang digambarkan sangat mirip dengan manusia. Jadi, tubuh bagian luarnya juga terlihat menua.

Meski saat ini sudah ada teknik de-aging, yang membuat seseorang tampak lebih muda, sutradara Tim Miller memang sengaja memilih untuk menampilkan Arnold dan Linda apa adanya. Menurutnya, akan lebih keren jika mereka tampil kekar pada usia tua seperti sekarang.

Linda mengatakan, kisah hidupnya selama 28 tahun terakhir memang tidak ditampilkan di layar. Namun, hal itu sudah terwakilkan secara utuh lewat keriput di wajahnya. Dia ingin melakukan sesuatu yang baru dengan karakter Sarah Connor. Di usianya yang sudah senja. Inilah Sarah Connor yang baru.

Menurut Linda, jalan cerita dapat memberikan sentuhan baru yang lebih segar pada sebuah karakter. Setelah Terminator 2, dia memang merasa Sarah sudah berubah. Dari bukan siapa-siapa menjadi seorang petarung. Dark Fate akan menjadi panggung bagi Sarah.

Sosok Sarah memang mengalami transformasi dalam franchise Terminator. Awalnya, dia hanya seorang gadis muda biasa di film yang pertama. Lalu, menjadi mahmud alias mamah muda dengan gangguan jiwa di film yang kedua. Hingga akhirnya, menjadi nenek-nenek tangguh di Dark Fate ini.

Menurut Linda, dalam menampilkan karakter yang berbeda-beda tersebut, dia seperti sedang melakukan perjalanan. Dampak dari film ini, sosok Sarah pun ikut berubah. Dia tidak lagi dalam sebuah misi dan tidak lagi mengemban sebuah tugas. Bisa dikatakan, Sarah sedang dalam kondisi kehilangan dan patah hati. Bagi Linda, ini adalah sebuah cerita yang kuat.

Selain bereuni dengan Arnold, Linda juga harus beradu akting dengan bintang-bintang baru di film ini. Menurutnya, mereka semua adalah amazing partners. Yang sangat berbakat, mencintai pekerjaan, dan berdedikasi tinggi. Dia sangat suka bekerja dengan mereka. Dan ini menjadi pengalaman terbaiknya di dunia perfilman.

Sementara itu, bagi Arnold yang sudah memerankan Terminator selama hampir 40 tahun, yang terpenting dari sebuah film adalah ceritanya. Meski special effect dan teknik-teknik perfilman sudah berkembang pesat, jika cerita yang disajikan tidak kuat, bakal sulit diterima oleh masyarakat.

Yang menarik, sejak film Terminator yang pertama pada 1984, kalimat ikonik “I’ll be back” selalu diucapkan oleh Arnold. Namun, di film Dark Fate ini, Linda yang mengucapkannya. Yang ternyata prosesnya sangat susah itu.

Menurut Linda, perubahan tersebut adalah sebuah kado dari masa lalu, tapi dalam bentuk yang baru. Arnold sudah mengucapkannya dengan sangat baik selama hampir 40 tahun. Oleh karena itu, sangat berat baginya untuk mengucapkannya. Di otaknya sudah tertanam, seharusnya Arnold yang mengatakannya. Meski sudah berlatih berulang-ulang, tetap saja rasanya sangat susah.

Hal terberat lainnya adalah ketika harus syuting di dalam tangki air. Selama berminggu-minggu. Padahal, Linda punya gangguan pendengaran karena infeksi telinga. Alhasil, saat dia harus beradegan jungkir balik dengan posisi kepala di bawah, rasanya mual banget.

Proses syuting Terminator: Dark Fate sendiri memakan waktu hingga 192 hari. Sebagian besar dilakukan di Lockheed C-5 Galaxy. Set yang berlokasi di Hungaria tersebut digerakkan oleh mesin hidrolis. Ruangannya raksasa. Mampu berotasi 360 derajat. Selain itu, juga ada set versi vertikal.

Menurut sutradara Tim Miller, set tadi benar-benar gila. Kru special effect-nya adalah yang terbaik di dunia. Untuk menghasilkan rangkaian film terbaik, memang penting menyajikan adegan yang aktual daripada memalsukannya. Alhasil, para pemainnya juga harus menjalani proses syuting yang rumit.

Tim Miller juga mengungkap, sebelum syuting, James Cameron selaku produser eksekutif sudah berpesan kepadanya: Agar menghadirkan scene tabrakan pesawat yang paling dahsyat sepanjang sejarah perfilman. Yang akhirnya terwujud dalam Terminator: Dark Fate ini.

Awalnya, Tim Miller mencari tahu bagaimana caranya menyajikan adegan tersebut. Setelah berdiskusi dengan pilot asli tentang tabrakan pesawat, akhirnya ia memutuskan untuk menggunakan zero G thing. Alias bermain-main dengan gravitasi. Ada dan tidak ada gravitasi silih berganti.

Adegan tabrakan tersebut dilakukan di sebuah ruangan seluas 4×6 meter persegi. Dengan tampilan pesawat di luarnya yang besarnya tiga kali lipat. Ada sesi autopilot yang bisa menstabilkan pesawat yang semula bergoyang-goyang. Lalu, para pemain terlempar ke depan, ke belakang, hingga berguling-guling.

Menurut Arnold, adegan jatuh, terbanting, serta bertarung ketika zero gravity tadi merupakan momen terberat selama membintangi film ini. Alhasil, syutingnya harus berhenti berkali-kali. Karena para pemainnya merasa pusing dan mengalami disorientasi.

