Tidak Ada yang Aman

Awal bulan Juni tahun 2009 yang lalu, raksasa otomotif asal Amerika, General Motors (GM) dinyatakan bangkrut. Krisis finansial yang membelit Amerika akhirnya membuat GM menyerah dan terpaksa menyatakan dirinya pailit, seperti yang sudah dialami oleh Lehman Brothers, perusahaan raksasa di bidang keuangan, beberapa waktu sebelumnya.

Dari bangkrutnya GM dan Lehman Brothers, kita bisa menarik pelajaran bahwa tidak ada yang betul-betul aman di dunia ini. Bayangkan, bila perusahaan sekelas mereka bisa runtuh apalagi perusahaan yang lebih kecil. Bukannya menakut-nakuti, hanya mengingatkan supaya kita tetap waspada dan mawas diri.

Saya jadi teringat dengan seorang teman saya beberapa waktu yang lalu. Saat itu dia menolak tawaran saya untuk berwirausaha karena dia merasa sudah aman bekerja di sebuah perusahaan yang menurutnya cukup besar. Dia tidak mau susah-susah merintis bisnis dengan saya karena sudah merasa nyaman dengan posisinya sekarang. Dia merasa masa depannya sudah terjamin dan perusahaan tempatnya bekerja tidak mungkin bangkrut.

Anda mungkin ingat dengan kapal Titanic. Kapal yang diciptakan “tidak mungkin” tenggelam itu, ternyata harus “menyerah” gara-gara menabrak gunung es yang tidak terlihat di tengah lautan. Problem yang berbahaya memang problem yang tidak terlihat dan tidak terduga sebelumnya.

Oleh karena itu, apa pun profesi Anda saat ini, ada baiknya Anda menyiapkan sebuah sekoci penyelamat. Sekedar untuk berjaga-jaga jika “kapal” yang Anda tumpangi tenggelam sewaktu-waktu. Ingat, kapal secanggih (kala itu) Titanic pun bisa tenggelam. Tidak ada yang aman di dunia ini, terutama bila Anda masih bekerja sebagai orang gajian. Saya tahu, ini memang sebuah kabar buruk bagi Anda yang mendambakan keamanan.

Memang, tidak ada yang salah bekerja sebagai karyawan, sepanjang perusahaan dimana Anda bekerja masih tegak berdiri. Tetapi, tidakkah Anda berpikir bahwa suatu saat “Titanic Tragedy” juga bisa menimpa kapal yang Anda naiki? Karena itu, “sekoci penyelamat” sangat mutlak Anda perlukan. Dan Saudara-Saudara, sekoci penyelamat itu adalah wirausaha alias entrepreneurship.

Banyak orang berpikir bahwa berwirausaha itu sulit dan butuh modal besar. Berita baiknya, pandangan seperti itu adalah pandangan yang salah. Becoming an entrepreneur is easy! Menjadi seorang wirausahawan itu ternyata mudah! Tidak percaya?

Mungkin Anda berpikir bahwa berwirausaha itu harus membangun sebuah perusahaan sekelas GM atau sebesar perusahaan saat ini Anda bekerja. Anda salah! Berwirausaha bisa dimulai dari hal-hal yang kecil. Dari yang kecil itu, bila Anda tekuni, akan menjadi suatu yang besar. Banyak cara untuk memulai usaha kecil-kecilan (yang nantinya akan menjadi besar).

Berikut ini adalah beberapa bidang usaha yang bisa Anda pilih sebagai “sekoci penyelamat” di saat krisis:
Pembawa acara (bagi yang suka cuap-cuap di depan umum),
Penulis/blogger (mungkin bisa jadi the next Raditya Dika),
Makelar (broker, istilah kerennya, ada broker property, broker saham, broker valas, dll),
Sales (apa aja bisa dijual, asal jangan jual diri :p),
Agen penjualan/marketing (ada agen asuransi, agen property, dsb),
Distributor MLM (sangat direkomendasikan, karena modalnya minimal, tapi potensinya sangat luar biasa, dan menurut survey, ini adalah profesi termahal di Indonesia).
Masih kurang?

