Ulasan Film: Maleficent: Mistress of Evil (2019)

Penantian para fans Maleficent akhirnya berakhir pada bulan Oktober yang lalu. Sang Peri Bertanduk itu kembali menghiasi layar lebar. Lewat sekuel filmnya yang berjudul Maleficent: Mistress of Evil.

Karakter yang diperankan oleh Angelina Jolie itu kembali menunjukkan kebaikan. Meski lewat sifatnya yang sinis. Kali ini, dia harus berperang dengan Queen Ingrith (Michelle Pfeiffer). Seorang ratu jahat dari kerajaan manusia. Yang ingin memusnahkan bangsa peri.

Pada 2014, para penonton telah menyaksikan dongeng klasik Sleeping Beauty versi baru. Yang diadaptasi oleh Disney dengan twist yang cukup keren. Film tersebut mendobrak berbagai streotipe. Terutama, tentang karakter antagonisnya. Yang bernama Maleficent.

Sang Peri Bertanduk itu, sebelumnya, memang dikenal sebagai penyihir yang kejam. Namun, lewat film arahan Robert Stromberg tersebut, para penonton seakan disadarkan. Bahwa Maleficent juga punya sisi lembut dan welas asih. Bahkan, dia menjadi ibu angkat, alias godmother, bagi Princess Aurora (Elle Fanning). Yang sangat bening dan cantik jelita itu.

Di Mistress of Evil ini, meski aura gelapnya tetap dipertahankan, sisi keibuan Maleficent kembali ditampilkan. Disney terus mengeksplorasi relasi unik dan kompleksnya dengan Aurora. Yang seorang manusia biasa itu.

Setting-nya mengambil waktu beberapa tahun setelah kejadian di film yang pertama. Atau setelah the Horned Fairy tersebut menyelamatkan sang Putri Tidur dari kutukannya sendiri.

Meski dirinya seorang manusia, Aurora kemudian didapuk menjadi pemimpin kerajaan peri Moors. Yang ajaib dan misterius, tapi juga sangat indah dan penuh warna tersebut.

Sementara itu, Maleficent, yang kini menjadi peri pelindung, dikisahkan sudah hidup tenang. Kedua sayapnya sudah kembali. Pada ending film yang pertama, Aurora akhirnya memang menemukan sayap sang Peri Bertanduk. Yang dipotong oleh ayahnya sendiri yang jahat. Yang dulunya merupakan mantan pacar Maleficent tersebut.

Namun, ternyata, ketenangan Maleficent tadi tidak berlangsung lama. Masalah dimulai oleh Prince Phillip. Yang tiba-tiba datang ke Moors. Untuk melamar Aurora agar mau menikah dengannya. Yang tentu saja langsung diterima oleh gadis perawan yang sedang gatel-gatelnya tersebut.

Sosok sang pangeran di sini terlihat berbeda dari film yang pertama. Itu karena Disney memang mengganti pemerannya: Dari Brenton Thwaites menjadi Harris Dickinson. Thwaites kabarnya tidak bisa melanjutkan perannya sebagai Phillip. Karena jadwal syutingnya bentrok. Dia sudah terlanjur mengambil peran sebagai Robin. Dalam serial superhero DC Comics yang berjudul Titans.

Awalnya, Maleficent tidak setuju dengan keputusan putri angkatnya untuk menikah dengan sang pangeran. Namun, Aurora terus mendesak agar dia merestuinya. Bahkan, Maleficent juga diundang untuk menghadiri malam perjamuan. Yang diadakan oleh keluarga Phillip di istana Kerajaan Ulstead.

Namun, acara makan malam yang seharusnya penuh kegembiraan itu berubah menjadi kacau. Setelah ibu Phillip, Ratu Ingrith, terus-terusan menyindir Maleficent. Yang dia sebut sebagai Mistress of Evil. Alias peri jahat. Konflik di antara keduanya pun dimulai.

Hubungan Maleficent dan Aurora juga ikut retak gara-gara peristiwa tadi. Menurut Elle Fanning, keduanya memang saling mencintai, tapi ada perbedaan besar di antara mereka. Maleficent juga masih sedikit waspada terhadap manusia. Sedangkan Aurora punya beban untuk memasuki kehidupan baru kerajaan yang kaku. Yang sebenarnya tidak sesuai dengannya.

