The Man with the Turtleneck

Saya bukan pengguna iMac. Saya bukan pengguna iPod. Saya bukan pengguna iPhone. Saya bukan pengguna iPad yang fenomenal itu. Dan saya juga bukan pengguna produk-produk Apple lainnya. Pada dasarnya, saya memang bukan penggemar gadget-gadget canggih. Tetapi, saya adalah salah satu penggemar Steve jobs.

Ya, founder Apple yang terkenal dengan kaos black turtleneck, celana jeans Levi’s 501, dan sepatu abu-abu New Balance 992 itu adalah salah satu entrepreneur favorit saya, selain Richard Branson (founder Virgin). Saya ngefans sama Steve Jobs dan Richard Branson karena mereka memang nyentrik dan keren.

Kemarin, salah satu dari dua orang entrepreneur favorit saya itu telah pergi untuk selama-selamanya. Setelah berjuang melawan kanker prankreas sejak tahun 2004, akhirnya Steve jobs menyerah. Keturunan Arab-American yang juga seorang buddhist dan vegetarian itu beristirahat dalam damai di rumahnya, Palo Alto, California, dengan didampingi sang istri, Lauren Powell, dan anak-anaknya.

The Man with the Turtleneck itu kini telah tiada dan meninggalkan warisan berupa karya-karya inovatif yang telah mengubah dunia. Tapi, kita tidak perlu terlalu meratapi kematiannya. Sebab, enam tahun yang lalu, saat berpidato di acara wisuda Stanford University, dia pernah mengingatkan, kematian adalah penemuan terbaik dalam hidup.

“Death is very like the single best invention of life. It is life’s change agent. It clears out the old to make way for the new,” demikian kata Steve Jobs waktu itu.

RIP Steve Jobs.

***

Berikut ini saya sertakan catatan Azrul Ananda yang berjudul “Tetaplah Lapar, Tetaplah Bodoh”, untuk mengenang almarhum Steve Jobs, yang dimuat di Jawa Pos, edisi Jumat, 7 Oktober 2011.

Tetaplah Lapar, Tetaplah Bodoh

Catatan AZRUL ANANDA

Angkat tangan kalau Anda tidak ikut merasakan sentuhan Steve Jobs. Ketika mengangkat tangan, berpikirlah berulang-ulang: Benarkah Anda tidak pernah merasakan sentuhan Steve Jobs?

Anda mungkin tidak punya MacBook. Tidak punya iPod. Tidak punya iPad. Anda mungkin bahkan termasuk yang tidak suka produk-produk Apple.

Hebatnya, Anda tetap merasakan sentuhan Steve Jobs. Bahkan, pekerja bangunan yang tidak kenal komputer pun pernah merasakan sentuhan Steve Jobs.

Yang pasti, pembaca koran ini pasti ikut merasakan sentuhan Steve Jobs. Sebab, koran ini didesain pakai produk Apple. Kalaupun Anda membaca tulisan ini di salah satu dari ratusan koran Jawa Pos Group yang desainnya tidak memakai produk Apple, Anda tetap merasakan sentuhan Steve Jobs.

Mengapa? Karena tulisan ini diketik pakai MacBook Pro. Dan, yang menulis termasuk penggemar berat Steve Jobs sejak masih SMA dulu.

Belum lagi kalau Anda penggemar film buatan studio Pixar, seperti Toy Story dan Finding Nemo. Itu dulu yang membesarkan juga Steve Jobs. Bahkan, anak-anak kecil sekarang yang menikmati produk-produk Disney juga ikut merasakan sentuhan Steve Jobs. Kenapa? Karena, dialah chairman studio raksasa Amerika tersebut.

Lebih lanjut, Marvel Studio yang belakangan sering memunculkan film-film superhero di bioskop juga kena sentuhan Steve Jobs. Ini karena Marvel sudah dibeli Disney, dan sekali lagi, Steve Jobs pengendali Disney.

Gile. Semua hal keren di dunia ini berkaitan dengan Steve Jobs!

***

Sebenarnya, ada banyak orang yang lebih maniak Apple daripada saya. Ada banyak orang yang lebih paham soal produk-produk Apple daripada saya.

Padahal, saya termasuk pemakai Apple sejak SMA. Waktu masih menjadi siswa pertukaran di Ellinwood, Kansas, pada 1993-1994, saya sudah bekerja pakai Apple. Tim koran sekolah saya (Ellinwood Eagles) memang dilengkapi dengan seperangkat Apple.

Itu berlanjut sampai kuliah, ketika saya mengerjakan tugas-tugas memakai PowerPC (masih ingat?). Padahal, waktu itu tidak banyak yang memakai produk-produk Apple.