Tim Miller juga mengungkap, sejak awal, James Cameron memang menginginkan Terminator: Dark Fate dibuat sebagai R-rated movie. Yang seru, sadis, keras, dan brutal. Jadi, bukan tontonan untuk anak-anak seperti film-film superhero Marvel.

Dengan rating khusus orang dewasa tersebut, banyak adegan kekerasan yang tidak dipotong oleh lembaga sensor film. Seperti adegan menusuk dan tubuh terbelah. Yang berdarah-darah. Yang cukup mengerikan bagi sebagian besar penonton itu.

Dialog-dialognya juga tetap menarik. Karena banyak umpatan di dalamnya. Terutama, yang diucapkan oleh Linda Hamilton dan Mackenzie Davis. Yang tampilannya cewek manis, tapi mulutnya kerap melontarkan kata-kata kotor tersebut.

Sebaliknya, jika membuat Terminator: Dark Fate dengan rating PG-13 untuk penonton remaja, visualnya bakal ribet. Makna film bakal berbeda jika adegan-adegan kekerasan tadi dihilangkan.

Setelah dirilis, para kritikus pun menyambut cukup positif versi R-rated ini. Salah satu poin yang mendapat pujian adalah keberanian Terminator: Dark Fate dalam mengubah perspektif gender. Yang menempatkan tiga tokoh perempuan sebagai karakter sentral dan penggerak cerita. Seolah memberi pesan: Sekarang saatnya perempuan yang bertarung.

Tim penulis skenario mampu menonjolkan tiga tokoh perempuan tersebut. Sehingga terlihat dominan dalam cerita. Berbeda dengan lima film sebelumnya. Yang didominasi oleh laki-laki itu. Dark Fate pun dinilai berhasil membuat franchise Terminator menjadi lebih segar dan baru.

Kemunculan Linda Hamilton yang sudah veteran ternyata juga menuai banyak pujian. Sejak membintangi dua film yang pertama, dia memang menjadi ikon franchise Terminator selain Arnold Schwarzenegger.

Kembalinya Linda dianggap sebagai penyelamat Dark Fate dari takdir gelap franchise Terminator. Yang tiga film sebelumnya dihujani oleh kritik buruk. Hingga James Cameron memutuskan untuk menghapus ketiganya dari timeline tersebut.

Di samping itu, kehadiran Mackenzie Davis dan Natalia Reyes sebagai bintang baru juga dinilai membuat cerita lebih seru. Menurut para kritikus, penambahan keduanya adalah sesuatu yang luar biasa.

Di sisi lain, kembalinya Arnold juga menjadi sesuatu yang ditunggu-tunggu di film ini. Meski sudah tua, ia masih sanggup berperan sebagai Terminator kuno yang gagah dan garang. Apalagi, kali ini, penampilannya tidak kaku seperti di film-film sebelumnya. Bahkan, ia cukup berhasil mengaduk-aduk emosi penonton.

Namun, sayangnya, respon yang cukup positif dari para kritikus tadi tidak dibarengi oleh prestasi di box office. Setelah tayang sepekan, Terminator: Dark Fate hanya mampu menggaet USD 130 juta. Masih jauh dari bujet produksinya. Yang kabarnya menghabiskan hampir USD 200 juta itu.

Dengan hasil jeblok di box office tadi, ada yang memperkirakan, film rilisan Paramount Pictures dan 20th Century Fox ini bakal menelan kerugian hingga USD 120 juta. Seperti ceritanya, takdir kelam tampaknya masih terus mengancam franchise Terminator.

***

Terminator: Dark Fate

Sutradara: Tim Miller
Produser: James Cameron, David Ellison
Penulis Skenario: David Goyer, Justin Rhodes, Billy Ray
Pengarang Cerita: James Cameron, Charles H. Eglee, Josh Friedman, David Goyer, Justin Rhodes
Berdasarkan: Para karakter ciptaan James Cameron, Gale Anne Hurd
Pemain: Linda Hamilton, Arnold Schwarzenegger, Mackenzie Davis, Natalia Reyes, Gabriel Luna, Diego Boneta
Musik: Tom Holkenborg
Sinematografi: Ken Seng
Editing: Julian Clarke
Produksi: Paramount Pictures, Skydance Media, 20th Century Fox, Tencent Pictures, Lightstorm Entertainment, TSG Entertainment
Distributor: Paramount Pictures (Amerika Utara), 20th Century Fox (Internasional)
Durasi: 128 menit
Genre: Action & Adventure, Drama, Science Fiction & Fantasy
Klasifikasi Usia: R (17+)
Budget: USD 196 juta
Rilis: 23 Oktober 2019 (Eropa), 30 Oktober 2019 (Indonesia), 1 November 2019 (Amerika Serikat)

Rating (hingga 8 November 2019)
Rotten Tomatoes – Tomatometer: 71% (Fresh)
Rotten Tomatoes – Audience Score: 84% (Fresh)
Metacritic: 54/100
CinemaScore: B+
PostTrak: 3/5 (78%)
IMDb: 6,5/10
Edwin Dianto (Filmania): 6/10 (C)

***

Edwin Dianto
Pekerja Teks Komersial, Baper Blogger & Writer
E-mail: edwindianto@gmail.com
Blog: edwindianto.wordpress.com
Follow Twitter & Instagram @edwindianto & @filmaniaindo untuk info film-film terbaru.

Ulasan Film: Terminator: Dark Fate (2019)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s