Hubungan Maleficent dan Aurora yang bermasalah itu kemudian dimanfaatkan oleh Ingrith. Ratu yang cerdas, tapi culas tersebut ingin melancarkan aksi balas dendam. Yakni memusnahkan kaum peri dan menguasai Moors sepenuhnya.

Selain Ratu Ingrith, yang menjadi tokoh antagonis utama itu, Maleficent: Mistress of Evil juga dihiasi oleh tokoh-tokoh baru. Yang belum pernah muncul di film pertamanya. Seperti King John (Robert Lindsay) dan Gerda (Jenn Murray).

King John merupakan suami dari Ratu Ingrith dan ayah dari Pangeran Phillip. Namun, berbeda dengan istrinya, ia lebih ramah kepada Maleficent dan tidak membenci kaum peri. Hal itulah yang membuat Ingrith KZL, lalu melakukan sesuatu yang buruk kepada sang raja.

Sementara itu, Gerda merupakan tangan kanan Ratu Ingrith. Yang sadis dan ahli dalam menggunakan berbagai senjata. Saat perang berlangsung, cewek berdarah dingin itu adalah orang yang paling bernafsu untuk menghabisi kaum peri.

Di samping tokoh-tokoh baru dari kerajaan tadi, film yang kedua ini juga menyajikan sebuah dunia baru yang mengejutkan. Yaitu dunianya kaum Dark Fae. Yang dipimpin oleh Conall (Chiwetel Ejiofor). Dialah yang menolong Maleficent saat tenggelam di laut. Lalu membawanya ke tempat persembunyian mereka. Sekaligus mengungkap asal-usul para peri bertanduk tersebut.

Selain Chiwetel Ejiofor, bintang yang juga kebagian peran sebagai Dark Fae adalah Ed Skrein. Aktor asal Inggris yang juga berprofesi sebagai rapper itu biasanya menjadi villain. Yang paling terkenal adalah perannya sebagai Francis aka Ajax. Dalam film Deadpool (2016) yang brutal dan kocak itu.

Para pemain baru tadi beradu akting dengan pemain-pemain lawas di film yang kedua ini. Selain Angelina Jolie dan Elle Fanning, yang juga mendapat porsi besar adalah Sam Riley. Yang kembali berperan sebagai Diaval. Alias siluman gagak pengikut Maleficent.

Saat diwawancarai, Sam Riley mengatakan, karakter Diaval yang dia perankan memang kecil, tapi penuh percaya diri. Dari sosoknya, kita bisa belajar untuk tetap pede. Meski mungkin penampilan kita tidak sekuat yang orang lain kira.

Sementara itu, menurut Angelina Jolie, karakter Maleficent yang dia perankan itu sangat ikonik dan penuh cinta. Sang Peri Bertanduk punya tujuan hidup yang jelas dan mulia. Salah satunya adalah membuat Aurora merasa dicintai. Itulah yang membuatnya punya semangat hidup.

Meski demikian, aktris 44 tahun itu menambahkan, Maleficent juga punya dua sifat yang berbeda. Alias mewakili dualisme dalam karakter. Di satu sisi, dia memang sosok yang lucu, lembut, dan penyayang. Terutama pada Aurora. Namun, di sisi lain, dia adalah sosok yang berani, kuat, perkasa, serta mampu bangkit kembali meski pernah disakiti.

Setelah dua kali berperan sebagai Maleficent, Jolie mengaku jadi bisa memahami bagaimana karakternya terbentuk. Ada banyak proses yang dia alami. Termasuk, pengalaman yang menyakitkan. Hal itu sempat membuatnya marah dan kecewa. Namun, berkat sejumlah peristiwa yang terjadi sesudahnya, Maleficent jadi tahu cara untuk move-on. Alias melanjutkan hidup.

Jolie juga mengaku, peran sebagai Maleficent termasuk salah satu peran yang paling berkesan. Sangat nyambung dengan pengalaman hidupnya. Karena dia juga pernah disakiti. Sama seperti bagaimana Maleficent merasa tersakiti. Memang, butuh waktu untuk memulihkan diri. Namun, pada akhirnya, dia bisa kembali menunjukkan sisi lembutnya.