Saya kuliah di kawasan Northern California, di kawasan yang sama dengan Apple berada. Jadi, wajar kalau waktu itu saya juga mudah terekspose oleh produk-produk terbaru Apple.

Saya hanya “khilaf” beberapa kali. Sempat membeli komputer berbasis Windows waktu kuliah. Lalu sempat memakai laptop berbasis Windows ketika awal-awal full time di Jawa Pos pada awal 2000-an.

Saya “kembali ke jalan yang benar” pada 2004, setelah liputan grand prix Formula 1 di Shanghai, Tiongkok. Waktu itu, laptop merek Jepang saya disebut “seperti senjata” karena begitu banyak virusnya. Sampai dilarang dipakai sama sekali di media center Sirkuit Shanghai.

Sejak saat itu, saya tidak mau lagi malu, tidak mau lagi repot. Beli Apple terus.

Tapi, yang membuat saya ngefans sama Steve Jobs sebenarnya bukanlah produk-produknya. Saya ngefans karena orangnya memang cool. Saking ngefansnya, saya punya sepatu New Balance 992 “made in USA,” sepatu abu-abu yang selalu dipakai Steve Jobs bersama kaus turtleneck hitam dan celana jins Levi’s 501.

Salah satu film favorit saya adalah Pirates of Silicon Valley (1999), yang menceritakan masa muda dan kiprah Steve Jobs dan Bill Gates. Menceritakan bagaimana Apple dan Microsoft muncul dan berkembang.

Jobs, diperankan Noah Wyle (bintang serial TV E.R.), ditampilkan sebagai sosok yang perfeksionis, intens, dan emosional. Tapi keren. Keren seperti apa? Cari dan tonton sendiri filmnya!

Dan, yang paling keren, adalah cara Steve Jobs berbicara di depan umum, cara dia memperkenalkan produk-produk Apple.

Sebagai orang yang pernah mengenyam pendidikan pada jurusan marketing, apa yang dilakukan Steve Jobs saat presentasi merupakan segala hal yang semestinya kita pelajari saat ikut kelas-kelas speech (pidato). Cara mencari perhatian, cara mengundang tawa, cara memunculkan produk, dan cara mengakhirinya. Benar-benar tukang presentasi terbaik di dunia!

Herannya, pidato terbaik Jobs mungkin bukanlah perkenalan produk-produk Apple. Melainkan ketika pidato di acara wisuda Stanford University (juga di kawasan Northern California) pada 12 Juni 2005.

Mungkin, itulah pidato terbaik dalam sejarah. Paling tidak, terbaik yang pernah saya ketahui. Saat itu, Jobs berbicara soal perjalanan hidup, cinta dan kehilangan, serta kematian.

***

Tidak, saya tidak akan menerjemahkan seluruh isi pidato Steve Jobs di Stanford. Lagi pula, kalau diterjemahkan seluruhnya, tidak semua isinya bisa tersampaikan dengan baik dalam bahasa Indonesia.

Judulnya Stay Hungry, Stay Foolish (Tetaplah Lapar, Tetaplah Bodoh). Google saja, pasti ketemu pidato lengkapnya. Saya hanya ingin mengutip beberapa poin yang menurut saya paling keren dari pidato itu.

Pertama, bahwa hal-hal terkecil dalam hidup ini bisa menentukan jalan besar kita di masa mendatang. Drop out dari Reed College, Jobs justru mengambil kelas-kelas kaligrafi. Dari situlah Jobs mendapat inspirasi untuk menciptakan font-font indah dan sederhana pada produk-produk Apple.

“Seandainya saya tidak pernah ikut kelas (kaligrafi) itu, Mac mungkin tidak akan pernah punya banyak typefaces atau font yang proporsional. Dan, karena Windows hanyalah mengkopi Mac, kemungkinan tidak ada komputer yang memiliknya. Andai saya tidak pernah drop out, saya mungkin tak pernah mengambil kelas kaligrafi, dan komputer mungkin tak akan memiliki huruf-huruf indah itu,” begitu kata Jobs.

Yang paling bikin merinding adalah ketika Jobs bicara soal kematian.

“Ketika saya masih 17 tahun, saya membaca kutipan seperti ini: Kalau kita hidup seolah-olah setiap hari adalah hari terakhir, maka suatu hari kita akan benar.”

“Setiap pagi saya selalu melihat cermin dan bertanya pada diri sendiri: Kalau hari ini adalah hari terakhir dalam hidup saya, apakah saya ingin melakukan apa yang akan saya lakukan hari ini? Ketika jawabannya adalah “Tidak” terlalu sering, maka saya tahu saya harus berubah.”

