Review Film: Spies in Disguise (2019)

20th Century Fox akhirnya merilis Spies in Disguise tepat pada Hari Natal yang lalu. Film animasi 3D ini memang sempat diundur beberapa kali tanggal perilisannya. Dari awalnya 18 Januari, lalu 19 April, lalu 13 September, hingga akhirnya 25 Desember 2019.

Sesuai dengan judulnya, Spies in Disguise merupakan spy movie. Film animasi tentang mata-mata. Yang genre-nya merupakan perpaduan antara action dan comedy. Namun, nuansa dan tema ceritanya untuk keluarga. Sehingga aman jika ditonton oleh anak-anak.

Yang menjadi tokoh utama di Spies in Disguise adalah agen rahasia Lance Sterling (Will Smith). Seorang mata-mata terhebat di dunia yang menjadi andalan di organisasi spionase ternama: H.T.U.V. (Honor, Trust, Unity and Valor). Yang dipimpin oleh seorang direktur wanita yang bernama Joy Jenkins (Reba McEntire).

Selain Sterling, H.T.U.V. juga memiliki dua orang pakar yang membantu para mata-mata dalam bertugas. Yaitu Eyes (Karen Gillan), yang merupakan spesialis di bidang spectral analysis and quantum optical thermography, dan Ears (DJ Khaled), yang merupakan spesialis di bidang komunikasi.

Sementara itu, untuk Sterling sendiri, bisa dibilang, pria berkulit hitam tersebut punya segalanya untuk dibanggakan. Selain ganteng dan karismatik, ia juga sangat cerdas. Namun, sayangnya, ia juga punya kelemahan besar. Yang biasanya memang dimiliki oleh para superstar seperti dirinya. Sterling dikenal sulit bekerja sama hampir dengan siapa pun. Karena merasa dirinya terlalu hebat untuk bisa bekerja bareng orang lain.

Termasuk, saat ia harus bekerja sama dengan Walter Beckett (Tom Holland). Seorang teknisi dan ilmuwan muda. Yang kikuk, naif, polos, dan melankolis, tapi jenius. Yang sering menciptakan peralatan canggih berteknologi tinggi. Yang biasanya dipakai untuk membantu para mata-mata dalam bertugas itu.

Yang menjadi musuh bebuyutan Sterling adalah Killian (Ben Mendelsohn). Seorang penjahat yang ahli dalam bidang teknologi dan bersenjata tangan bionic alias robot. Ia juga memiliki pasukan drone canggih yang bisa menyerang setiap orang. Sterling sudah lama memburunya.

Hingga pada suatu malam, terjadi sebuah masalah besar. Ketika Sterling secara tak sengaja meminum larutan kimia ciptaan Beckett. Yang ternyata berisi DNA burung dara. Sang mata-mata yang awalnya sekeren James Bond itupun langsung berubah: Menjadi seekor merpati.

Alhasil, Sterling, yang saat itu sedang menjalankan misi untuk meringkus Killian, mau tak mau harus bekerja sama dengan Beckett. Mereka harus menuntaskan tugas berbahaya tadi. Dan sekaligus berusaha mengembalikan wujud sang mata-mata menjadi manusia lagi.

Saat diwawancarai, duet sutradara Nick Bruno dan Troy Quane mengungkapkan, kisah Spies in Disguise yang mereka garap ini sebenarnya terinspirasi dari sebuah film animasi pendek. Yang berjudul Pigeon: Impossible (2009). Yang merupakan plesetan dari franchise mata-mata legendaris Mission: Impossible tersebut.

Menurut Troy Quane, lewat Spies in Disguise, mereka ingin membuat film mata-mata dengan konsep film keluarga. Tantangan terbesarnya, bagaimana membuat adegan action dan adventure yang seru, tapi anak-anak tetap terhibur dan bisa memahami alur ceritanya.

Film tentang mata-mata biasanya memang diperuntukkan bagi orang dewasa. Agar Spies in Disguise bisa dinikmati oleh seluruh keluarga, Nick Bruno mengaku sebisa-bisanya membuat adegan action yang ramah untuk anak-anak.

Tema dan jalan ceritanya mereka buat sederhana supaya mudah diikuti. Fokusnya tentang penyelamatan dunia. Yang nyambung dengan segala usia. Selain itu, mereka juga mempertegas inti ceritanya. Yakni menonjolkan hubungan persahabatan dan kerja sama.

Selain menggaet penonton anak-anak, Quane dan Bruno yang baru pertama kali menyutradarai sebuah film itu juga berusaha menjangkau audiens yang lebih luas. Mereka pun menggabungkan banyak elemen dari berbagai genre. Mulai dari dialog lucu khas film komedi, teknologi canggih dari fiksi ilmiah, aksi dan petualangan seru dari action adventure, hingga adegan emosional dari drama keluarga. Semuanya ada.

Bisa dibilang, Spies in Disguise adalah paket lengkap. Sebuah film action tentang mata-mata, tapi bikin tertawa. Kemasannya memang animasi, tapi bisa dinikmati oleh segala usia. Anak-anak dibikin tertarik dengan cerita mengenai burung dara cerdas yang bisa berbicara. Para remaja menyukai unsur petualangannya. Sedangkan orang dewasa terhibur oleh komedinya yang lucu dan aksinya yang seru.

Menurut Troy Quane, unsur komedi banyak ditonjolkan melalui interaksi Lance Sterling dan Walter Beckett. Dua orang dengan sifat bertolak belakang yang harus bekerja sama. Proses adaptasi dan saling memahami di antara keduanya bisa menjadi bahan lelucon yang seru.

Menurut Nick Bruno, karakter Sterling yang cerewet dan arogan memang mirip dengan Will Smith. Apalagi ketika ia berubah menjadi merpati. Bayangkan, ada seekor burung dengan suara Smith yang angkuh. Pasti sangat lucu dan komikal.