Jadi, tidak selamanya orang baik yang tersakiti itu berubah menjadi jahat seperti Joker. Ada pula yang marah dan kecewa, yang mana itu suatu hal yang wajar, tapi kemudian sadar. Lalu menjadi baik kembali. Seperti Maleficent. Hehe..

Sutradara Joachim Ronning mengungkap, sekuel film Maleficent yang ia garap memang secara seimbang mengangkat dua sisi sang Peri Bertanduk. Dan, menurutnya, Angelina Jolie bisa memerankan dualisme tersebut dengan sangat mengagumkan.

Berkat nama besar Angelina Jolie dan aktingnya yang prima, film Maleficent yang pertama memang cukup sukses di box office. Mampu mengumpulkan pemasukan hingga USD 758 juta dari seluruh dunia. Namun, sayangnya, meski laris dan disukai audiens, respon dari para kritikus kala itu kurang bagus.

Mungkin, karena hal itulah, Disney kemudian mencoba sutradara baru. Bukan lagi Robert Stromberg, melainkan Joachim Ronning. Yang sebelumnya sudah pernah menggarap film Disney lainnya: Pirates of the Caribbean: Dead Men Tell No Tales (2017). Bersama dengan partner-nya: Espen Sandberg.

Nama dua sutradara asal Norwegia tersebut mulai terkenal. Setelah menelurkan film drama sejarah berjudul Kon-Tiki. Yang berhasil masuk nominasi Best Foreign Language Movie. Di berbagai ajang penghargaan pada tahun 2012 silam.

Saat diwawancarai, Joachim Ronning mengungkap, film yang kedua ini memang lebih banyak mengeksplorasi sisi keibuan Maleficent. Apalagi, Aurora dikisahkan sudah dewasa dan kebelet kawin. Sang Fairy Godmother pun turut peduli dengan kondisi putri angkatnya.

Karakter Aurora di film yang kedua ini memang mengalami perkembangan signifikan. Dia terlihat lebih berani, ekspresif, dan dewasa. Menurut Ronning, Elle Fanning manpu memerankannya dengan citra yang lebih hidup dan matang. Apalagi, dia sekarang sudah bukan aktris abege lagi.

Ronning juga membuat karakter Maleficent lebih manusiawi. Meski judulnya Mistress of Evil, yang artinya Penguasa Kejahatan, film yang kedua ini tetap menonjolkan dinamika hubungan sang Peri Bertanduk dan Aurora sebagai ibu dan anak.

Yang menarik, film berdurasi hampir dua jam ini juga mengungkap: Maleficent bukanlah satu-satunya peri bertanduk. Ternyata, ada sekumpulan Dark Fae yang mirip dengannya. Maleficent pun akhirnya mengetahui dan menyadari eksistensi dirinya. Serta fitrahnya. Sebagai peri bertanduk di dunia yang dikuasai oleh manusia.

Setelah itu, kita juga disuguhi adegan peperangan: Antara pasukan Dark Fae yang dipimpin Maleficent melawan pasukan Kerajaan Ulstead yang dipimpin Ratu Ingrith. Menurut Ronning, adegan peperangan ini adalah bagian yang merefleksikan ungkapan Mistress of Evil. Yang dipakai sebagai judul film tersebut.

Ronning menambahkan, dalam adegan perang tadi, Maleficent tetap menunjukkan sisi dirinya yang garang dan tak kenal ampun. Bagi siapapun yang berani mengusik kehidupannya.

Sutradara 47 tahun itu mengakui, ia memang sengaja menggabungkan konsep drama keluarga dengan film epik. Di sini, kita bisa melihat adanya hubungan dan konflik keluarga. Sekaligus film kolosal dalam adegan perang dan kerajaan.

Dengan mengangkat unsur drama yang berfokus pada hubungan keluarga, Ronning dan penulis skenario Linda Woolverton berhasil menyajikan sebuah film fantasi. Yang cocok untuk ditonton oleh seluruh keluarga. Sesuai dengan ciri khas film-film Disney. Yang umumnya happy ending tersebut.

Para fans Disney disuguhi lebih banyak sisi lain Maleficent dan Aurora. Termasuk, definisi baru tentang cinta kasih. Lewat perbuatan baik sang Peri Bertanduk, para penonton dibuat tersentuh, terharu, dan mengingat kembali makna sebuah keluarga.