“Mengingat bahwa saya akan segera mati adalah alat paling penting yang pernah saya temui, yang membantu saya membuat pilihan-pilihan besar dalam hidup. Karena hampir semua hal, segala ekspektasi dari luar, segala kebanggaan, segala rasa takut terhadap malu dan kegagalan, semua itu tidak ada apa-apanya di depan kematian. Mengingat bahwa kita akan segera mati adalah cara terbaik untuk lepas dari jebakan pola pikir, bahwa kita bakal kehilangan sesuatu. Kita ini sudah telanjang. Tidak ada alasan untuk tidak mengikuti isi hati.”

Kemudian:

“Tidak ada yang ingin mati. Bahkan, orang yang ingin pergi ke surga tidak ingin mati dulu sebelum sampai di sana. Tapi, kematian adalah tujuan kita semua. Tidak ada yang pernah berhasil lolos dari kematian. Dan, memang harus begitu. Kematian mungkin adalah penemuan terbaik kehidupan. Kematianlah yang bisa mengubah kehidupan. Mengosongkan yang lama dan memberi jalan untuk yang baru.”

“Saat ini, yang baru adalah Anda semua (para wisudawan Stanford, red). Tapi, tidak lama lagi, Anda pun akan jadi tua dan dibersihkan. Maaf harus menyampaikannya sedramatis ini, tapi begitulah kenyataannya.”

Di penutup pidatonya, Jobs mengutip The Whole Earth Catalog, ciptaan Steward Brand. Jobs menyebut itu sebagai “Google” era tersebut, memberi panduan hidup di saat dia masih berusia muda. Pada edisi penutup di pertengahan 1970-an, ada gambar jalan kosong menuju entah ke mana. Lalu ada tulisan: “Stay Hungry. Stay Foolish.”

Bila The Whole Earth Catalog memberikan pesan itu kepada Steve Jobs dan generasinya, Jobs melanjutkan pesan itu kepada para wisudawan (generasi muda). Bahwa masa depan entah seperti apa. Tapi, mereka bisa berupaya dan terus mencoba untuk mencapai sesuatu.

Steve Jobs kini telah tiada. Entah dari mana barang-barang keren serta ide-ide baru yang memperindah peradaban bakal muncul di masa mendatang. Mungkin Apple masih bisa menciptakan hal-hal yang mengejutkan. Mungkin juga tidak.

Tanpa Steve Jobs, kini dunia modern seolah menatap jalan kosong entah ke mana. (*)

iLegend
Advertisements
The Man with the Turtleneck

Mengenang 40 Tahun Kematian Sang Demonstran

Selain Gajah Mada dan Gus Dur, sosok asli Nusantara yang saya kagumi adalah Soe Hok Gie. Meski tercipta sebagai anak keturunan Tionghoa, Gie, begitu dia biasa disapa, adalah orang Indonesia tulen yang lahir, besar, dan wafat di bumi Nusantara.

Hari ini, tanggal 16 Desember 2009, tepat 40 tahun Soe Hok Gie meninggalkan dunia untuk selama-lamanya. Dia menemui ajalnya di puncak tertinggi di Pulau Jawa, Gunung Semeru, karena menghisap gas beracun, tanggal 16 Desember 1969, persis sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27.

Soe Hok Gie memang mati muda, tapi karya-karya tulisnya tidak pernah mati. Catatan hariannya, yang dibukukan dengan judul Catatan Seorang Demonstran, terbitan LP3ES tahun 1983, menginspirasi anak-anak muda di Indonesia. Ya, nama Gie bisa abadi dan akan tetap abadi karena dia menulis.

Gie memang seorang penulis yang sangat aktif pada jamannya. Tidak hanya sekedar mencoretkan pena atau mengetikkan sebuah catatan, tulisan-tulisannya sangat cerdas, menggugah, kritis, dan berani mendobrak belenggu yang mengekang pada saat itu. Gie, yang hidup pada zaman peralihan Orde Lama-Soekarnoisme menuju Orde Baru-Soehartoisme, berani memberikan kritik-kritik yang tajam terhadap dua rezim yang berkuasa tersebut.

Selain rajin mendokumentasikan perjalanan hidupnya dalam sebuah buku harian, Gie juga dikenal sebagai penulis produktif di beberapa media massa, misalnya Kompas, Harian Kami, Sinar Harapan, Mahasiswa Indonesia, dan Indonesia Raya. Sekitar 35 karya artikelnya (kira-kira sepertiga dari seluruh karyanya) selama rentang waktu tiga tahun Orde Baru, sudah dibukukan dan diterbitkan dengan judul Zaman Peralihan (Bentang, 1995).