Selain Sterling yang mirip Smith, karakter Beckett juga menyerupai Tom Holland. Menurut Quane, sejak awal, mereka memang mencari pengisi suara yang sesuai dengan karakter masing-masing. Sterling yang karismatis, dinamis, keren, dan lucu sangat cocok dengan Smith. Begitu pula dengan Beckett. Yang masih muda, smart, dan konyol itu. Sangat pas dengan Holland.

Setelah memilih mereka, tim animasi pun berusaha membuat karakter yang mirip dengan keduanya. Menurut Quane, Smith dan Holland juga sangat asyik diajak berdiskusi. Masukan mereka sangat dalam dan detail. Mengingat karakter yang suaranya mereka isi memang terinspirasi dari mereka sendiri. Hasilnya, para penonton Spies in Disguise pun seolah melihat penampakan Will Smith dan Tom Holland versi animasi di layar bioskop.

Mengenai pemilihan burung merpati sebagai karakter utama, selain terinspirasi dari film pendek Pigeon: Impossible, menurut Nick Bruno, juga ada alasan khususnya. Yaitu merpati selama ini dikenal sebagai burung pemantau yang jarang menarik perhatian. Karakteristik yang sangat cocok dengan mata-mata.

Meski demikian, ada juga perbedaan yang cukup mencolok. Merpati adalah burung yang suka hidup berkelompok, sedangkan Lance Sterling cenderung penyendiri. Namun, perbedaan tersebut mereka kembangkan menjadi bahan cerita yang membikin Spies in Disguise lebih seru. Dalam film ini, kita juga melihat perubahan wujud yang ternyata bisa mendewasakan seseorang.

Menurut Bruno, tantangan terbesar sebagai sutradara dalam membuat film animasi action adalah harus bisa mengarahkan semua bagian. Sampai ke hal-hal terkecil. Apalagi, untuk adegan aksinya. Mereka harus tahu konsep angle dan pergerakan kamera, storyboard harus detail, serta penampakan karakter harus konsisten. Intinya, membuat film animasi dengan banyak pergerakan itu butuh kesabaran ekstra.

Upaya keras Nick Bruno dan Troy Quane dalam menghasilkan spy movie yang ramah keluarga akhirnya memang diapresiasi oleh para kritikus. Visualisasinya dipuji ciamik. Alur cerita yang disajikan juga bisa dinikmati oleh segala usia. Spies in Disguise dinilai telah menawarkan narasi yang berkesan. Yang bisa menjadi bahan pemikiran bagi anak-anak dan orang dewasa.

Selain itu, interaksi Will Smith dan Tom Holland sebagai voice cast juga dianggap sangat menghibur. Chemistry di antara keduanya sangat terasa. Padahal, saat diwawancarai, Smith dan Holland mengaku tidak pernah bertemu selama proses pengisian suara. Namun, Holland tetap merasa bisa mengenal Smith dengan baik lewat dialog-dialognya. Apalagi, bintang Spider-Man tersebut sebenarnya merupakan fans berat Smith.

Meski demikian, terlepas dari pujian-pujian tadi, bukan berarti Spies in Disguise bisa lolos dari kritik. Ada yang menganggap sutradara Nick Bruno dan Troy Quane memasukkan terlalu banyak elemen dalam film ini. Selain itu, ada beberapa lelucon yang dinilai tidak nyambung. Keduanya tampak bermain aman dengan menyajikan joke-joke yang ramah bagi para penonton muda.

Karena ini adalah tontonan untuk anak-anak, plot Spies in Disguise memang cukup klise dan mudah ditebak. Selain itu, juga ada yang menganggap premisnya sangat absurd: Bayangkan, ada “James Bond” yang berubah menjadi burung merpati. Yang dikejar lari, tapi dipegang malah berdiri.

Oh, maaf. Itu bukan burung merpati. Itu burung suami yang dipegang istri. Hehe..

***

Spies in Disguise

Sutradara: Troy Quane, Nick Bruno
Produser: Peter Chernin, Jenno Topping, Michael J. Travers
Penulis Skenario: Brad Copeland, Lloyd Taylor
Pengarang Cerita: Cindy Davis
Berdasarkan: Pigeon: Impossible by Lucas Martell
Pemain: Will Smith, Tom Holland, Rashida Jones, Ben Mendelsohn, Reba McEntire, Rachel Brosnahan, Karen Gillan, DJ Khaled, Masi Oka
Musik: Theodore Shapiro
Sinematografi: Renato Falcão
Editing: Randy Trager, Christopher Campbell
Produksi: Blue Sky Studios, 20th Century Fox Animation, Chernin Entertainment
Distributor: 20th Century Fox
Durasi: 101 menit
Genre: Action, Adventure, Animation, Comedy, Kids, Family
Klasifikasi Usia: PG (SU)
Budget: USD 100 juta
Rilis: 4 Desember 2019 (El Capitan Theatre), 25 Desember 2019 (Indonesia & Amerika Serikat)

Rating (hingga 4 Januari 2020)
Rotten Tomatoes – Tomatometer: 74% (Fresh)
Rotten Tomatoes – Audience Score: 91% (Fresh)
Metacritic: 54/100
CinemaScore: A-
PostTrak: 3,5/5
IMDb: 6,8/10
Edwin Dianto (Filmania): 6,5/10 (C)

***

Edwin Dianto
Pekerja Teks Komersial, Baper Blogger & Writer
E-mail: edwindianto@gmail.com
Blog: edwindianto.wordpress.com
Follow Twitter & Instagram @edwindianto & @filmaniaindo untuk info film-film terbaru.

Review Film: Spies in Disguise (2019)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s