Tidak semua yang terlihat jahat itu benar-benar jahat. Terkadang, orang yang kita duga sebagai Mistress of Evil malah punya kepedulian yang tinggi. Maleficent, yang bertanduk seperti iblis dan berpakaian serba hitam itu, ternyata, memiliki hati yang lembut dan penuh cinta.

Selain pesan moral yang menyentuh, desain kostum film ini juga sangat keren. Busana-busana artistik bertebaran. Banyak yang menjadi inspirasi perayaan Halloween pada akhir bulan Oktober yang lalu. Menurut desainer Ellen Mirojnick, Maleficent memang ditampilkan sebagai peri yang perkasa. Itu tampak saat dia bertemu dengan Ratu Ingrith.

Aspek visual dan desain produksi film ini juga menjadi daya tarik tersendiri. Gabungan antara set asli dengan CGI (computer-generated imagery)-nya sangat memanjakan mata. Misalnya, istana kerajaan Ratu Ingrith yang mewah dan megah. Para penonton bisa merasakan sendiri: Seolah dibawa masuk ke dunia peri dan negeri antah-berantah yang sangat indah.

Namun, sayangnya, aspek visual yang memukau tadi tidak dibarengi oleh cerita yang mengesankan. Ataupun twist ending yang mengejutkan. Plotnya sudah tertebak. Tidak jauh berbeda dengan yang disajikan di trailer. Jalan ceritanya dari awal sampai akhir terlalu umum.

Adegan perang yang disajikan juga menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, adegan tersebut memang menambah kesan epik pada kisah klasik yang ditawarkan oleh film ini. Namun, di sisi lain, manajemen konfliknya terkesan simpang-siur. Puncaknya, adegan perang yang sebenarnya cukup kompleks tadi berakhir antiklimaks. Dengan ending yang klise. Layaknya dongeng Pangeran dan Putri Tidur yang sudah ketinggalan zaman.

Tak heran, seperti film pertamanya, sekuel Maleficent ini akhirnya juga mendapat respon negatif dari para kritikus. Performanya di box office juga tidak sesuai harapan. Sejauh ini, hanya mampu meraup USD 430 juta dari seluruh dunia. Padahal, menghabiskan biaya produksi hingga USD 185 juta.

Mengingat pencapaiannya yang melempem tadi, ada kemungkinan Disney tidak akan memproduksi film Maleficent yang ketiga. Jadi, siap-siap saja mengucapkan selamat tinggal kepada peri lembut yang perkasa tersebut. Well, well..

***

Maleficent: Mistress of Evil

Sutradara: Joachim Rønning
Produser: Joe Roth, Angelina Jolie, Duncan Henderson
Penulis Skenario: Linda Woolverton, Noah Harpster, Micah Fitzerman-Blue
Berdasarkan: Para karakter dari Disney’s Sleeping Beauty; La Belle au bois dormant by Charles Perrault
Pemain: Angelina Jolie, Elle Fanning, Chiwetel Ejiofor, Sam Riley, Ed Skrein, Imelda Staunton, Juno Temple, Lesley Manville, Michelle Pfeiffer
Musik: Geoff Zanelli
Sinematografi: Henry Braham
Editing: Laura Jennings, Craig Wood
Produksi: Walt Disney Pictures, Roth Films
Distributor: Walt Disney Studios Motion Pictures
Durasi: 118 menit
Genre: Action & Adventure, Science Fiction & Fantasy
Klasifikasi Usia: PG (SU)
Budget: USD 185 juta
Rilis: 16 Oktober 2019 (Indonesia), 18 Oktober 2019 (Amerika Serikat)

Rating (hingga 11 November 2019)
Rotten Tomatoes – Tomatometer: 40% (Rotten)
Rotten Tomatoes – Audience Score: 95% (Fresh)
Metacritic: 43/100
CinemaScore: A
PostTrak: 4,5/5
IMDb: 7/10
Edwin Dianto (Filmania): 5/10 (C)

***

Edwin Dianto
Pekerja Teks Komersial, Baper Blogger & Writer
E-mail: edwindianto@gmail.com
Blog: edwindianto.wordpress.com
Follow Twitter & Instagram @edwindianto & @filmaniaindo untuk info film-film terbaru.

Ulasan Film: Maleficent: Mistress of Evil (2019)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s