Juga skripsi sarjana mudanya perihal Sarekat Islam Semarang, tahun 1999 diterbitkan Yayasan Bentang dengan judul Di Bawah Lentera Merah. Sebelumnya, skripsi S1-nya yang mengulas soal pemberontakan PKI di Madiun, juga sudah dibukukan dengan judul Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan (Bentang, 1997).

Gie, seorang sosialis yang dikenal dengan prinsipnya: “Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan”, pernah menulis seperti ini: “Saya mimpi tentang sebuah dunia, di mana ulama – buruh – dan pemuda, bangkit dan berkata – stop semua kemunafikan, stop semua pembunuhan atas nama apa pun. Tak ada rasa benci pada siapa pun, agama apa pun, dan bangsa apa pun. Dan melupakan perang dan kebencian, dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik.”

Sikap kritisnya mulai tumbuh ketika dia mulai berani mengungkit kemapanan. Misalnya, saat dirinya menjelang remaja, Gie menyaksikan seorang pengemis sedang makan kulit buah mangga. Dia pun merogoh saku, lalu memberikan uangnya yang cuma Rp 2,50 kepada pengemis itu. Di catatannya, ia menulis: “Ya, dua kilometer dari pemakan kulit mangga, ‘paduka’ kita mungkin lagi tertawa-tawa, makan-makan dengan istri-istrinya yang cantik-cantik. Aku besertamu orang-orang malang.”

Bacaan dan pelajaran yang diterimanya membentuk Gie menjadi pemuda yang percaya bahwa hakikat hidup adalah dapat mencintai, dapat iba hati, dan dapat merasai kedukaan itu.

Saat dirinya masuk korps dosen Fakultas Sastra, Jurusan Sejarah, Universitas Indonesia, secara blak-blakan, Gie pernah mengungkap ada dosen yang membolos 50% dari jatah jam kuliahnya. Bahkan, ada dosen menugaskan mahasiswa menerjemahkan buku. Terjemahan mahasiswa itu dipakainya sebagai bahan pengajaran, karena sang dosen ternyata tidak tahu berbahasa Inggris.

Dengan nada getir, Gie lantas menulis: “Hanya mereka yang berani menuntut haknya, pantas diberikan keadilan. Kalau mahasiswa Indonesia tidak berani menuntut haknya, biarlah mereka ditindas sampai akhir zaman oleh sementara dosen-dosen korup mereka.” Begitu tulis pemuda yang sampai akhir hayatnya tetap tak bisa mengendarai sepeda motor, apalagi nyupir mobil. “Gue cuma bisa naik sepeda, juga pandai nggenjot becak.”

Gie juga lebih memilih mendaki gunung bersama Mapala UI daripada berpolitik praktis seperti teman-temannya, mahasiswa aktivis angkatan ‘66, yang waktu itu banyak diangkat menjadi anggota DPR saat rezim Soeharto awal berkuasa. Gie lebih memilih bersikap independen dan kritis dengan semangat bebas daripada terkungkung oleh sangkar emas penguasa.

Ya, membicarakan tentang Soe Hok Gie memang tidak akan ada habisnya. Terlalu banyak realitas kehidupan yang bisa kita kupas. Yang pasti, saat ini Gie (dan Kartini) telah tiada. Saatnya bagi para pemuda-pemudi Indonesia menjadi Gie-Gie dan Kartini-Kartini baru. Mewarisi semangat dan kegigihan mereka yang tanpa pamrih, dengan menunjukkan karya nyata. Tidak harus lewat tulisan, tapi bisa lewat hal-hal positif lain yang sesuai dengan minat dan hasrat kita masing-masing.

Lebih baik hidup 100 hari, tapi penuh karya, daripada hidup 100 tahun tanpa berbuat apa-apa. Live for nothing, or die for something. Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan. Tunduk tertindas atau bangkit melawan, sebab mundur adalah pengkhianatan.

************************************************************************

Berikut ini adalah pandangan tentang Gie oleh kakak kandungnya, Arief Budiman (Soe Hok Djien), sosiolog terkenal yang juga seorang dosen dari Universitas Kristen Satya Wacana di Salatiga, seperti yang dimuat dalam buku Catatan Seorang Demonstran edisi 1993.

