Suka menulis konten tentang film, buku, sains populer, teknologi, investasi, ekonomi digital, sejarah, sepak bola, dia (tentu saja), dan hal-hal menarik lainnya. Forever a student of the game. Omnia mea mecum porto. Om mani padme hum. 🙏
Sejumlah film calon blockbuster sudah menanti para filmania pada tahun 2026 ini. Salah satunya adalah Street Fighter. Yang dirilis di bioskop-bioskop di Indonesia pada 14 Oktober 2026. [BELI TIKET]
Berikut ini adalah film-film baru yang diprediksi bakal tayang di IMAX pada 2026:
Bandung, akhir era 1990-an. Saat itu, aku masih mahasiswa di sebuah universitas swasta. Sebagai anak rantau alias anak kos-kosan, uang jajan aku pas-pasan. Kadang, harus menghitung sisa uang di dompet sebelum memutuskan untuk membeli nasi goreng tek-tek atau menunggu kiriman uang dari rumah.
Pada masa itu, internet belum seramai sekarang. Hanya ada Yahoo! dan mIRC. “ASL pls..” Hanya generasi millennials yang paham. Heuheuheu.. Belum ada vlogger di YouTube yang bisa menjelaskan teori ekonomi dalam lima menit. Belum ada influencer keuangan di TikTok yang setiap hari membahas saham, crypto, investasi, atau kebebasan finansial.
Saat itu, kalau ingin belajar, ya, membaca buku. Pada masa itulah, aku mulai sering berlama-lama di perpustakaan, toko buku, atau pasar buku bekas di Jl. Palasari, Bandung. Tujuannya: untuk membaca buku secara gratis. Heuheuheu..
Sebuah film biasanya ditunggu karena ceritanya. Tapi ada juga yang ditunggu karena pemainnya. Dan ada pula yang ditunggu karena kenangannya. Film Street Fighter termasuk dalam kategori yang terakhir. Bahkan, mungkin, ketiganya.
Street Fighter aslinya adalah fighting video game legendaris yang dirilis pada 30 Agustus 1987. Usianya bahkan lebih tua daripada Mortal Kombat (1992) dan Tekken (1994). Ceritanya tentang dua petarung jalanan, Ryu dan Ken Masters, yang mengikuti turnamen martial arts di berbagai negara di dunia.
Ada orang yang pendapatannya Rp15 juta sebulan, tapi rumahnya seharga Rp2 miliar. Ada yang gajinya Rp10 juta sebulan, tapi mobilnya seharga Rp500 juta. Dan ada yang penghasilannya cuma Rp5 juta sebulan, tapi HP-nya seharga Rp15 juta.
Kelihatannya keren, memang. Tapi ada satu pertanyaan yang sering dilupakan: berapa lama kita harus bekerja untuk membayar harga barang-barang tersebut?
Itu pertanyaan yang sederhana. Tapi jawabannya bisa mengubah cara kita membeli rumah, mobil, motor, dan bahkan HP.
Proyek kerja sama alias joint venture adalah hal yang biasa dalam dunia bisnis. Dua perusahaan raksasa membuat pabrik, lalu memproduksi chip. Selesai.
Namun, proyek kerja sama Sony Group Corporation (SONY) dan Taiwan Semiconductor Manufacturing Company Limited (TSMC) di Kumamoto, Jepang, rasanya, bukan cerita yang sesederhana itu, Ferguso. Ini seperti Jepang sedang mengatakan: kalau masa depan adalah Artificial Intelligence (AI) yang bisa “melihat” dan bergerak di dunia nyata, maka Jepang ingin ikut memiliki “mata”-nya.
Pada tahun 2026 ini, ada satu saham yang membuat banyak investor menoleh dua kali. Namanya: BlackBerry.
Ya, BlackBerry Limited, perusahaan teknologi asal Kanada yang didirikan oleh Mike Lazaridis dan Douglas Fregin pada 7 Maret 1984 (sebelumnya bernama Research In Motion Limited atau RIM), yang dulu terkenal karena telepon genggam warna item dengan keyboard kecil itu. Yang, kalau dipencet, bunyinya “tek-tek-tek-tek-tek” itu. Dengan layanan aplikasi pesan instant BBM (BlackBerry Messenger)-nya yang legendaris itu.
Suka menulis konten tentang film, buku, sains populer, teknologi, investasi, ekonomi digital, sejarah, sepak bola, dia (tentu saja), dan hal-hal menarik lainnya. Forever a student of the game. Omnia mea mecum porto. Om mani padme hum. 🙏