Ada banyak alternatif lainnya:
Tukang cuci mobil/motor (kenapa harus gengsi?),
Pemilik perangkat multimedia (saat ini banyak seminar-seminar yang membutuhkan multimedia),
Tukang sablon (apalagi kalo lagi musim pemilu),
Pemilik lahan parkir (mungkin punya lahan ngganggur),
Pemilik tempat kost (terutama di daerah kampus),
Pemilik warnet (manfaatkan demam facebook dan twitter),
Tukang isi ulang pulsa hp (puluhan juta orang saat ini menggunakan hp),
Fotografer (bagi yang hobby ceprat-cepret),
Komikus/kartunis (yang hobby corat-coret),
Tukang cukur rambut (bisa buka di bawah pohon kalau masih belum punya tempat),
Pembuat website/situs jejaring sosial (mungkin bisa mengikuti jejak Mark Zuckerberg, kreatornya Facebook, usianya masih 20-an tahun),
Bisnis seminar & motivator (seperti Andrie Wongso),
Bisnis property (bisnis ini akan selalu bernilai besar karena Tuhan tidak menciptakan tanah yang baru, kalau tidak percaya, tanya sama Donald Trump),
Bisnis publishing/penerbitan (apalagi kalau buku yang diterbitkan bisa meledak seperti Laskar Pelangi),
Bisnis pendidikan finansial (ingin meniru Robert T. Kiyosaki?),
Bisnis investasi (meskipun saat ini pasar sedang lesu, tapi badai pasti berlalu),
Pengamat kuliner (yang hobby makan bisa mengikuti jejak Bondan “mak nyus” Winarno),
Juru masak (seperti William Wongso atau Farah Quinn),
Pemilik restoran/gerai makanan (yang muda-muda bisa mengikuti jejak Hendy “Kebab Baba Rafi” Setiono),
Pelawak (mau tahu berapa penghasilannya Tukul Arwana?),
Penyanyi (Delon-Delon baru?),
Caleg (asal tahan stress dan kuat mental supaya tidak gila kalau gagal),
dan masih buanyak lagi.

Pokoknya, selama tidak berdosa, LAKUKAN! (meminjam motto-nya Julianto Eka Putra, billionaire muda, pengusaha, penulis dan motivator terkenal dari Surabaya).

Satu yang pasti, sedia payung sebelum hujan. Siapkan sekoci sebelum kapal tenggelam. Lakukan sekarang juga selagi masih ada kesempatan.

To Finish First, You Must First Finish

Bagi seorang pembalap, memenangkan lomba adalah tujuan utamanya. Untuk bisa memenangkan lomba, seorang pembalap harus mencapai garis finish terlebih dahulu dibandingkan pembalap-pembalap lainnya. Sederhana sekali.

Bila memenangkan lomba sangat sederhana, kenapa banyak pembalap yang tidak bisa melakukannya? Jawabannya: Mencapai garis finish terlebih dahulu memang sederhana, tetapi yang sulit adalah terus membalap puluhan lap (putaran) dengan konsisten untuk menyelesaikan lomba.

Bukanlah suatu pekerjaan sederhana untuk tetap fokus dan berkonsentrasi berjam-jam dalam menyelesaikan suatu lomba. Seorang pembalap dituntut untuk tidak membuat kesalahan sekecil apa pun saat lomba. Bila lengah satu detik saja, nyawa adalah taruhannya. Kesalahan-kesalahan hanya boleh dilakukan saat simulasi lomba (biasanya menggunakan program komputer mirip video game). Di sana, para pembalap bisa menabrakkan mobil berkali-kali tanpa takut kehilangan nyawa.

Seseorang bernama Jenson Button, tahun 2009 yang lalu, sudah membuktikannya. Dalam ajang balap mobil F1, pembalap yang waktu itu membela tim Brawn-GP berhasil menjadi juara dunia untuk pertama kalinya. Sebuah prestasi yang dihasilkan berkat kerja keras, fokus, dan konsistensi.