Pengantar buku Catatan Seorang Demonstran (oleh: Arief Budiman)

Ada dua hal yang membuat saya sulit untuk menulis tentang almarhum adik saya, Soe Hok Gie. Pertama, karena terlalu banyak yang mau saya katakan, sehingga saya pasti akan merasa kecewa kalau saya menulis tentang dia pada pengantar buku ini. Kedua, karena bagaimanapun juga, saya tidak akan dapat menceritakan tentang diri adik saya secara obyektif. Saya terlalu terlibat di dalam hidupnya. Karena itu, untuk pengantar buku ini, saya hanya ingin menceritakan suatu peristiwa yang berhubungan dengan diri almarhum, yang mempengaruhi pula hidup saya dan saya harap, hidup orang-orang lain juga yang membaca buku ini.

Saya ingat, sebelum dia meninggal pada bulan Desember 1969, ada satu hal yang pernah dia bicarakan dengan saya. Dia berkata, “Akhir-akhir ini saya selalu berpikir, apa gunanya semua yang saya lakukan ini. Saya menulis, melakukan kritik kepada banyak orang yang saya anggap tidak benar dan yang sejenisnya lagi. Makin lama, makin banyak musuh saya dan makin sedikit orang yang mengerti saya. Dan kritik-kritik saya tidak mengubah keadaan. Jadi apa sebenarnya yang saya lakukan? Saya ingin menolong rakyat kecil yang tertindas, tapi kalau keadaan tidak berubah, apa gunanya kritik-kritik saya? Apa ini bukan semacam onani yang konyol? Kadang-kadang saya merasa sungguh-sungguh kesepian.”

Saya tahu, mengapa dia berkata begitu. Dia menulis kritik-kritik yang keras di koran-koran, bahkan kadang-kadang dengan menyebut nama. Dia pernah mendapat surat-surat kaleng yang antara lain memaki-maki dia sebagai “Cina yang tidak tahu diri, sebaiknya pulang ke negerimu saja”. Ibu saya sering gelisah dan berkata: “Gie, untuk apa semuanya ini? Kamu hanya mencari musuh saja, tidak mendapat uang.” Terhadap ibu, dia cuma tersenyum dan berkata, “Ah, mama tidak mengerti.”

Kemudian, dia juga jatuh cinta dengan seorang gadis. Tapi orangtuanya tidak setuju – mereka selalu dihalangi untuk bertemu. Orangtua gadis itu adalah seorang pedagang yang cukup kaya dan Hok Gie sudah beberapa kali bicara dengan dia. Kepada saya, Hok Gie berkata: “Kadang-kadang, saya merasa sedih. Kalau saya bicara dengan ayahnya si…, saya merasa dia sangat menghargai saya. Bahkan dia mengagumi keberanian saya tanpa tulisan-tulisan saya. Tetapi kalau anaknya diminta, dia pasti akan menolak. Terlalu besar risikonya. Orang hanya membutuhkan keberanian saya tanpa mau terlibat dengan diri saya.” Karena itu, ketika seorang temannya dari Amerika menulis kepadanya: “Gie, seorang intelektual yang bebas adalah seorang pejuang yang sendirian. Selalu. Mula-mula, kau membantu menggulingkan suatu kekuasaan yang korup untuk menegakkan kekuasaan lain yang lebih bersih. Tapi sesudah kekuasaan baru ini berkuasa, orang seperti kau akan terasing lagi dan akan terlempar keluar dari sistem kekuasaan. Ini akan
terjadi terus-menerus. Bersedialah menerima nasib ini, kalau kau mau bertahan sebagai seorang intelektual yang merdeka: sendirian, kesepian, penderitaan.” Surat ini dia tunjukkan kepada saya. Dari wajahnya saya lihat dia seakan mau berkata: “Ya, saya siap.”

Dalam suasana yang seperti inilah dia meninggalkan Jakarta untuk pergi ke puncak Gunung Semeru. Pekerjaan terakhir yang dia kerjakan adalah mengirim bedak dan pupur untuk wakil-wakil mahasiswa yang duduk di parlemen, dengan ucapan supaya mereka bisa berdandan dan dengan begitu akan tambah cantik di muka penguasa. Suatu tindakan yang membuat dia tambah terpencil lagi, kali ini dengan beberapa teman-teman mahasiswa yang dulu sama-sama turun ke jalanan pada tahun 1966.

Ketika dia tercekik oleh gas beracun kawah Mahameru, dia memang ada di suatu tempat yang terpencil dan dingin. Hanya seorang yang mendampinginya, salah seorang sahabatnya yang sangat karib. Herman Lantang. Suasana ini juga yang ada, ketika saya berdiri menghadapi jenazahnya di tengah malam yang dingin, di rumah lurah sebuah desa di kaki Gunung Semeru. Jenazah tersebut dibungkus oleh plastik dan kedua ujungnya diikat dengan tali, digantungkan pada sebatang kayu yang panjang, Kulitnya tampak kuning pucat, matanya terpejam dan dia tampak tenang. Saya berpikir: “Tentunya sepi dan dingin terbungkus dalam plastik itu.” Ketika jenazah dimandikan di rumah sakit Malang, pertanyaan yang muncul di dalam diri saya ialah: “Apakah hidupnya sia-sia saja?” Jawabannya saya dapatkan sebelum saya tiba kembali di Jakarta.

Saya sedang duduk ketika seorang teman yang memesan peti mati pulang. Dia tanya, apakah saya punya keluarga di Malang? Saya jawab, “Tidak. Mengapa?” Dia cerita, tukang peti mati, ketika dia ke sana bertanya, untuk siapa peti mati ini? Teman saya menyebut nama Soe Hok Gie dan si tukang peti mati tampak agak terkejut. “Soe Hok Gie yang suka menulis di koran?” Dia bertanya. Teman saya mengiyakan. Tiba-tiba, si tukang peti mati menangis. Sekarang giliran teman saya yang terkejut. Dia berusaha bertanya, mengapa si tukang peti mati menangis, tapi yang ditanya terus menangis dan hanya menjawab, “Dia orang berani. Sayang, dia meninggal.”

Jenazah dibawa oleh pesawat terbang AURI, dari Malang mampir di Yogya dan kemudian ke Jakarta. Ketika di Yogya, kami turun dari pesawat dan duduk-duduk di lapangan rumput. Pilot yang mengemudikan pesawat tersebut duduk bersama kami. Kami bercakap-cakap. Kemudian bertanya, apakah benar jenazah yang dibawa adalah jenazah Soe Hok Gie. Saya membenarkan. Dia kemudian berkata: “Saya kenal namanya. Saya senang membaca karangan-karangannya. Sayang sekali dia meninggal. Dia mungkin bisa berbuat lebih banyak, kalau dia hidup terus.” Saya memandang ke arah cakrawala yang membatasi lapangan terbang ini dan khayalan saya mencoba menembus ruang hampa yang ada di balik awan sana. Apakah suara yang perlahan dari penerbang AURI ini bergema juga di ruang hampa tersebut?

Saya tahu, di mana Soe Hok Gie menulis karangan-karangannya. Di rumah di Jalan Kebon Jeruk, di kamar belakang, ada sebuah meja panjang. Penerangan listrik suram, karena voltase yang selalu turun kalau malam hari. Di sana juga banyak nyamuk. Ketika orang-orang lain sudah tidur, seringkali masih terdengar suara mesin tik dari kamar belakang Soe Hok Gie, di kamar yang suram dan banyak nyamuk itu, sendirian, sedang mengetik, membuat karangannya. Pernahkah dia membayangkan bahwa karangan tersebut akan dibaca oleh seorang penerbang AURI atau oleh seorang tukang peti mati di Malang? Tiba-tiba, saya melihat sebuah gambaran yang menimbulkan pelbagai macam perasaan di dalam diri saya. Ketidakadilan bisa merajalela, tapi bagi seorang yang secara
jujur dan berani berusaha melawan semua ini, dia akan mendapat dukungan tanpa suara dari banyak orang. Mereka memang tidak berani membuka mulutnya, karena kekuasaan membungkamkannya. Tapi kekuasaan tidak bisa menghilangkan dukungan-dukungan itu sendiri, karena betapa kuat pun kekuasaan, seseorang tetap masih memiliki kemerdekaan untuk berkata “Ya” atau “Tidak”, meskipun cuma di dalam hatinya.

Saya terbangun dari lamunan saya ketika saya dipanggil naik pesawat terbang. Kami segera akan berangkat lagi. Saya berdiri kembali di samping peti matinya. Di dalam hati saya berbisik, “Gie, kamu tidak sendirian.” Saya tak tahu apakah Hok Gie mendengar atau tidak apa yang saya katakan itu. Suara pesawat terbang mengaum terlalu keras.

Gie, Sang Demonstran.
Mengenang 40 Tahun Kematian Sang Demonstran

Miyabi, Success is Passion

Seringkali kita bilang kepada orang lain bahwa kita ingin sukses. Seringkali kita berkata bahwa kita ingin berhasil. Setiap orang yang normal pasti ingin berhasil dan sukses dalam hidupnya. Pertanyaannya, kesuksesan seperti apakah yang kita inginkan? Keberhasilan seperti apakah yang Anda semua inginkan?