Bagi Jenson Button, prinsip yang berlaku adalah: To finish first, you must first finish. Untuk mencapai garis finish pertama kali, terlebih dahulu Anda harus mampu menyelesaikan lomba. Jadi, tidak ada artinya bila Anda membalap dengan cepat, lalu tiba-tiba mobil Anda ngadat di tengah jalan sebelum Anda menyelesaikan lomba, atau mungkin Anda kehilangan fokus dan menabrakkan mobil saat memimpin lomba. Semuanya menjadi sia-sia belaka.

Demikian juga dalam kehidupan ini, bila Anda mempunyai suatu tujuan, jangan sampai Anda kehilangan fokus dan menabrak “dinding” di tengah jalan. Lebih cepat belum tentu lebih baik kalau Anda “membalap” secara ngawur. Jangan berpikir untuk cepat-cepatan terlebih dahulu, berpikirlah untuk menyelesaikan lombanya. Itu yang paling penting.

Bila Anda saat ini sedang mengejar suatu posisi dalam karir Anda, jangan hanya fokus untuk cepat-cepat mencapai posisi itu, tetapi fokuslah juga bagaimana Anda bisa terus bertahan dalam menyelesaikan PROSES untuk mencapai posisi itu. Banyak sekali orang yang grusa-grusu, ingin cepat, ingin instant, ingin duluan, ingin terlihat hebat karena dia menjadi yang pertama, tetapi hasilnya dia menyerah di tengah jalan. Mobilnya mogok karena terus-terusan digeber sampai lupa mengisi bensin, atau karena terlalu bernafsu, akhirnya lengah dan menabrak dinding pengaman.

Kesimpulannya, kehidupan ini bukan hanya balap adu cepat, tetapi juga adu ketahanan, adu konsistensi, adu konsentrasi, dan harus diselesaikan dalam puluhan lap (putaran), bukan hanya satu lap saja. Jenson Button sudah mengajarkan banyak hal kepada saya. Dan saya harap, Anda juga bisa belajar darinya.

Jenson Button (AP Photo)

Sekelumit tentang Jenson Button

Jenson Button adalah seorang pembalap berbakat. Dia mengawali karirnya di F1 tahun 2000. Sayangnya, dia banyak membalap untuk tim-tim kecil dan menengah, bukan tim kaya seperti Ferrari, sehingga bakatnya seperti tersia-siakan.

Bukan itu saja masalah yang dihadapi Jenson Button. Pada musim balap tahun 2009, hampir saja dia pensiun karena tim yang dibelanya, Honda F1 Racing, mengundurkan diri akibat krisis finansial global.

Satu yang saya yakini, Tuhan tidak pernah tinggal diam melihat umatNya yang sudah berusaha. Honda F1 Racing akhirnya dibeli secara patungan oleh konsorsium yang dipimpin mantan karyawannya (Ross Brawn, Direktur Teknik dan Kepala Perancang Honda F1 Racing) dan namanya berubah menjadi Brawn-GP.

Dengan dana yang pas-pasan dan tanpa sponsor, kecuali Virgin Group-nya Richard Branson (karena itu warnaya putih bersih, tidak seperti tim-tim lain yang warna-warni), tim yang saat itu merupakan tim termiskin di F1, melanjutkan perjuangannya di ajang balap mobil paling bergengsi di dunia, F1 Racing.

Jenson Button sendiri tidak jadi pensiun, dia tetap membalap untuk Brawn-GP meskipun gajinya harus dipotong (mungkin termasuk yang paling rendah di antara para pembalap F1 saat itu). Bagi dia, membalap adalah hidupnya. Bahkan, mungkin dia rela tidak dibayar asal bisa tetap membalap di F1.

Saat ini, Jenson Button sudah menjadi seorang juara dunia dan membalap untuk tim besar, McLaren, dan menjadi satu-satunya pembalap yang mampu mengganggu dominasi Sebastian Vettel musim ini. Ketenangannya dalam melahap sirkuit membuatnya lebih unggul daripada Lewis Hamilton yang jauh lebih muda dan lebih berbakat. Musim depan, saya yakin Jenson Button mampu berbuat lebih banyak bersama McLaren.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.