Banyak orang yang bingung ketika ditanya tentang kesuksesan. Rata-rata mereka semua kebingungan mendefinisikan arti keberhasilan terhadap dirinya masing-masing. Tidak sedikit juga yang akhirnya malah mengikuti orang lain karena dirinya sendiri belum punya standar yang pasti apa itu yang disebut sukses. Tidak ada yang salah dengan hal ini. Minimal, mereka sudah sadar bahwa sukses bukan hanya sekedar dikejar, tapi juga harus dimaknai, meskipun masih mengikuti makna dari orang lain.

Kenapa kita harus memaknai sebuah kesuksesan? Jawabannya, karena tidak ada seorang pun yang tahu makna sukses sejati untuk Anda, kecuali Anda sendiri. Sukses itu sangat personal dan masing-masing berbeda makna karena setiap orang memiliki keinginan-keinginan dan impian-impian yang berbeda pula. Setiap orang memiliki minat, hasrat, dan gairah yang berbeda-beda terhadap sesuatu. Minat, hasrat, dan gairah inilah yang akan menentukan kesuksesan kita. SUCCESS IS PASSION.

Richard Branson bisa sukses sebagai seorang entrepreneur karena dia memiliki passion yang besar terhadap bidang yang dia geluti. Dia selalu mengerjakan proyek bisnisnya dengan hasrat yang bergelora. Itulah yang membuat dia menjadi salah satu pengusaha tersukses di muka bumi ini. Baginya, bisnis adalah gairah, bisnis adalah tantangan, dan dia sangat suka menghadapi sesuatu yang menantang.

Raditya Dika juga bisa sukses sebagai penulis best-seller karena dia sangat berhasrat dengan bidang tulis-menulis. Buku-buku absurdnya semacam Kambingjantan, Cinta Brontosaurus, Radikus Makankakus, dan Babi Ngesot, laris manis di pasaran serta sukses menyesatkan banyak orang ke jalan yang benar. Itu semua karena kehebatannya menulis yang tumbuh dari HASRATNYA. Dan kabarnya, sebentar lagi dia bakal main film komedi dengan Miyabi a.k.a. Maria Ozawa, bintang film porno paling terkenal dari Jepang. Saya sendiri kurang tahu, apakah Miyabi bisa sukses sebagai bintang film panas karena hasratnya pada film biru?

Oleh karena itu, bila Anda ingin sukses, temukan bidang-bidang yang membuat Anda berminat, berhasrat, dan bergairah. Jangan takut kalau Anda menjadi berbeda dengan orang lain sepanjang bidang yang Anda geluti benar-benar sesuatu yang Anda inginkan. Jangan juga terkekang oleh opini publik atau pendapat umum yang mengatakan bahwa sesuatu yang Anda pilih tersebut adalah pekerjaan yang aneh atau tidak bermasa depan. Satu-satunya pilot yang berhak menentukan kemana pesawat akan diterbangkan adalah Anda sendiri.

Miyabi. Success is passion?
Miyabi. Success is passion?
Miyabi, Success is Passion

Zizi oh Zizi..

Pagelaran Miss Universe 2009 di Bahamas sudah usai tadi pagi WIB. Yang dinobatkan sebagai Miss Universe yang baru adalah Stefania Fernandez, dari (lagi-lagi) Venezuela. Gadis berusia 18 tahun itu menggantikan Dayana Mendoza (MU 2008) yang juga berasal dari Venezuela.

Yang menarik dari MU 2009 ini adalah keikutsertaan wakil dari Indonesia, yaitu Zivanna Letisha Siregar (Putri Indonesia 2008), yang akrab disapa Zizi. Sebelum malam final digelar, Zizi tercatat menduduki rating nomor 1 dalam polling online via internet di MU 2009. Hal ini sempat membuncahkan harapan bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, penikmat kontes ratu ayu sejagat, termasuk saya.

Tetapi, apa mau dikata, unggulan di dunia maya ternyata tidak menjadi jaminan di dunia nyata. Zizi bahkan tidak mampu menembus 15 besar (prestasi yang pernah dicapai oleh Artika Sari Dewi pada MU beberapa tahun yang lalu). Kecewa? Jelas. Saya sudah membayangkan Zizi mampu masuk minimal 5 besar. Apalagi melihat fisiknya yang aduhai ketika mengenakan bikini, saya menyangka Zizi mampu bersaing dengan putri-putri yang lainnya.

Ya, inilah Miss Universe. Penampilan fisik saja tidak cukup. Beauty, breast, dan bikini bukan yang utama. Para juri di malam final tahu betul tentang hal itu. Mereka tidak hanya menilai tampak luarnya saja, tetapi juga brain dan behaviour. Ketangkasan dalam menjawab pertanyaan, kepercayaan diri yang tercermin dalam body language, cara berjalan, cara berbicara, adalah beberapa hal yang menjadi penilaian utama.

Kita bisa melihat Venezuela. Negeri yang terkenal dengan kontes ratu-ratuan ini seperti tidak pernah kering bakat untuk menjadi Miss Universe. Saya pernah membaca kalau di Venezuela banyak bertebaran sekolah-sekolah khusus untuk mencetak calon-calon ratu-ratu sejagat. Jadi, mereka memang betul-betul serius menghadapi event tahunan ini dan sudah menjadi sebuah industri tersendiri di negeri Hugo Chavez tersebut.

Oleh karena itu, bila kita masih ingin melihat wakil kita menjadi Miss Universe selanjutnya, tidak ada salahnya meniru Venezuela. Ingat, Jepang dan India sudah pernah merebut mahkota tersebut. Sebagai negara Asia, Indonesia juga tidak kalah berbakat dibanding mereka. Yang diperlukan hanya pembinaan berjenjang ala Venezuela. Masa kita harus mengirim Julia Perez, Dewi Perssik, Sarah Azhari atau Farah Quinn ke Miss Universe? 😀

Zivanna Letisha Siregar (Indonesia) yang paling kiri.
Zivanna Letisha Siregar (Indonesia) yang paling kiri.
Zizi oh Zizi..

Resep Menghadapi Para Pembenci

Cristiano Ronaldo alias CR7 (dijuluki CR7 karena suka menggunakan kostum bernomor 7) mungkin adalah pemain sepak bola yang paling terkenal saat ini. Selain itu, yang pasti, CR7 adalah pemain termahal di dunia menyusul megatransfernya dari MU ke Real Madrid senilai 1,3 triliun rupiah lebih. Sebuah harga yang fantastis bagi seorang ‘gladiator’ di era modern seperti sekarang.

Selain kaya dan terkenal, pemain sepak bola terbaik di dunia tahun 2008 ini juga mempunyai banyak penggemar dan banyak pula pembencinya. Yang menggemari, selain kaum adam, mayoritas juga kaum hawa yang ‘tersepona’ dengan kegantengan dan ke-’macho’-an seorang Ronaldo.

Nah, untuk kaum pembencinya, baru-baru ini muncul pernyataan menarik dari pemuda asal Portugal ini, yang banyak dilansir oleh media-media massa di dunia. Memang, semenjak kabar megatransfer ke Real Madrid beredar, penggemar-penggemar Ronaldo makin bertambah, tak mau kalah juga pembenci-pembencinya. The Ronaldo’s Haters menyatakan bahwa CR7 adalah orang yang tidak loyal (tega meninggalkan MU dan Alex Fergusson yang sudah memberikan banyak gelar baginya) dan hanya mendewakan uang.

CR7 sendiri bukannya tidak tahu akan hal itu. Dia sudah siap menghadapi risiko tersebut menyusul kepindahannya ke El Real. Bahkan, dia tidak peduli jika makin banyak orang yang membencinya. Dia menyatakan siap dicaci dan siap dibenci. Berikut ini adalah petikan pernyataannya saat diwawancarai majalah Prancis, So Foot.

“Saya suka jika ada yang mengejek saya. Saya suka melihat kebencian dari mata mereka yang membenci saya dan saya senang mendengar mereka mengejek saya. Itu sama sekali tidak mengganggu.”

Memang, pernyataan itu terkesan seperti sombong, khas seorang CR7. Arogansi inilah yang membuat banyak orang membencinya. Tetapi, kali ini kita harus objektif dan menyatakan setuju dengan Ronaldo.

Dalam menyikapi kebencian, hinaan, atau hal-hal negatif lainnya, seringkali kita responsif dan balik bersikap negatif pula, seperti marah, ngamuk, menangis, bahkan menuntut orang yang menghina kita karena pencemaran nama baik.

Lewat kata-katanya itu, Ronaldo sudah mengajarkan kepada kita untuk selalu berusaha bersikap positif. Tidak ada gunanya membalas kritikan, kebencian, ejekan dan hinaan yang ditujukan kepada kita. Malah sebaliknya, kita harus menyukainya dan jangan sampai terganggu karenanya. Lihat sisi positifnya. Makin dikritik, makin menarik. Makin dibenci, makin banyak yang menggemari. Makin dihina, makin banyak pula yang membela. CR7 sudah membuktikannya.

Resep Menghadapi Para Pembenci